Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 91



Semua orang yang ada di ruangan itu masih fokus kepada Serena. Wajah sedih Serena membuat luka di dalam hati semua orang yang ada di ruangan itu. Meskipun mereka sudah berhasil melewati semua rintangan yang berat, tapi mereka masih merasa gagal karena belum bisa mengembalikan senyuman indah di wajah Serena.


Shabira tersenyum manis, saat memikirkan seseorang yang bisa membuat Serena kembali tersenyum saat itu. Wanita itu ingin membawa Kenzo pergi meninggalkan ruangan Serena untuk menjemput Angel. Putri semata wayang Diva, kini berada di kediaman rumah Daeshim Chen. Gadis kecil itu sekarang sudah aman dan jauh dari para pembunuh yang ingin mencelakainya.


“Kak, Aku harus pergi lagi. Kakak jangan sedih lagi.” Shabira memeluk tubuh Serena dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.


“Kalian mau pergi kemana?” tanya Serena dengan suara yang sangat pelan.


“Kami mau ke toko cincin,” ucap Shabira dengan penuh kebohongan.


Kenzo yang tidak tahu kebohongan Shabira saat itu, hanya tersenyum dengan bahagia. Di dalam hatinya terukir rasa bahagia yang begitu besar, karena di saat seperti ini Shabira masih memikirkan rencana pernikahan mereka berdua.


“Hati-hati,” ucap Serena lagi.


Shabira tersenyum memandang wajah Serena, sebelum menatap wajah Zeroun yang berdiri di samping Daniel.


“Kak, aku pergi dulu.” Shabira juga mengukir senyuman kepada Zeroun.


Zeroun mengangguk pelan, “Pulanglah ke rumah Kakak, itu rumahmu mulai dari sekarang.”


“Siap, Bos!” ucap Shabira sambil meletakkan satu tangannya di ujung dahi.


“Kenzo, jaga Adikku dengan baik.” Zeroun menatap wajah Kenzo dengan seksama.


“Tenang saja kakak ipar, aku akan menjaga Shabira dengan begitu hati-hati. Tidak akan ada yang berkurang saat kami kembali lagi.” Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya.


Shabira mengikuti langkah Kenzo untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Wanita itu terlihat menahan tawa saat berada di dalam pelukan Kenzo. Ia tahu, kalau Kenzo belum mengetahui rencananya meninggalkan ruangan itu karena ingin menjemput Angel. Perlahan Kenzo menutup kembali pintu kamar itu sebelum menatap wajah Shabira yang kini berdiri di sampingnya.


“Sayang, ayo kita persiapkan rencana pernikahan kita?” ajak Kenzo dengan wajah berseri-seri.


“Maafkan Aku, Kenzo. Tadi di dalam aku berbohong.” Shabira menunduk penuh rasa bersalah.


“Sayang, apa lagi yang kau rencanakan?” Kenzo mengerutkan dahi. Pria itu sangat bingung dengan sikap sang kekasih saat ini.


Tadi pagi wanita itu juga membawanya pergi meninggalkan rumah sakit, untuk mengejar pria yang berstatus tangan kanan big boss Queen Star. Satu kejadian yang tidak pernah ia persiapkan sejak awal.


“Apa kita akan bertarung lagi?” Kenzo kembali ingat proses penangkapan pria itu. Shabira turun tangan langsung untuk mengejar pria itu. Bahkan Kenzo tidak siap saat itu, ia juga mengejar Shabira dari belakang untuk melindungi sang kekasih. Namun, keberuntungan masih ada di pihak keduanya. Karena Lukas juga memiliki rencana yang sama dengan Shabira. Dengan mudahnya Lukas menangkap pria itu dan membawanya pergi ke rumah sakit untuk menemui Serena.


“Aku ingin pulang ke rumahmu,” sambung Shabira lagi.


Kenzo mengukir senyuman penuh arti, “Sayang, kau sudah tidak sabar ingin tidur di rumahku?” Perlahan Kenzo memajukan tubuhnya untuk mendekati tubuh Shabira.


“Ya, aku ingin ke rumahmu. Tapi untuk menjemput Angel. Mungkin kak Erena akan sangat senang jika kita membawa Angel untuk menemuinya.”


Langkah Kenzo terhenti. Pria itu menghembuskan napas karena kesal mendengar perkataan Shabira. Tanpa peduli lagi dengan ucapan Shabira, pria itu pergi meninggalkan Shabira di depan pintu.


“Kenzo, jangan tinggalin aku,” teriak Shabira sambil terus mengejar Kenzo yang kini berjalan dengan langkah yang begitu cepat.


“Tadi pagi kau juga meninggalkanku seperti ini!” protes Kenzo di tengah-tengah kekesalannya.


“Jangan marah seperti itu, Aku tidak akan pernah sanggup jika melihatmu marah seperti ini.” Shabira terus saja mengucapkan kata-kata manis untuk membujuk Kenzo saat itu.


“Aku tidak peduli!” Kenzo terus melangkah dengan cepat untuk meninggalkan Shabira. Namun Shabira terus saja berupaya mengejar Kenzo tanpa kenal putus asa dengan wajah bingung.


.


.


Suasana ruangan itu kembali diselimuti rasa canggung saat hanya ada mereka bertiga di dalam kamar. Serena menatap wajah Daniel dan Zeroun secara bergantian, sebelum melipat kedua tanganya. Memasang wajah dengan yang begitu menakutkan dan penuh selidik.


