
Biao membanting pintu ruang kerjanya dengan wajah dipenuhi emosi. Hatinya benar-benar kesal saat itu. Jebakan Sharin pagi ini memang cukup membuahkan hasil. Biao menjatuhkan tubuhnya di atas kursi yang biasa ia duduki. Tubuhnya bersandar kepalanya mendongak ke atas. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang kini terlihat sangat kusut seperti pakaian yang belum disetrika.
“Bagaimana mungkin aku harus bertanggung jawab hanya karena mencium bibirnya. Dia juga tidak akan hamil karena hal itu.” Biao menghela napas kesal. Berulang kali kepalanya ia pukulkan ke kursi tempat ia duduk saat ini.
Biao memejamkan matanya, berharap dengan cara itu ia bisa melupakan semua yang baru saja terjadi. Namun, bukan mala melupakan. Biao justru kembali membayangkan adegan ciuman tidak di sengaja itu lagi. Biao melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi menutupi wajah. Dengan cepat, ia kembali membuka mata.
Biao lagi-lagi harus terperanjat kaget saat melihat Sharin bersandar di depan meja meja, “Kau!” teriak Biao begitu kuat karena terlalu kaget, “Untuk apa kau ada di sini?” sambung Biao dengan tatapan masih tidak percaya.
“Paman jangan terlalu percaya diri. Aku tidak mengikuti Paman. Ponsel Paman terjatuh tadi di lantai. Aku menemukannya,” ucap Sharin pelan sambil meletakkan ponsel itu di atas meja Biao.
Biao memperhatikan ponselnya, “Terima kasih.”
Sharin mengangguk sebelum menjauh dari meja Biao yang sempat ia dekati. Wanita itu berjalan dengan santai menuju ke arah pintu untuk keluar.
“Sharin, tunggu!” teriak Biao sambil beranjak dari duduknya.
Sharin memutar tubuhnya untuk memandang wajah Biao yang kini berjalan mendekatinya, “Ada apa, Paman?”
“Kita harus bertemu untuk membicarakan hal ini. Sepertinya tempat ini kurang aman. Nanti malam aku akan menunggumu di cafe flower.” Biao berdiri di hadapan Sharin dengan wajah serius. Pria itu tidak ingin masalah ini berlarut-larut.
Sharin terlihat bingung saat itu. Ia orang baru di kota itu. Ia tidak terlalu paham dengan cafe atau apapun itu yang ada di kota Sapporo. Di tambah lagi, sekarang lagi musim dingin. Tama juga tidak akan memberikan ijin kepadanya untuk keluar malam.
“Hei, apa kau mendengarku?” tanya Biao sambil mengeryitkan dahi.
Sharin mendongak untuk menatap wajah Biao, “Aku gak bisa, Paman.”
“Gak bisa?” ulang Biao dengan nada sedikit tinggi.
“Iya, Paman Tama tidak akan membiarkanku pergi. Bukannya Paman bilang aku tidak boleh menceritakan ini dengan Paman Tama?” Wajah Sharin berubah serius.
“Soal itu biar aku yang urus,” ucap Biao dengan santai.
Sharin mengukir senyuman, “Apa anda ingin mengajak saya berkencan, Paman?” Sharin memajukan tubuhnya untuk meledek Biao pagi itu. Perkataan Sharin membuat Biao sedikit salah tingkah. Memang ini pertama kalinya ia mengajak wanita untuk bertemu pada malam hari. Biasanya selalu wanita duluan yang merayunya walau hanya sekedar makan malam.
“Apa kau lupa kalau aku masih atasanmu?” Biao menaikan satu alisnya sambil memasang wajah yang menyeramkan.
Hal itu cukup untuk menakut-nakuti Sharin saat itu. Wanita berusia 20 tahun itu menelan salivanya, “Maaf, Tuan Biao.”
“Pergi dari ruanganku sekarang. Jangan berani-beraninya masuk tanpa ijin dariku.” Biao memasukkan kedua tangannya di dalam saku.
Sharin mengangguk pelan. Dengan wajah bingung, Sharin memegang handle pintu itu. Namun pintu terbuka sebelum ia menariknya. Tama muncul dari balik pintu itu dengan senyuman indah ciri khasnya.
“Sharin, kau di sini? Aku mencarimu sejak tadi.” Tama menatap wajah Sharin dan Biao secara bergantian, “Untuk apa kau ada di ruangan Biao, Sharin?” tanya Tama dengan tatapan menyelidik.
“Aku ....”
“Aku menyuruh Sharin mengambil berkas di lantai satu,” sambung Biao cepat.
Tama mengangguk pelan, “Mana berkas yang aku minta tadi?”
“Ini, Paman.” Sharin menyodorkan berkas yang sejak tadi ia bawah.
