Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 3



Rumah Utama Daeshim Chen.


Hari telah berganti. Matahari telah muncul ke permukaan dengan begitu cerah. Suara kicauan burung terdengar begitu merdu memenuhi halaman yang dipenuhi dengan bunga-bunga warna-warni. Shabira berdiri di tengah-tengah taman bunga dengan memegang satu gunting untuk memotong bunga mawar yang bermekaran.


Bibirnya tersenyum dengan begitu indah. Sejak dulu, seperti inilah hidup yang selalu ia impikan. Setelah mengantar pria yang sangat ia cinta pergi bekerja, ia akan pergi berkelilig di halaman samping untuk memetik bunga. Bunga itu akan ia rangkai dengan begitu indah agar wanginya menyambut setiap orang yang datang berkunjung.


“Selamat Pagi, Nona Shabira.” Seseorang memecah suasana bahagia Shabira pagi itu. Pria berbadan tegab telah berdiri di belakangnya dengan senjata terselip di samping pinggang. Pria tua itu menunduk hormat saat Shabira memutar tubuh dan memandang wajahnya.


“Apa anda kepala pengawal yang dikirim Kenzo untuk menjaga rumah ini?” Shabira menaikan satu alisnya.


“Benar, Nona. Tuan Kenzo meminta saya untuk melakukan semua perintah Nona Shabira.” Pria itu masih menundukkan kepalanya tanpa berani memandang wajah sang majikan.


Shabira mengangguk pelan sebelum memutar tubuhnya. Wanita itu melanjutkan aktifitasnya untuk memetik bunga mawar yang bermekaran.


“Berapa pasukan yang kau punya?” Shabira bertanya tanpa mau memandang.


“25 orang, Nona.”


“Bawa mereka semua ke sini. Aku ingin melihat kualitas yang kalian punya.” Shabira tersenyum kecil. Sudah lama dia tidak mendengar suara letusan senjata api.


“Baik, Nona.” Pria itu membungkuk sebelum pergi meninggalkan halaman itu.


Shabira memandang bunga-bunga mawar yang ada di taman. Mawar-mawar itu ikut bergoyang saat angin menerpa batangnya. Tiba-tiba saja muncul satu ide yang membuat senyum indah terukir di wajahnya.


“Sepertinya mawar-mawar ini sangat tepat jika di jadikan sasaran tembakan.”


Tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu. Kini semua pasukan yang dimiliki pria itu telah berbaris rapi dibelakangnya. Satu pistol berwarna hitam yang sangat kilat telah terselip rapi di samping pinggang.


“Nona, apa yang harus kami kerjakan pagi ini?” Pria itu memandang wajah Shabira untuk menunggu perintah.


Shabira tersenyum, “Keluarkan pistolmu.” Mengulurkan tangan di hadapan pria itu.


“Hati-hati, Nona. Saya takut anda terluka.” Pria itu tidak mengetahui latar belakang Shabira.


Di dalam pikirannya hanya satu, kalau Shabira Nona muda Daeshim Chen yang lemah dan tak berdaya. Maka dari itu butuh perlidungan ekstra. Tidak pernah terlintas dipikiran pengawal-pengawal itu kalau Shabira penembak jitu dengan ilmu bela diri yang terlatih.


“Saya mau, tiap orang menembak 1 bunga mawar yang ada di taman ini. Jika tidak berhasil, kalian harus mengulangnya hingga berhasil.” Shabira membidik satu bunga mawar berwarna merah.


DUARR!


“Jika berhasil kalian boleh bekerja di rumah ini.” Shabira tersenyum dan melempar senjata api itu kepada pria yang berada tidak jauh dari posisinya.


Tembakan Shabira yang tepat sasaran membuat mata semua orang melebar karena tidak percaya. Suara tepuk tangan terdengar dengan wajah takjub dari setiap pengawal.


“Nona, anda sangat hebat.” Pria itu tersenyum lebar.


“Karena kau yang dipilih Kenzi untuk memimpin pasukan ini, maka Aku ingin melihat tembakanmu lebih dulu.” Shabira melipat kedua tangannya di depan dada.


“Sa-saya, Nona?” Menelan saliva dengan jari menunjuk ke arah wajah.


“Ya,” jawab Shabira sambil memandang bunga-bunga yang akan ia pilih menjadi sasaran.


“Bunga mawar yang warna merah muda itu.” Shabira menunjuk bunga mawar yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.


“Itu bahkan terlalu dekat, awas saja kalau Kau tidak bisa menembaknya,” ancam Shabira sambil menyipitkan kedua matanya.


“Ba-baik, Nona.” Pria itu mulai memandang bunga mawar yang dipilih Shabira.


Jantungnya berdebar dengan begitu cepat. Tangannya gemetar dengan keringat yang berkucur deras.


DUARR!


“Bagus!” Shabira menepuk tangan sebagai penghargaan untuk pria itu.


“Musuh kita selalu bergerak seperti bunga-bunga ini. Kalian sudah bisa mulai latihan. Kau yang akan memilih anggotamu pagi ini. Ingat pesanku, pilih pengawal yang berpotensi bukan asal-asalan.”


“Baik, Nona.”


Shabira memutar tubuhnya dengan wajah tenang. Wanita itu memilih masuk kedalam rumah untuk merangkai bunga yang sudah memenuhi keranjangnya. Beberapa pengawal baru itu memandang kepergian Shabira sambil menggelengkan kepala.


