
Kenzo dan lima mobil pasukan Gold Dragon, terus mengejar mobil hitam yang membawa Serena. Kecepatan mobil musuh jauh lebih cepat dari pada mobil yang kini mereka gunakan. Sejak awal, Shabira sudah dipenuhi perasaan tidak tenang. Karena melihat tubuh Serena ditarik paksa oleh pasukan yang dimiliki Laura.
“Kenzo, lebih cepat lagi” protes Shabira.
“Sayang, ini jalan raya. Aku tidak bisa bebas menaikan kecepatan mobil.” Kenzo terus fokus pada tiga mobil hitam yang ada di depan.
Mobil Kenzo dan mobil musuh berjalan saling kejar-kejaran. Melewati keramaian kota Thailand. Hingga beberapa saat kemudian, mobil itu sudah melewati keramaian kota. Mobil-mobil itu memasuki jalan menanjak yang dipenuhi bebatuan.
“Kenapa mereka membawa Kak Erena ke tempat ini. Apa kita di jebak?” Shabira sudah semakin curiga dengan lokasi yang saat ini mereka datangi.
“Apapun rencana wanita itu, aku yakin kita akan menang.” Kenzo menatap tajam tiga mobil yang sudah berhenti di ujung jalan.
Kenzo menghentikan laju mobilnya beberapa meter dari posisi musuh. Menatap Shabira dan beberapa mobil Gold Dragon yang juga berhenti di belakang.
“Sayang, ingat. Apapun yang terjadi, jangan pernah menjauh dariku!”
Shabira mengangguk cepat, “Aku tidak akan pernah menjauh darimu, sayang.” Shabira mengambil pistol kecil kesayangannya. Membuka pintu mobil secara perlahan.
Kenzo dan semua pasukan Gold Dragon juga keluar dari dalam mobil. Semua pasukan berbaris di belakang Kenzo dan Shabira untuk menunggu perintah.
Beberapa wanita dan pria keluar dari mobil musuh. Tubuh Serena palsu di seret paksa dengan satu todongan senjata api di ujung kepalanya.
“Aku akan menembak wanita ini. Jika kalian ingin menyerang kami!” Wanita berpakaian seksi tersenyum tipis penuh kemenangan. Ia tahu, kalau musuh yang ia hadapi tidak akan menyerang lebih dulu.
“Apa yang kau inginkan!” teriak Shabira.
“Tidak ada. Kami diperintahkan untuk membuang wanita ini ke laut.” Wanita itu berjalan ke arah ujung tebing.
DUARRR!
Kenzo mengeluarkan satu tembakan di depan kaki wanita itu. Tembakan itu berhasil menghentikan langkah wanita itu.
“Jika kau berjalan satu langkah lagi! aku akan menembak kalian semua tanpa tersisa satupun!” Mata Kenzo berubah tajam.
“Apa kau pikir aku takut dengan ancamanmu?” Wanita itu menarik pelatuk pistol secara perlahan.
“Hentikan! aku mohon.” Shabira berlutut di atas tanah. Ia tidak sanggup kalau harus menyaksikan penembakan itu.
“Shabira, apa yang kau lakukan?” Kenzo menarik tangan Shabira untuk berdiri.
“Mereka akan menembak Kak Erena. Aku gak mau kehilangan Kak Erena lagi.” Shabira menatap wajah Kenzo dengan penuh kesedihan.
“Percaya padaku.” Kenzo menatap wajah Shabira dengan penuh keyakinan.
“Aku mau melihat wajah Serena.” Kenzo memperhatikan kain hitam yang menutupi wajah Serena saat itu.
“Aku tidak ingin menuruti perintahmu! tembak mereka!” Wanita itu memberi perintah, hingga semua pasukan yang ia miliki melepaskan serangan.
“Serang!” teriak Kenzo dengan lantang.
Semua pasukan Gold Dragon mengambil posisi untuk membalas serangan. Kenzo menatap dengan serius saat melihat beberapa musuh tersembunyi yang keluar dari balik batu besar.
“Kita di jebak!” Shabira terus mengeluarkan tembakan ke arah musuh yang berjumlah puluhan itu.
“Kita harus bisa menyelamatkan Serena.” Tatapan Kenzo terus ia pusatkan pada tubuh Serena yang di seret cepat ke arah ujung tebing yang menghadap kelautan.
“Aku akan mengejar wanita itu.” Shabira berlari tanpa persetujuan dari Kenzo.
Kenzo menarik napas dalam, “Shabira!” ia juga berlari mengejar Shabira.
