Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 20



S.G. Group.


“Nona, silahkan.” Sharin meletakkan teh di atas meja yang ada di hadapan Anna. Wanita duduk di sofa yang ada di sebelah Anna sambil mengukir senyuman manis.


“Jadi kau keponakan Tama, Sharin?”Anna mengambil teh yang telah terhidang di hadapannya.


“Benar, Nona,” jawab Sharin.


Anna meneguk teh hangat itu secara perlahan sebelum meletakkannya kembali ke atas meja. Wanita itu kini memperhatikan ruangan tertutup yang ada di hadapannya dengan bibir tersenyum.


“Mereka memiliki selera yang tidak jauh berbeda,” ucap Anna sebelum memandang wajah Anna. Kalimat Anna siang itu cukup membuat Sharin bingung. Ia tidak tahu siapa yang di maksud mereka oleh Anna.


“Oh iya, jangan tolong berikan ini kepada Tama.” Anna terlihat mencari-cari barang yang ingin ia kasihkan kepada Tama di dalam tas miliknya. Wanita itu mengeluarkan beberapa berkas yang pernah dibutuhkan oleh Tama.


Sharin menerima berkas itu dengan bibir tersenyum, “saya akan memberikan berkas ini kepada Paman Tama nanti, Nona.”


Anna tersenyum sebelum beranjak dari duduknya. Wanita itu terlihat berharap untuk bertemu dengan Biao siang ini. Sudah satu jam ia berusaha mengulur waktu agar bisa bertemu dengan pria yang menari hatinya itu. Tetapi, sosok yang ia nanti tidak kunjung kembali.


“Saya permisi dulu,” pamit Anna sambil berjalan menuju ke arah pintu ruangan itu.


Sharin mengukir tanda tanya saat melihat kunjungan Anna saat ini. Wanita itu kini berpikir kalau Anna adalah orang yang sangat spesial bagi Pamannya. Tidak pernah terpikirkan kalau Anna adalah orang yang sama-sama menyimpan kagum kepada Biao. Seperti dirinya.


“Paman Tama sungguh beruntung bisa kenal dengan wanita cantik dan modern seperti Nona Anna. Pantas saja selama ini ia sangat suka tinggal di kota Sapporo. Ternyata ini alasannya,” ucap Sharin pelan sambil memperhatikan punggung Anna yang sudah hilang di balik lift.


***


Restoran SS


Daniel dan yang lainnya menembak dengan cukup ahli. Bahkan beberapa musuh yang ingin menyentuh tubuhnya jga mereka hadiahi sebuah tendangan yang cukup kuat. Tidak pernah terbayangkan di dalam pikiran para musuh Daniel kalau hari ini mereka akan kalah. Orang yang mereka incar memang bukan orang biasa. Sangat berbeda dengan rumor yang pernah terdengar.


Daniel dulu memang hanya seorang Ceo makanan ringan yang tidak terlalu lihai dalam bertarung dan menembak. Tetapi, setelah beberapa kali hampir kehilangan wanita yang ia cintai. Membuat Daniel banyak belajar menjadi petarung dan penembak yang ahli. Ia tidak ingin memberi kesempatan kepada wanita yang ia cintai untuk bertarung lagi selama dirinya masih sanggup melawan musuh-musuh itu.


Sama halnya dengan Kenzo. Pria itu juga terus saja menghalangi tembakan dan pukulan yang akan menyentuh istrinya. Pria tangguh itu kini bertarung dengan musuhnya di hadapan Shabira. Tidak ingin menunggu terlalu lama, Shabira mengeluarkan tembakan agar mempercepat untuk mencapai kemenangan.


Hingga beberapa saat kemudian. Petarungan itu dimenangkan oleh pihak Daniel. Beberapa pembunuh bayaran yang di kirimkan oleh pihak musuh kita telah tergeletak tidak bernyawa. Ada lumuran darah dimana-mana yang membuat restoran itu terlihat sangat mengerikan.


Beberapa pekerja restoran yang sejak tadi bersembunyi kini sudah berani menampakkan batang hidungnya. Seorang pria yang menjadi manager restoran itu kini berjalan mendekati posisi Daniel berada.


“Tuan Daniel. Apa anda baik-baik saja?” Pria itu sangat tahu dengan status sosial sang pemilik nama.


“Saya baik-baik saja,” jawab Daniel sambil memandang wajah istrinya yang sejak tadi ada di belakangnya, “sayang, apa kau baik-baik saja?” Pria itu memegang kedua lengan Serena dengan wajah khawatir.


Serena mengangguk sambil tersenyum. Wanita itu memandang kekacauan yang baru saja mereka perbuat. Ada rasa kasihan terhadap pemilik restoran yang kini tidak tahu dimana keberadaannya.


“Daniel, kita harus membayar ganti rugi kepada pemilik restoran ini,” ucap Daniel dengan wajah penuh harap kalau Daniel akan mengabulkan permintaannya.


“Iya Sayang. Tama dan Biao akan mengurus semuanya nanti. Jangan khawatir.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Pria itu mengecup pucuk kepala Serena berulang kali dengan perasaan lega.


“Kakak, apa calon keponakanku baik-baik saja?” Shabira kini menatap wajah Serena sambil memandang ke arah perutnya.


“Aku rasa dia bayi yang cukup kuat yang tidak ingin menyakiti Mamanya. Hari ini dia sangat bersahabat.” Serena mengusap lembut perutnya sambil tersenyum bahagia. Tidak pernahterbayangkan di dalam pikirannya kalau saat ini Morning signesnya belum juga sembh. Wanita itu pasti akan terlihat lemah dan tak berdaya saat melawan musuh-musuhnya tadi pagi.


“Ayo kita pulang,” ucap Kenzo sambil merangkul pinggang istrinya.


