
Zeroun mengerutkan dahinya sebelum menerima foto yang baru saja diberikan oleh Shabira. Ia menggenggam foto itu dan tidak langsung melihat isinya. Pria berusia 28 tahun itu masih fokus memandang Shabira dengan tatapan curiga.
“Kau tidak tertarik untuk melihat foto itu, Zeroun?” Kenzo menggenggam tangan Shabira. Ia tahu, apa yang saat ini dirasakan oleh Shabira.
Zeroun mengukir senyuman tipis sebelum membalik foto yang kini ada di hadapannya. Suasana berubah hening dan menjadi sangat menegangkan. Shabira dan Kenzo fokus memperhatikan respon yang akan diucapkan oleh Zeroun saat ini.
“Serena!” teriak Daniel histeris.
Monitor detak jantung Serena melemah, Serena bernapas dengan sangat berat. Matanya masih terpejam.
“Erena!” Zeroun beranjak dari kursi roda dengan wajah khawatir. Foto itu ia genggam dengan erat tanpa peduli dengan gambar yang ada.
“Aku akan memanggil dokter.” Kenzo berlari cepat ke arah pintu.
“Kak Erena.” Shabira kembali meneteskan buliran air mata, saat melihat keadaan Serena yang tiba-tiba memburuk.
“Sayang, apa yang terjadi?” Daniel menggenggam tangan Serena dengan wajah panik.
Dalam waktu singkat, Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan itu.
“Permisi, Tuan. Sebaiknya anda menunggu di luar. Saya akan memeriksa keadaan Nona Serena.” Dokter itu menarik pergelangan tangan Serena, memeriksa denyut nadi yang lemah.
Zeroun menggenggam erat seprei tempat tidur Serena. Ia menahan rasa sakit pada lukanya dan rasa sakit di dalam hatinya karena melihat kondisi Serena saat ini.
“Tuan, sebaiknya anda kembali ke kamar anda untuk istirahat. Luka anda masih basah.” Satu perawat wanita membujuk Zeroun agar mau kembali duduk pada kursi rodanya.
“Saya bisa jalan sendiri.” Zeroun berjalan cepat meninggalkan kamar Serena.
Kenzo menarik tubuh Shabira untuk meninggalkan ruangan itu. Ia memandang ke arah Daniel yang masih mematung dengan wajah sedih.
“Daniel, sebaiknya kita percayakan semua pada dokter. Serena akan baik-baik saja.”
Dengan wajah frustasi, Daniel berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
Kenzo membawa Shabira ke arah kursi yang ada di depan ruangan itu. Beberapa pengawal S.G.Group menunduk hormat saat melihat Daniel keluar dari ruangan itu.
“Dimana Zeroun?” Kenzo mencari-cari Zeroun yang tidak terlihat.
“Tuan Zeroun berjalan ke arah sana, Tuan.” Satu pengawal menjawab pertanyaan Kenzo.
Kenzo hanya menarik napas dalam sebelum duduk di samping Shabira. Daniel duduk di kursi yang bersebrangan dengan Kenzo dan Shabira. Ia menunduk sedih sambil memejamkan mata.
“Apa yang terjadi dengan Kak Erena?” tanya Shabira dengan deraian air mata.
“Sayang, jangan menangis seperti ini. Semua akan baik-baik saja.” Kenzo menghapus buliran air mata yang membasahi pipi Shabira. Menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya.
Semua orang kembali diam dan mengucapkan doa untuk Serena di dalam hati. Hanya sang pencipta yang menjadi tempat mencurahkan hati mereka saat ini.
***
Di atas gedung Rumah Sakit.
Zeroun berdiri di ujung bangunan menatap ke arah gedung-gedung tinggi yang ada di hadapannya. Cahaya lampu di malam hari terlihat sangat indah. Angin berhembus dengan kencang menusuk tubuhnya. Pria yang masih mengenakan pakaian pasien itu menggenggam erat foto yang ada di tangannya kini.
Ia kembali mengingat ucapan Lukas sebelum ia masuk menemui Serena.
.
.
.
“Selamat sore, Bos. Anda sudah sadar, bagaimana keadaan anda saat ini?” Lukas berdiri di samping tempat tidur Zeroun dengan wajah bahagia.
“Anda terkena dua tembakan di bagian dada, Bos. Peluru itu sudah berhasil dikeluarkan oleh Dokter. Luka di perut anda juga sudah dijahit ulang karena infeksi.” Lukas menjelaskan keadaan Zeroun saat ini.
“Bagaimana dengan Erena?” Satu-satunya orang yang ia khawatirkan hanya Erena. Zeroun masih mengingat jelas saat Serena melindunginya dari tembakan. Tubuh Serena terjatuh di lantai, sebelum tembakan berikutnya menyerang dirinya.
“Nona Erena belum sadarkan diri, Bos. Kondisinya sempat kritis. Tapi sekarang sudah kembali stabil.”
“Aku ingin melihat keadaannya.” Zeroun memaksakan tubuhnya untuk beranjak dari tempat tidur.
“Bos, Dokter melarang anda untuk keluar dari ruangan ini. Anda baru saja ….” ucapan Lukas terhenti saat Zeroun membalas ucapannya dengan tatapan tajam.
