Mafia's In Love

Mafia's In Love
Rahasia Biao Part. 5



Tok… Tok…


Ketukan cepat segera ia layangkan, agar sang pemilik kamar segera keluar untuk menemuinya saat ini. Pintu itu dengan cepat terbuka, saat Adit belum mengucapkan satu katapun.


“Dokter Adit, untuk apa anda ada di sini?” tanya Biao yang tidak lagi mengenakan seragam resminya.


“Bisa kita bicara sebentar, Biao?” ucap Adit penuh harap.


“Baiklah, silahkan masuk tuan.”


Membuka lebar pintu itu, memberi jalan kepada Adit untuk masuk.


“Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam kamar ini,” ucap Adit pelan.


Sebuah kamar yang tidak terlalu luas, namun terlihat sangat mewah. Beberapa buku tersusun rapi di rak buku kecil yang terletak di samping meja kerja sederhana milik Biao. Satu buah tempat tidur dan beberapa keperluan Baio sudah tersusun rapi di dalam sana.


“Apa yang anda inginkan, tuan?” tanya Biao tanpa basa-basi.


“Apa yang terjadi? kenapa Daniel bilang kalau Serena seorang mafia?” Menjatuhkan dirinya pada sebuah sofa.


Tanpa ingin menutupi semua rahasia yang telah terjadi, Biao mulai menceritakan semua kejadian itu.


.


.


.


“Bagaimana mungkin kau dan Tama memikirkan semua rencana itu?” tanya Adit tidak percaya setelah mendengar penjelasan Biao.


“Itu semua terjadi secara cepat tuan,” jawab Biao pelan.


“Baiklah, sudah terlalu malam. Aku harus segera pulang.” Adit beranjak dari duduknya.


“Terima kasih, tuan.” Membungkuk hormat.


Adit kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang ke rumah. Hari ini pikirannya telah dipenuhi dengan masalah keluarga besar Edritz Chen. Di awali Serena yang pulang dari rumah sakit, hingga Ny. Edritz yang jatuh pingsan.


Masalah ini belum pernah terjadi sebelumnya. Keluarga Edritz Chen, terkenal dengan hidup harmonis dan tanpa masalah. Namun, masalah itu datang silih berganti sejak satu bulan terakhir ini.


***


Di dalam kamar, Serena baru saja menghabiskan makan malamnya di kamar. Lemahnya kondisi Serena saat ini, membuat dirinya lebih memilih makan di dalam kamar. Hatinya terus saja memikirkan Daniel, yang sejak tadi tidak kunjung kembali.


Serena sempat melihat Daniel keluar kamar dan mendengar pembicaraan singkat antara Biao dan Daniel. Hanya saja, ia tidak terlalu mengerti maksud dari pembicaraan keduanya.


“Apa dia sudah makan?” ucap Serena pelan yang masih saja memandang ke arah pintu.


Serena beranjak dari duduknya dan melangkah pelan menuju ke arah pintu. Tangannya sudah memegang handle pintu untuk keluar dari kamar. Namun, lagi-lagi ia mengurungkan niatnya untuk keluar.


“Sebenarnya apa yang ia lakukan di luar sana,” keluh Serena lagi, dan masih berdiri mematung di depan pintu.


Ceklek,


Suara pintu yang tiba-tiba terbuka, membuat Serena kaget.


“Kau!” celetuk Serena.


“Kenapa kau berdiri di sini!” ucap Daniel yang juga kaget.


“Aku mau keluar, apa boleh?” pinta Serena pelan.


“Tidak!” jawab Daniel singkat yang langsung berlalu pergi menuju ke arah kamar mandi.


Tadi dia baik-baik saja, kenapa sekarang kembali seperti dulu lagi.


Di dalam kamar mandi, Daniel memilih untuk berendam dengan air hangat. Daniel memejamkan matanya, untuk kembali menenangkan pikirannya. Status Serena sebagai seorang mafia, terus saja mengiang di dalam pikirannya.


Daniel teriak dengan kencang di dalam kamar mandi, untuk melampiaskan emosinya saat ini. Teriakan Daniel yang sangat kuat terdengar oleh Serena, Serena segera berlari ke kamar mandi untuk melihat keadaan Daniel di dalamnya.


“Daniel, apa yang terjadi? buka pintunya! apa kau baik-baik saja?” Sambil terus mengetuk-ngetuk pintu.


“Pergi Serena! aku tidak ingin bertemu denganmu!” teriak Daniel dari dalam.


