
Di dalam kamar, berukuran luas. Barang-barang tidak lagi tertata rapi. Beberapa parfum kaca, pecah berhamburan di lantai. Tidak ada tempat lagi untuk menjejaki kaki. Lantai keramik itu, tertutup oleh beberapa barang yang berserakan.
Sonia duduk di lantai, dengan darah kering di ujung bibirnya. Matanya bengkak karena menangis. Air mata juga sudah kering di pipinya.
Sonia mengepal erat tangannya. Menatap penuh kebencian. Bola matanya melebar. Hatinya sudah penuh dengan amarah.
"Aku tidak kalah. Aku akan terus berjuang mendapatkanmu, Daniel. Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, wanita itu juga tidak bisa bersamamu."
Sonia berdiri dari duduknya.
"Aaaaa." Sonia kembali teriak, hingga memenuhi isi kamarnya.
Ia kembali terjatuh ke lantai. Kakinya tidak lagi memiliki tenaga. Beberapa buliran air mata, kembali menetes di pipinya.
"Aku akan membalasmu, Biao. Kau tidak pernah tahu, apa yang bisa aku lakukan. Aku akan membuat hidupmu menderita."
Sonia tertunduk dalam. Penampilannya sungguh berantakan. Rambutnya tidak lagi tertata rapi. Senyum manis yang biasa ia ukir, juga sudah luntur.
1 Hari setelah Serena hilang.
Tiga mobil hitam menghadang jalan, supir mengerem mobil secara tiba-tiba. Membuat mobil Sonia berhenti mendadak. Dengan cepat, beberapa orang berpakaian hitam-hitam, turun dari mobil.
Kepala Sonia menatap belakang kursi depan. Handphone yang sempat ia genggam, terjatuh ke bawah.
"Apa yang kau lakukan! Kenapa berhenti mendadak!"
Sonia memaki supirnya dengan kasar, tanpa ingin melihat ke arah depan. Sonia menunduk, mengambil handphonenya yang terjatuh.
Supir hanya diam membisu. Sosok bertubuh tegab, menodongkan pistol ke wajahnya. Dari balik kaca mobilnya. Supir itu membuka kaca mobil perlahan, dan menunduk takut.
Seseorang memukul kaca mobil dengan kasar. Sonia mengalihkan pandangan matanya. Matanya terbelalak kaget, saat melihat sosok yang berdiri di balik kaca.
Sonia memandang ke arah supir, untuk mengajak kabur dari sana. Tapi, lagi-lagi ia di kagetkan dengan pistol yang sudah menancap di balik kaca.
Sonia menelan salivanya. Menarik napas dalam. Tubuhnya sudah membeku. Ia tidak punya tenaga untuk bergerak lagi.
Ketukan di jendela kembali di layangkan. Bukan hanya suara yang ia dengar, tapi todongan pistol dari balik kaca.
Sonia membuka pintu mobil perlahan. Keluar dari dalam mobil dan berdiri tegab di samping pintu mobil. Sekuat mungkin, ia mengatur wajahnya agar tidak terlihat panik.
"Ada apa? Apa yang kau lakukan, Biao."
Sonia menatap wajah Biao dengan tajam, meskipun hatinya sudah di penuhi rasa takut.
"Beraninya kau bertanya, Sonia."
Mata Biao membulat. Tangan kirinya terkepal kuat, sedangkan tangan kanannya memegang pistol.
"Aku tidak mengerti. Apa yang kau katakan, Biao!"
Dengan sekuat tenaga, Sonia membantah perkataan Biao. Ia tersenyum tipis, untuk menghilangkan rasa takutnya saat ini.
“Dimana Nona Serena?” teriak Biao.
Biao menodongkan pistol itu, di hadapan Sonia. Emosinya semangkin mencuat ke permukaan. Napasnya terlihat cepat. Bola matanya menghitam, menunjukkan tatapan membun*h.
“Aku tidak tahu, dimana wanita itu berada.”
Sonia memalingkan pandangan matanya, dari Biao. Jantungnya terus berdebar kencang. Napasnya tidak lagi beraturan. Tangannya terkepal kuat.
“Aku rasa, dia sudah m**i.”
Plakk!
Satu pukulan di layangkan ke wajah Sonia. Cairan merah segar keluar dari ujung bibirnya. Perlahan, Sonia memegang pelan bibirnya. Ia kembali menatap tajam ke wajah Biao.
“Beraninya kau!”
Sonia ingin membalas Biao. Dengan cepat, Biao menahan tangannya.