“Nona muda wanita yang hebat.”


“Lihatlah tubuhnya terlihat kuat dan bertenaga. Sangat berbeda dari Nona muda tempatku bekerja dulunya.”


“Sudah, sudah. Sekarang saatnya latihan. Ingat! Nona muda tidak akan memberikan ijin untuk bekerja di rumah ini jika kalian tidak bisa melewati tantangan ini.”


Semua pasukan mulai fokus dan mengelurkan senjata mereka masing-masing. Masing-masing mulai membidik bunga mawar dengan penuh semangat. Terdengar suara tembakan yang begitu ramai dari arah taman bunga itu.


Sedangkan Shabira di dalam rumah tersenyum sambil merangkai bunga-bunga mawar itu.


“Kalian sudah terlihat kaget saat disuruh menembak bunga itu. Padahal bunga itu tidak akan bisa membalas tembakan kalian. Bagaimana jika kalian menghadapi musuh yang begitu nyata. Pengawal bayaran sangat berbeda dengan komplotan mafia.” Shabira melanjutkan rangkaian bunganya hingga selesai.


***


Di rumah utama Edritz Chen.


Serena terlihat tersenyum memetik apel merah favoritnya di halaman belakang. Kali ini ia juga dijaga oleh beberapa pengawal dan pelayan wanita yang telah berbaris rapi. Tidak satu orangpun yang diperbolehkan untuk memetik. Serena ingin memetik sendiri buah apel yang ingin ia makan.


“Nona, sudah terlalu banyak yang anda petik. Saya takut anda terlalu lelah nantinya.” Satu pelayan wanita berusaha membujuk Serena pagi itu.


“Diamlah. Jangan ganggu Aku.” Serena masih terus fokus pada buah-buah Apel yang tidak terlalu tinggi itu. Sesekali wanita itu tertawa saat mendengar ocehan-ocehan lucu Daniel yang terdengar melalui Handsfree.


Serena menghentikan aktifitasnya saat melihat sesuatu yang mencurigakan. Wanita itu memandang sekeliling kebun dengan mata yang begitu waspada. Beberapa pengawal mengelurkan senjata saat mendengar hal yang sama dengan Serena. Semua berlari untuk melindungi posisi Serena pagi itu.


“Keluarlah!” teriak Serena dengan sorot mata yang begitu tajam.


Seseorang muncul dari salah satu pohon yang tidak terlalu jauh dari posisi Serena berdiri.


“Nona, apa anda ingin membunuh Pak Tua ini.” Pak Sam menggaruk kepalanya yang tertutup topi koki.


“Pak Sam, apa yang anda lakukan di tempat ini?” Serena berjalan mendekati posisi Pak Sam.


“Selamat Pagi, Nona. Maaf sudah mengganggu anda.” Pak Sam menunduk hormat saat Serena berdiri di hadapannya.


“Anda belum menjawab pertanyaan saya.”


“Maaf, Nona. Saya sering tidur di kebun apel ini. Angin di sini berhembus dengan sangat kencang dan sejuk. Selain itu tempat ini jarang dikunjungi oleh penghuni rumah. Setiap kali selesai memasak sarapan, saya selalu pergi ketempat ini untuk bersantai.” Pak Sam mengukir senyuman ramah.


“Pak Sam, anda sudah lama bekerja di rumah utama?” Serena terlihat tertarik untuk mengorek informasi dari Pak Sam.


[Sayang, apa yang mau kau ketahui?]


“Diamlah! jadilah pendengar setia,” jawab Serena sambil tersenyum.


Pak Sam mengeryitkan dahi dengan wajah bingung, “Anda berbicara dengan siapa Nona?”


“Nyamuk,” jawab Serena cepat.


[Sayang, apa Aku ini seperti seekor nyamuk di matamu?]


Serena tidak lagi peduli dengan omelan Daniel. Wanita itu duduk di atas rumput sambil bersandar di bawah pohon apel. Memandang langit biru yang begitu cerah.


“Pak Sam, Saya sudah cukup lama menikah dengan Daniel dan menjadi Nona Muda di rumah ini. Tapi, tidak pernah tahu, bagaimana cerita masa lalu rumah ini. Seperti bagaimana Tama dan Biao hadir. Bagaimana Daniel tumbuh menjadi pria yang angkuh seperti itu. Dan … bagaimana Mama dan Papa bisa hidup dengan segala kesulitan yang ada.”


“Nona ingin Saya menceritakan kenangan-kenangan yang ada di rumah utama ini?” Pak Sam memandang kemegahan rumah utama milik keluarga Edritz Chen itu.


“Bisa di bilang seperti itu. Apa Pak Sam mau menceritakannya denganku?” Serena memandang wajah Pak Sam dengan penuh harap.


“Anda Nona di rumah ini. Saya juga akan menuruti permintaan anda.”


“Terima kasih, Pak Sam. Saya ingin ceritanya di mulai dari Biao dan Tama. Bukankah mereka yang sangat menarik perhatian?”


Pak Sam tersenyum ramah sebelum menceritakan semuanya. Sedangkan Daniel hanya bisa diam dan pasrah dengan cerita yang akan dikeluarkan oleh Pak Sam.


Kita buat alur santai aja di sini ya...,😊