“Kami juga mau pulang.” Daniel memandang wajah Tama dan Biao secara bergantian, “kalian bisa kembali lebih dulu ke S.G.Group. Aku mungkin tidak akan kembali lagi. Kalian selesaikan segala masalah yang belum tuntas.”


“Baik, Tuan,” jawab Tama dan Biao secara bersamaan.


“Ayo, Sayang kita pulang.” Daniel membawa tubuh Serena untuk pergi meninggalkan restoran itu. Wajah pria itu masih belum tenang, saat mengingat dalang masalah ini kini masih bisa menghirup udara bebas di luar sana.


‘Kau tidak akan mudah mengalahkanku saat ini. Aku memiliki orang-orang tangguh yang tidak pernah terbayangkan kalau betapa hebatnya mereka.


***


“Biao, apa kita harus membuat strategi baru?” tanya Tama sambil menekan tombol lift yang ada di hadapannya.


“Tidak perlu. Jika memang pria itu musuh kita saat ini, kita tidak perlu menyusun strategi apa-apa. Karena serangan yang Ia berikan pasti selalu tak terduga.” Biao memandang jam yang melingkar di tangannya. Sudah lewat jam makan siang, tadi di restoran pria itu tidak memiliki kesempatan untuk makan.


“Tama, kirim seseorang untuk memesan makanan,” ucap Biao sambil memandang wajah sahabatnya itu.


“Ya, aku juga belum makan. Aku akan menyuruh orang untuk membawakan makanan,” jawab Tama sambil mengutak-atik ponselnya untuk memberi perintah.


Pintu lift terbuka. Tama dan Biao keluar secara bersamaan. Dua pria itu kini berjalan menuju ke ruangan mereka masing-masing.


“Aku akan datang ke ruanganmu nanti,” ucap Tama sebelum masuk ke dalam ruang kerja miliknya. Di dalam, pria itu memandang wajah Sharin yang sedang sibuk dengan layar laptopnya. Bahkan kehadiran Tama tidak lagi ia sadari saat ini.


“Sharin,” ucap Tama sambil berjalan menuju ke arah keponakannya berada.


“Hei!” teriak Tama sambil menarik benda yang kini menghalangi pendengran keponakannya itu.


“Paman, kenapa Paman sudah ada di sini tiba-tiba?” Sharin mengeryitkan dagi sebelum beranjak dari kursi hitam itu.


“Kau terlalu banyak bermain hingga tidak sadar dengan kehadiranku,” jawab Tama sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi hitam itu. Setelah duduk, Tama fokus pada layar laptop keponakannya itu.


“Apa yang kau kerjakan?” Tama menggeser kursor yang di layar laptop itu untuk memahami isinya.


“Hanya iseng saja. Aku mencoba untuk menguasai semua camera CCTV yang ada di Sapporo.” Sharin tersenyum kecil. Sejak tadi, pria itu memeriksa seluruh camera CCTV yang ada di kota Sapporo untuk melihat wajah Biao. Gadis itu tidak tahu dimana keberadaan Biao tadi, hingga membuatnya tidak punya pilihan lain, selain memeriksa seluruh camera yang ada di kota itu.


“Kau sangat berbakat Sharin,” ucap Tama dengan senyuman.


“Tentu,” jawabb Sharin penuh percaya diri.


“Oh iya, aku tolong buatkan Paman teh. Bukankah teh buatanmu selalu enak,” perintah Tama sambil mengotak-atik layar laptop keponakannya itu.


“Baiklah, Paman. Karena Paman sudah membawaku ke S.G.Group ini, makan aku akan buatkan Paman teh setiap hari sebagai ucapan terima kasih,” jawab Sharin sambil menarik laptopnya yang kini di perhatikan Tama tanpa berkedip.


“Privasi!” ucap Sharin sebelum menutup layar laptopnya dan meletakkannya di atas meja. Gadis itu tidak ingin Pamannya tahu, kalau ada banyak rekaman Biao di dalam layar laptopnya.


“Oh iya Paman, tadi wanita bernama Anna datang dan menitipkan berkas itu. Nona Anna memintaku untuk memberikan berkas itu kepadamu,” ucap Sharin sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan Tama menuju ke pantry.


Sharin mendorong pintu kaca yang cukup berat itu untuk masuk ke dalam dapur kantor. Wanita itu menghentikan langkahnya saat melihat Biao ada di dalam ruangan yang kini ingin ia kunjungi. Biao memegang secangkir minuman hangat di tangan kanannya sambil berdiri di depan jendela.


Sharin mengukir senyuman indah saat melihat punggung pria yang cukup ia kenali itu. Wanita itu berjalan secara perlahan ke arah dapur untuk membuat teh. Sesekali ia melirik ke arah pria yang kini tidak terlalu peduli dengan keberadaannya.


Aduh, bagaimana ini. Kenapa dia aku tidak berani untuk menyapanya.


Sharin terlalu fokus dengan punggung Tama hingga wanita itu tidak lagi fokus mana gula dan mana garam. Dengan wajah penuh percaya diri, wanita itu mengaduk teh hangat yang ada di hadapannya.


Setelah puas melihat pemandangan kota, Biao memutar tubuhnya untuk kembali ke ruangannya. Pria itu memandang wajah Sharin yang kini juga berada di ruangan yang sama dengannya.


“Paman tampan,” celetuk Sharin sambil mengaduk-ngaduk teh yang akan ia berikan kepada Tama itu.


“Bukankah kau keponakan Tama?” Biao mengeryitkan dahi.


“Sharin, nama saya Sharin Paman tampan,” jawab Sharin dengan senyum malu-malu.


“Paman tampan?” tanya Biao sambil mengangkat satu alisnya.


Like ya biar nanti kita update lagi.😊