“Daniel,” Menghentikan ketukan pintunya.


“Kenapa kau bicara seperti itu Daniel? apa salahku?” ucap Serena pelan dan berlari keluar dari kamar.


Serena terus saja berlari cepat menuruni anak tangga. Air matanya terus saja menetes hingga membuat matanya terlihat membengkak. Entah kemana tujuannya saat ini, Serena terus berlari ke arah taman yang berada di belakang.


Beberapa pengawal yang melihat Serena, ikut berlari mengikuti langkah Serena. Sementara satu pengawal lainnya, memanggil Tama yang kini ada di dalam kamarnya.


Tok… tok…


“Permisi, tuan,” ucap pengawal itu yang terus mengetuk pintu kamar Tama.


“Ada apa? apa yang terjadi?” tanya Tama bingung saat melihat pengawal itu terlihat khawatir.


“Nona muda tuan,” ucapnya terbata-bata.


“Ada apa dengan nona Serena?” tanya Tama yang semangkin panik.


“Nona Serena berlari ke arah taman, sambil menangis tuan,” sambungnya lagi.


Tanpa banyak kata lagi, Tama segera berjalan menuju ke arah taman belakang. Pikirannya kembali pada peristiwa yang baru saja terjadi, beberapa saat yang lalu.


“Apa tuan Daniel telah mengatakan semuanya, pada nona Serena,” gumam Tama dalam hati.


Di taman, Serena terlihat duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari kolam renang. Tangisnya semangkin pecah, saat pikirannya kembali mengingat prilaku kasar Daniel. Sikap yang di miliki Daniel, sejak pertama kali mereka menikah.


“Kenapa kau begitu jahat padaku Daniel,” ucap Serena dengan suara yang semangkin serak.


“Nona,” ucap Tama tiba-tiba.


“Ada apa? aku tidak ingin di ganggu.”


Serena masih tidak perduli dengan sosok yang kini ada di belakangnya. Namun, satu suara yang tidak asing dalam hidupnya, membuat hatinya kembali mengingat sang pemilik nama.


“Tama,” tebak Serena pelan, yang masih belum ingin membalikkan posisi duduknya.


“Benar nona, ini saya,” jawab Tama dengan senyuman.


Serena masih tidak percaya, saat mendengar kalimat yang baru saja di katakan oleh Tama. Serena membalikkan tubuhnya secara perlahan, untuk memastikan sosok yang ada di belakangnya bukan hanya khayalan. Matanya terbelalak kaget, hingga tubuhnya terjatuh dari kursi yang kini ia duduki.


“Nona, apa anda baik-baik saja,” ucap Tama khawatir, dan melangkah mendekat untuk menolong Serena yang kini telah terjatuh di atas rumput.


“Apa kau benar Tama? Bukannya kata mama ….” ucapannya terhenti, tangannya memegang pinggang yang kini terasa sakit.


“Saya masih hidup nona, mari saya bantu nona.” Mengulurkan tangan untuk membantu Serena bangkit.


“Apa kematian itu, satu lelucon,” ucap Serena kesal dan menyambut uluran tangan Tama.


“Apa ada yang terluka, nona?” tanya Tama khawatir.


“Tidak, aku baik-baik saja,” jawab Serena pelan, “Apa aku sedang bermimpi?” Menepuk-nepuk kedua pipinya.


“Tidak nona, saya Tama. Saya masih hidup,” jawab Tama lagi untuk memastikan.


“Benarkah?” mencubit pipi Tama dengan kuat.


“Apa yang anda lakukan nona?” tanya Tama bingung.


“Aku hanya memastikan, kalau kau benar masih hidup.”


“Kenapa nona Serena ada di sini?” tanya Tama lagi.


Serena mengusap beberapa air mata yang masih tersisa di pipinya. Bibirnya kembali tersenyum untuk menutupi perasaannya saat ini.


“Aku hanya ingin duduk di sini,” jawab Serena penuh kebohongan.


“Anda baru saja pulang ke rumah, nona. Sebaiknya anda banyak istirahat di kamar.”


Serena hanya tersenyum pahit, ketika mendengar penyataan Tama saat ini. Hatinya kembali mengingat Daniel, yang tidak pernah memiliki rasa peduli terhadap dirinya.


“Nona,” sapa Tama lagi, yang melihat Serena sedang melamun.


“Aku masih ingin berada di sini,” jawab Serena singkat, yang kembali duduk pada sebuah kursi besi berwarna putih.


Sebelum lanjut, like dan komen dulu.