Mafia's In Love

Mafia's In Love
Dilema Serena



Adit dan Serena sudah berada di kamar Ny. Edritz. Wajah Serena berubah sedih, saat melihat sosok ibu mertua yang sangat ia sayangi, kini berbaring lemah di atas ranjang.


“Mama, apa yang terjadi?” tanya Serena dengan raut wajah cemas.


“Serena,” ucap Ny. Edritz pelan, dan berusaha bangkit dari tidurnya.


Tuan Edritz membantu Ny. Edritz untuk bersandar di sebuah bantal. Adit mulai mendekat ke arah Ny. Edritz, untuk memeriksa kesehatannya pagi ini.


“Apa kepala anda masih terasa sakit, Nyonya?” Memegang tangan Ny. Edritz untuk memeriksa tekanan darahnya.


“Aku sudah lebih baik,” jawab Ny. Edritz singkat.


“Kenapa papa tidak memberitahu Serena, kalau mama sedang sakit?” protes Serena yang kini sudah berada di dekat kaki Ny. Edritz.


“Di mana Daniel, Serena?” tanya Ny. Edritz pelan.


“Daniel sudah pergi ke kantor, sejak tadi ma,” jawab Serena sedih.


“Apa kalian baik-baik saja?” tanya tuan Edritz penasaran.


Serena hanya diam menundukkan kepalanya ke bawah. Serena tidak berani, untuk menceritakan sikap Daniel tadi malam. Hatinya di penuhi rasa khawatir, terhadap kesehatan Ny. Edritz saat ini.


“Serena, apa Daniel mengatakan sesuatu padamu?” tambah Ny. Edritz.


Serena hanya mengangguk pelan, untuk membenarkan pernyataan Ny. Edritz saat ini. Namun bibirnya, masih belum ingin menceritakan yang telah terjadi.


“Apa yang Daniel katakan, Serena?” tanya tuan Edritz cepat.


Adit hanya berdiri diam, untuk mendengarkan pembicaraan ketiganya. Hatinya juga di penuhi rasa cemas, saat menunggu pernyataan yang akan di katakan oleh Serena saat ini.


“Serena, katakan,” pinta Ny. Edritz lirih.


“Serena tidak tahu, kenapa Daniel sangat benci pada Serena.” Masih dengan posisi menunduk, ucapannya terhenti sebentar untuk menarik nafas dalam, “Ini semua karena Tama,” sambungnya kesal.


“Tama? ada apa dengan Tama?” tanya Adit yang turut penasaran dengan cerita Serena pagi ini.


“Tama memalsukan kematiannya, hal itu membuat Daniel marah. Dan aku yang menjadi korban kekesalannya tadi malam.”


“Apa Daniel hanya marah karena hal itu Serena?” tanya tuan Edritz, untuk kembali memastikan.


Serena hanya mengangguk pelan, tanpa ingin mengucapkan kata-kata lagi. Ny. Edritz kembali bernafas lega, rasa cemasnya yang muncul sejak tadi sudah hilang. Saat ini Serena masih belum mengetahui tentang masa lalunya.


“Apa anda sudah sarapan, Nyonya?” tanya Adit memecah keheningan.


“Belum, aku tidak ingin makan saat ini,” jawab Ny. Edritz pelan.


“Ma, mama harus makan. Serena tidak mau, lihat mama sakit seperti ini.”


“Serena, apa kau bisa menyuruh Daniel untuk pulang? mama sangat merindukannya,” pintah Ny. Edritz.


“Menyuruh Daniel pulang?” tanya Serena tidak percaya.


Satu hal mustahil dengan tingkat keberhasilan yang sedikit. Sejak menikah, Serena tidak pernah menghubungi Daniel melalui telepon. Apa lagi untuk memintanya pulang, melalu telepon.


“Mama akan makan, jika Daniel juga ada di sini,” ancam Ny. Edritz kepada Serena.


“Jangan ma, Serena akan mencoba untuk bujuk Daniel pulang,” jawab Serena tidak bersemangat.


“Terima kasih, Serena,” jawab Ny. Edritz dengan senyum manis.


“Nona Serena, aku juga harus memeriksa keadaanmu saat ini,” ucap Adit.


“Aku sudah sembuh,” tolak Serena.


“Ini yang terakhir,” bujuk Adit lagi.


Serena hanya menatap kesal kepada Adit. Tubuhnya hari ini memang terasa lebih baik, Serena tidak lagi membutuhkan Adit untuk memeriksa kesehatannya.


“Baiklah, Serena keluar dulu ya ma.” Memeluk Ny. Edritz dengan penuh kasih sayang.