Wanita itu berdiri di ujung tebing sambil menodongkan senjata ke arah kepala Serena palsu. Ia tersenyum penuh kemenangan, meskipun pasukan yang ia miliki sudah hampir kalah.
“Aku akan menembak wanita ini sekarang juga!” ancamnya lagi.
“Tembaklah. Jika kau ingin menembaknya!” balas Kenzo dengan wajah yang sangat tenang.
Shabira memandang wajah Kenzo dengan tajam. Tanpa banyak protes, ia mengikuti alur yang akan diperankan oleh Kenzo saat ini.
Wanita ini sangat mencurigakan.
Kenzo sudah mulai menyimpan rasa curiga kepada wanita yang berperan sebagai Serena saat itu.
“Aku akan menyerahkan wanita ini. Tapi, biarkan aku pergi dengan selamat.” Wanita itu menatap dengan tatapan tajam.
“Baiklah.” Kenzo mengulurkan satu tangannya.
“Serahkan wanita itu padaku!”
Tanpa banyak kata, wanita itu mendorong tubuh Serena palsu ke hadapan Shabira dan menembak tangan kanan Kenzo dengan cepat.
DUARR!
“Kenzo!” teriak Shabira.
Dengan cepat Kenzo membalas tembakan wanita itu.
DUARR! DUARR!
Dalam hitungan detik, wanita itu tidak lagi bernyawa. Kenzo memandang luka tembakan di tangannya, cairan merah keluar dengan begitu deras.
“Kenzo, apa kau baik-baik saja!” Shabira ingin melangkah mendekati tubuh Kenzo.
Belum sempat ia melangkah mendekati tubuh Kenzo, Serena palsu tiba-tiba menarik tangan Shabira dan membawa tubuh Shabira loncat dari atas tebing. Karena gerakan wanita itu sangat cepat, Shabira tidak memiliki rencana untuk menahan langkahnya. Dengan mudahnya, tubuh Shabira juga terjun ke dalam lautan yang berwarna biru.
“Shabira!” teriak Kenzo panik.
Tanpa banyak menunggu, Kenzo juga ikut terjun ke dalam lautan itu untuk menyelamatkan nyawa Shabira. Wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang akan menjadi istrinya sebentar lagi. Ia tidak ingin kehilangan Shabira untuk yang kesekian kalinya.
***
Di rumah Laura.
Pasukan Gold Dragon dan Daniel sama-sama berhasil menembus pertahanan luar Laura. Kini mereka sudah bergabung menjadi satu untuk melawan pertahanan rumah bagian dalam. Baku tembak terjadi dimana-mana.
Beberapa pasukan musuh mengeluarkan bom asap berulang kali. Baku tembak itu terjadi di antara asap putih yang keluar dari bom asap yang baru saja meledak.
Daniel dan Biao terus berjalan beriringan. Menembak dan terus menembak, setiap ada wajah musuh yang muncul untuk menghalangi. Dari kejauhan, Zeroun Zein juga muncul dan menembak dengan sangat ahli.
Daniel dan Biao memandang kedatangan Zeroun Zein. Dengan cepat, semua pasukan Gold Dragon melindungi Zeroun Zein dari serangan musuh.
Berpuluh-puluh musuh sudah berhasil mereka atasi. Namun, jumlah musuh terus bertambah. Stok peluru yang mereka bawa juga sudah hampir habis. Pertarungan dengan tangan kosong menjadi alternatif mereka saat ini.
Daniel dan pasukan S.G. Group yang tersisa, memukul beberapa musuh yang tidak bersenjata dengan sisa tenaga yang miliki. Menaiki tangga untuk menguasai lantai dua rumah besar itu. Zeroun juga menaiki anak tangga untuk membantu Daniel dan yang lainnya melakukan penyerangan.
Pertarungan itu terhenti, saat Laura muncul dan menyeret tubuh Serena. Laura berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari pasukan Daniel dan Zeroun saat itu.
Mata Daniel dan yang lainnya terbelalak kaget, saat melihat kondisi Serena yang sangat memprihatinkan. Hati Daniel seperti tertusuk belati dan terasa perih saat melihat kondisi Serena.
“Apa yang kau lakukan pada Serena!” teriak Daniel menahan emosi.
“Selamat datang saya ucapkan untuk tamu kehormatan pada siang hari ini.” Laura tersenyum licik. Melipat kedua tangannya dan berdiri santai di samping Serena.
.
.
Uda author up 2 bab.
Yang punya Koin jgn pelit2..agak di bagi dikit buat author.
Yang cuma punya poin juga, jgn lupa votenya.
biar authornya semangat buat up banyak...😊