Lukas membungkuk hormat dengan penuh rasa bersalah, “Maafkan saya, Bos. Sebaiknya anda gunakan kursi roda agar luka anda tidak terbuka.”
Tanpa menunggu persetujuan Zeroun, Lukas mengambil kursi roda yang tersedia di ruangan serba putih itu.
“Apa kau sedang meremehkan kemampuanku, Lukas. Apa kau pikir aku butuh kursi roda seperti itu?” Zeroun masih belum mau melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi roda itu.
“Bos, Apa anda tidak ingin bertemu dengan Zetta?” ucap Lukas pelan.
Zeroun memandang wajah Lukas dengan tatapan tidak terbaca. Jantungnya berdebar kencang, aliran darahnya juga berubah cepat.
“Apa yang kau katakan, Lukas? Aku tidak ingin kau memberiku harapan lagi. Kita sudah mencarinya, tapi tidak pernah berhasil menemukannya,” jawab Zeroun dengan wajah sedih.
“Adik anda sudah ditemukan, Bos. Dia ada di dekat anda selama ini.” Lukas mengukir senyuman penuh harap.
“Katakan, apa yang sebenarnya terjadi. Dimana Zetta saat ini? aku ingin menemuinya.” Zeroun sudah tidak sabar untuk mendengar kabar bahagia saat itu.
“Bos, anda kehilangan banyak darah. Golongan darah anda sangat langkah, hingga pihak rumah sakit tidak memiliki stok untuk golongan darah anda. Nona Shabira satu-satunya orang yang memiliki golongan darah dengan anda. Dokter memeriksa DNA anda dan Nona Shabira, hasilnya positif kalau anda dan Nona Shabira adalah saudara kandung.” Lukas menarik napas sebelu melanjutkan ucapannya.
“Nona Shabira dan Kenzo juga sudah mengetahui semua ini. Saya sudah melakukan pengecekan ulang dan hasilnya sama, Nona Shabira adalah Zetta, Bos. Adik yang selama ini anda cari.” Lukas masih menggenggam kursi roda itu. Menatap wajah Zeroun dengan seksama.
Zeroun mengukir senyuman tipis, “Shabira adalah Zetta?” Zeroun menatap wajah Lukas dengan tatapan tajam.
“Shabira berasal dari Queen Star. Apa itu berarti Queen Star adalah geng mafia yang selama ini kita cari. Pembunuh bayaran yang dikirim seseorang untuk membunuh keluargaku? geng mafia yang dipimpin oleh wanita yang aku cintai, adalah geng mafia yang selama ini ingin aku bantai habis!” Zeroun mengepal kuat tangannya.
“Bos, saya akan segera menyelidiki semua ini secepatnya. Apapun yang akan terjadi, Shabira tetap Zetta adik kandung anda, Bos.” Lukas tahu, apa yang saat ini dirasakan oleh Zeroun.
Zeroun tidak lagi bisa mengeluarkan kata. Ia beranjak dari duduknya dan melangkah pelan kearah kursi roda. Duduk di atas kursi roda yang sejak tadi disediakan oleh Lukas.
“Aku ingin melihat keadaan Erena,” perintah Zeroun singkat.
“Baik, Bos.” Lukas mendorong kursi roda itu meninggalkan ruang rawatnya.
***
Kembali ke atas gedung.
Zeroun memandang foto bocah kecil berusia 3 tahun. Buliran air mata menetes di pipinya, saat ia bisa menemukan adik yang selama ini ia cari. Sejak pertama kali ia bertemu Shabira di ruang rawat Serena, ia sudah memandang Shabira sebagai Zetta.
“Zetta, kenapa kita harus bertemu dengan cara seperti ini?” Zeroun tersenyum tipis, menghapus air matanya dengan cepat.
“Seharusnya aku menarikmu ke dalam pelukanku tadi. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Apa yang akan kau lakukan terhadap Erena, jika semua perpisahan ini terjadi karena Mafia yang selama ini dipimpin oleh Erena. Apa kau akan membenci Erena?”
Zeroun kembali mengingat pembantaian yang ia lakukan terhadap ketua mafia Queen Star yang lama beberapa tahun yang lalu. Meskipun ia berhasil menembak ketua Queen Star yang lama, namun ia tidak berhasil menemukan jasadnya.
Jejak wanita itu hilang sebelum Zeroun berhasil menemukan Zetta dan mengetahui identitas mafia yang yang berada di balik pembunuhan keluarganya. Ia tahu kalau geng mafia itu masih tetap jaya, digantikan oleh sosok wanita berbahaya. Zeroun tidak pernah menyadari, kalau ia sudah jatuh cinta dengan wanita yang meneruskan Mafia Queen Star.
“Aku bahkan bersumpah untuk membalaskan dendam keluarga kita, jika berhasil menemukan identitas geng Mafia itu.” Zeroun mengepal kuat tangganya. Ia tidak akan sanggup untuk membunuh Serena demi membalaskan dendam keluarganya selama ini.
Zeroun memandang ke arah langit yang dipenuhi taburan bintang. Cahaya rembulan juga menerangi kota itu pada malam hari.
“Apa kau mengetahui semua ini, Erena?” Zeroun memejamkan matanya saat mengingat wajah Serena.