“Ceritakan padaku, apa yang terjadi selama kalian berdua ada di Thailand,” tanya Serena dengan wajah serius.


Daniel dan Zeroun saling melempar tatapan. Tidak ada yang ingin lebih dulu mengeluarkan kata saat itu. Zeroun juga lebih memilih untuk memutar tubuhnya dan menatap ke arah jendela. Sementara Daniel, yang masih duduk di pinggiran tempat tidur Serena hanya bisa menunduk bingung. Pria itu tidak memiliki ide yang bagus untuk menceritakan semua kejadian yang terjadi di Thailand.


“Belum ada yang mau bercerita?” ucap Serena dengan penuh penekanan.


Melihat kedua pria itu hanya diam dan tidak mengeluarkan kata, Serena mengambil inisiatif untuk mengancam keduanya saat ini.


“Aku tidak mau makan sebelum kalian berdua menceritakan semua yang terjadi.” Lagi-lagi wanita berusia 25 tahun itu memasang wajah cemberut favoritnya.


“Sayang … yang terpenting saat ini kami sudah kembali dengan selamat.” Daniel meraih tangan Serena untuk membujuk wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.


Sedangkan Zeroun juga kembali memutar tubuhnya saat mendengar ancaman yang baru saja keluar dari mulut Serena.


“Serena, kau tidak boleh bersikap seperti itu. Anggap saja, semalam itu kami berdua sedang berjalan-jalan, seperti urusan bisnis ….” ucap Zeroun dengan santai.


“Jalan-jalan dan membawa oleh-oleh sebuah luka?” Wajah Serena semakin kesal dan hampir tidak bisa di bujuk lagi.


“Sayang, bukan begitu maksud Zeroun.” Daniel menatap wajah Zeroun dengan seksama. Dia memberi kode agar Zeroun tidak memancing emosi Serena saat itu.


“Apa yang terjadi? kenapa kalian sangat takut untuk menceritakan semuanya padaku.” Wajah Serena yang tadi marah kini sudah berubah menjadi sedih.


“Apa aku tidak bisa dipercaya, hingga kalian tidak ingin menceritakan semua kejadian itu padaku.”


“Serena, jangan berpikir seperti itu. Semua yang terjadi hanya seputar pertempuran, tidak ada yang perlu dibahas lagi.” Zeroun berjalan mendekati sahabatnya itu.


“Terus, kenapa tadi kau bilang jika orang-orang yang dikirim Sonia tidak muncul tepat waktu, kalian akan tenggelam di lautan. Bukankah kalian bertarung di rumah sakit, bagaimana bisa sampai ke laut?” Serena menatap mata Daniel dan Zeroun dengan seksama. Ada satu rahasia yang ingin segera ia ketahui saat itu juga. Namun, ia belum berhasil untuk memaksa Daniel dan Zeroun menceritakan semua yang terjadi di sana. Wanita itu juga tidak lagi memiliki kekuasaan untuk menyelidiki kejadian di Thailand.


“Apa kau benar-benar ingin tahu, Serena?” tanya Zeroun dengan wajah serius.


Serena mengukir satu senyuman dengan hati yang bahagia. Sebentar lagi, sesuatu yang ingin ia ketahui akan segera di ceritakan oleh Zeroun Zein, sahabatnya. Ia sangat yakin, Zeroun tidak akan pernah mau membohonginya dan akan menceritakan semuanya dengan jujur.


“Baiklah, karena aku melihat wajahmu yang penuh dengan semangat itu. Maka Daniel akan menceritakan semuanya. Semua yang terjadi di sana menjadi tanggung jawab Daniel sepenuhnya. Aku mau pergi pulang dulu untuk istirahat,” ucap Zeroun dengan wajah santai.


“Kenapa kau ingin pergi? kau sungguh tidak setia kawan Zeroun.” Daniel menatap kesal wajah Zeroun yang berdiri di sampingnya.


“Selamat bercerita, sahabatku Daniel.” Zeroun menepuk pundak Daniel dengan kuat.


“Serena, kau boleh juga marah atau memukulnya jika perlu,” sambung Zeroun sambil menahan tawa. Dengan langkah yang begitu tenang dan wajah yang dingin, Zeroun berjalan menuju ke arah pintu. Pria itu pergi meninggalkan Daniel dan Serena tanpa beban sedikitpun.


Selamat bersenang-senang, Daniel. Kau yang terlalu banyak bicara selama kita bertarung, sekarang pertanggung jawabkan semua ucapanmu itu.


Pintu kembali tertutup saat tubuh Zeroun hilang dari balik pintu ruangan Serena.


Dengan tatapan tajam, Serena menatap wajah Daniel lagi. Hingga membuat Daniel menjadi sulit untuk bernapas dan berpikir harus memulai cerita itu dari mana.


“Sayang, sepertinya S.G. Group ada rapat penting siang ini. Aku harus menghadiri rapat ini langsung. Apa kau bisa menungguku sebe ….” ucapan Daniel terhenti saat melihat tatapan mengerikan dari Serena. Daniel menarik napas sebelum mengeluarkan kata lagi.


“Sayang, berjanjilah. Apapun yang aku ceritakan, jangan marah padaku,” ucap Daniel pelan.


“Baiklah, aku berjanji,” jawab Serena.


Daniel menggenggam erat tangan Serena dan menarik napas sebelum memulai ceritanya siang itu.