“Aku juga bisa membu***mu.” Melemparkan tangan Sonia dengan kasar.
Biao memandang ke arah pengawal yang berjaga. Tanpa ingin berdebat dengan Sonia lagi.
“Bawa wanita ini.”
Biao berjalan cepat, dan masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya dengan cepat.
Beberapa pengawal, berjalan mendekat ke arah Sonia. Menarik paksa Sonia, dan mendorongnya masuk ke dalam mobil. Mengikuti laju mobil Biao.
Ketiga mobil itu, berjalan beriringan. Menembus kesunyian, melewati barisan pepohonan. Cahaya matahari tampak menembus ke jalan, melalui pepohonaan yang rindang.
Mobil itu terus melaju, menghempas dedaunan kering di sepanjang jalan. Menerbangkan dedaunan itu ke tepian jalan.
Sonia hanya diam membisu. Masih menatap tajam ke pengawal yang berada di sampingnya.
Hingga beberapa menit kemudian. Mobil itu berhenti di pinggiran taman yang sunyi. Biao turun dengan cepat dari mobil. Menatap ke arah mobil belakang.
Pengawal itu mengeluarkan Sonia dengan paksa. Membawanya mengikuti langkah Biao.
Di bawah pohon besar, di sebuah kursi kayu. Daniel sudah duduk diam di sana. Menunduk dalam, dengan tatapan dingin. Tangannya terkepal kuat, saat mendengar kabar dari Tama. Kalau Sonia adalah penyebab hilangnya Serena.
Melihat kedatangan Biao, Daniel beranjak dari duduknya. Daniel berdiri tegab, dengan tatapan tajam memandang Sonia. Daniel melihat ke ujung bibir Sonia yang terluka. Namun, tidak ada lagi belas kasih di hatinya.
Saat ini, Sonia adalah musuh yang ingin ia musnahkan. Tama dan beberapa pengawal lainnya, berdiri tegab di belakang Daniel.
Memegang satu senjata api, untuk melindungi Daniel saat ini.
Biao membungkuk hormat, sebelum mengucap salam pada Daniel.
“Selamat siang, Tuan.”
Daniel tidak ingin menjawab salam Biao. Ia masih diam dengan tatapan tajam ke arah Sonia.
“Daniel, jangan lakukan ini padaku,” ucap Sonia memelas.
“Lepaskan tangannya.” Perintah Daniel singkat.
Sonia tersenyum manis, ia melangkah pelan mendekati tubuh Daniel.
“Berhenti di situ, Sonia,” ucap Daniel cepat.
Sonia menghentikan langkah kakinya. Menatap ke wajah Daniel, masih dengan wajah memelas. Sonia berlutut di tanah, menunduk dalam, dan menangis dengan kencang.
“Aku tidak tahu, di mana Serena. Dia bahkan ingin membunuhku, Daniel. Aku hanya ingin bicara baik-baik padanya. Tapi dia datang dengan pengawal, dan menyerangku duluan.”
Lagi-lagi, Sonia merangkai cerita bohong. Daniel membuang napasnya kasar, dan mengalihkan pandangan ke lain arah.
“Aku tidak butuh penjelasanmu, Sonia. Dimana kau menyembunyikan Serena?”
Sonia mendongak ke arah Daniel, dengan deraian air mata yang semangkin deras.
“Aku meninggalkannya di sana. Aku tidak tahu, kemana dia pergi. Tapi ...”
Sonia menggantung perkataannya. Semua orang mengalihkan pandangan ke arah Sonia saat ini.
“Aku rasa dia memiliki banyak musuh! Beberapa pria bertubuh besar, keluar dari mobil hitam. Memaksa Serena masuk ke dalam mobil, dan membawanya pergi ke arah dermaga.”
Ada sedikit kepuasan dalam perkataannya. Sonia merasa bahagia. Saat mengetahui, Serena memiliki banyak musuh. Ia tidak perlu bersusah payah, mencelakai Serena lagi.
“Aku akan membun*hmu, jika kau berani berbohong Sonia!”
Tanpa menunggu lagi, Daniel melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Diikuti Biao, Tama dan semua pengawal yang ada di sana. Meninggalkan Sonia sendiri, tanpa perduli dengan keadaannya.
Sonia menatap tajam kepergian Daniel. Hatinya terasa sakit, dan air mata kembali menetes deras.
“Aku tidak akan membiarkanmu bahagia dengan Serena.”
Like, Komen, Vote.🤗