Serena melangkah keluar, meninggalkan Tuan dan Ny. Edritz di dalam. Adit juga mengikuti langkah Serena dengan cepat.


“Apa kau ingin aku membantumu, nona?” ucap Adit, saat keduanya sudah berada di luar kamar Ny. Edritz.


“Membantu?” tanya Serena bingung.


“Menelepon Daniel, aku rasa kau terlihat bingung untuk melakukannya,” ucap Adit lagi.


“Benarkah? kau mau membantuku?” ucap Serena penuh semangat.


“Terima kasih, kau sudah mau membantuku.”


Adit hanya tersenyum ramah memandang Serena, hatinya kembali mengingat status Serena yang sempat di ucapkan oleh Daniel.


‘Bagaimana mungkin, kau seorang mafia. Serena,’ gumam Adit di dalam hati, “Aku harus segera ke rumah sakit. Aku akan menelepon Daniel nanti, dia pasti akan pulang,” ucap Adit penuh keyakinan.


Serena hanya mengangguk pelan, pertanda setuju dengan ide Adit saat ini. Adit tersenyum manis memandang wajah Serena, sebelum beranjak pergi meninggalkan rumah utama.


.


.


Sudah tiga jam Serena menunggu kepulangan Daniel, namun sosok yang di nanti tidak kunjung tiba. Rasa cemas Serena terus menghantui pikirannya, saat mengingat keadaan Ny. Edritz saat ini.


“Bagaimana ini, mama belum mau makan,” ucap Serena pelan, sambil berjalan mondar mandir di ruang utama.


Serena mengambil handphone yang terletak di atas meja, nama Tama menjadi pilihannya saat ini untuk di mintai pertolongan.


[Tama, apa kau bersama Daniel?] tanya Serena cepat


[Tuan Daniel masih rapat, nona. Apa terjadi sesuatu?] ucap Tama dari kejauhan.


[Apa Adit ada menghubungi Daniel?]


[Maaf nona, tapi tuan Daniel belum bisa pulang saat ini.]


[Tapi mama tidak ingin makan, jika Daniel tidak ada di sampingnya!]


[Maaf nona.]


Tidak lagi ingin berdebat dengan Tama, Serena memutuskan panggilan teleponnya.


“Aku tidak bisa diam saja, Daniel harus pulang saat ini juga.”


Serena berlari cepat menuju kamar, untuk mengambil tas favoritnya selama ini. Diva yang sejak tadi memperhatikan Serena, juga berlari cepat mengejar langkah kaki Serena.


“Apa yang terjadi, kenapa nona muda terburu-buru seperti itu.”


Belum sempat Diva membuka pintu kamar, Serena lebih dulu keluar dari kamar itu.


“Diva, kebetulan kau ada di sini.”


“Ada apa nona? kenapa anda berlari seperti itu?”


“Ayok ikut aku.” Serena menarik tangan Diva untuk menemani dirinya saat ini.


“Kita mau kemana nona?” tanya Diva dengan raut wajah bingung.


“Ke S.G. Group!” jawab Serena singkat.


“Anda ingin ke kantor tuan Daniel, nona?” tanya Diva masih tidak percaya.


“Aku harus berusaha membujuknya untuk pulang, mama sangat membutuhkannya saat ini.”


Serena melangkah cepat ke arah parkiran. Seorang supir sudah berdiri tegab di samping mobil, dan siap untuk mengantarkan Serena saat ini.


“Nona, anda mau kemana?” tanya supir itu sambil menunduk hormat.


“Antarkan aku ke S.G. Group,” perintah Serena.


“Baik nona,” jawab supir itu sambil membuka pintu, agar Serena masuk ke dalam mobil.


Dengan cepat Serena masuk ke dalam mobil, di ikuti Diva yang juga masuk dan duduk di samping Serena saat ini. Mobilpun melaju dengan cepat menuju ke arah gedung S.G. Group.


Rasa khawatir Serena kepada Ny. Edritz, sudah menciptakan satu keberanian di dalam diri Serena. Saat ini, yang ada di dalam pikirannya. Hanya membawa Daniel untuk pulang menemui Ny. Edritz. Meskipun ia tidak tahu, peristiwa apa yang akan ia hadapi. Saat nanti ia berhadapan dengan Daniel di kantor.


Like, Komen dan Vote.


Jangan Lupa, di baca juga ya karya kakakku.


Cinta Untuk Dokter Nisa dan Arsitek Cantik


Terima Kasih.


Besok baru dua Bab ya Readers....