Tama menerima berkas itu sambil menatap wajah Sharin dengan seksama. Ada yang aneh dari ekspresi wajah keponakannya yang selalu ceria itu. Satu-satunya orang yang menjadi orang paling di curigai Tama saat itu adalah Biao. Pria itu menatap wajah sahabatnya dengan tatapan penuh selidik.
“Kau tidak melakukan apa-apa pada keponakanku kan, Biao?” tanya Tama sambil mengeryitkan dahi.
“Tuan Biao tidak melakukan apa-apa, Paman.” Sharin berjalan keluar untuk meninggalkan dua pria itu. Kepalanya cukup pusing jika berlama-lama dengan dua pria yang menurutnya aneh itu.
“Sekarang, dia yang membelamu? Aku semakin curiga dengan sikap kalian berdua,” ucap Tama.
Biao tidak lagi mau menjawab kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Tama. Pria itu lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang sejak tadi tertunda. Tidak lagi peduli dengan kehadiran sahabatnya di ruangan itu.
“Biao,” ucap Tama sambil berjalan mendekati meja kerja Biao, “Aku belum bisa menghubungi Anna. Apa dia ganti nomor?” Pria itu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Biao.
“Aku bukan keluarganya. Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?” Biao terlihat fokus dengan berkas yang ia periksa.
“Bukankah kau ahli dalam menyelidiki orang lain?” Tama membuang tatapannya ke arah lain, “Aku hanya ingin bilang padanya. Kalau aku pria gemuk yang dulu selalu menjaganya.” Tama mengukir senyuman manis saat membayangkan masa-masa kecilnya bersama Anna.
“Apa dia tidak tahu namamu?” tanya Biao tanpa mau memandang wajah sahabatnya.
Tama menggeleng kepalanya, “Dia tidak tahu siapa namaku. Waktu itu aku ingin memberi kejutan padanya. Tapi, dia sudah pindah rumah. Bahkan aku juga tidak tahu, kalau sekarang dia menggunakan nama Anna bukan Nana lagi.”
Biao menghentikan aktifitasnya sejenak. Pria itu tampak berpikir untuk membantu sahabatnya yang kini terlihat kesulitan, “Aku akan membantumu.”
“Benarkah?” tanya Tama dengan wajah berseri.
Biao mengangguk, “Tapi ada syaratnya.”
“Apa?” tawa Tama tertahan.
“Aku butuh bantuan Sharin. Bukankah keponakanmu itu sangat ahli dalam bidang IT.”
“Kau boleh membawa Sharin ke mana saja. Aku yakin, selama Sharin bersamamu dia pasti akan selalu aman.” Tama sudah benar-benar bahagia pagi itu. Ia sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi Anna saat mengetahui identitasnya.
Biao mengangguk sambil melanjutkan pekerjaanya. Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat itu. Biao tidak pernah menyangka, kalau semudah itu untuk mendapatkan ijin dari Tama.
“Aku harus membantu Sharin menyelesaikan pekerjaannya. Aku harap kau bisa secepatnya membantuku, Biao.” Tama beranjak dari duduknya. Berjalan dengan santai menuju ke arah pintu untuk meninggalkan ruangan kerja milik Biao.
Tidak ada rasa curiga sama sekali di dalam hati Tama atas apa yang terjadi di antara Biao dan Sharin. Pria murah senyum itu memang sangat percaya dengan orang terdekatnya. Ia sangat yakin, kalau dua orang yang ia kenali itu tidak akan mungkin berbohong. Apa lagi menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
***
Di ruang kerja Tama.
Sharin tertawa terbahak-bahak dengan wajah ceria. Masih terbayang jelas ajakan Biao tadi. Hatinya benar-benar sangat bahagia saat ini. Seluruh berkas yang menjadi tanggung jawabnya juga telah ia abaikan begitu saja. Sejak berada di ruangan kerja Biao tadi, ia sudah sangat kesulitan untuk menahan tawa. Bahkan tawanya akan segera pecah jika ia tidak segera berlari untuk menjauh dari ruangan itu. Pembelaan Biao saat dirinya mengalami kesulitan di depan Tama membuat hati Sharin semakin berbunga-bunga.
“Paman Tampan ingin mengajakku kencan,” ucap Sharin dengan wajah memerah. Wanita itu berbaring di atas sofa sambil menatap langit-langit ruangan itu, “Paman tampan. Kenapa kau sangat menggemaskan.” Sharin memegang kedua pipinya yang terasa hangat.
Suara pintu terbuka. Sharin memejamkan mata untuk mengontrol tawa yang sejak tadi meluap-luap. Satu tangannya di letak di atas dahi sebagai bentuk alasan kepada Tama nantinya.
“Sharin, kau kenapa? Apa kau sakit?” ucap Tama dengan wajah khawatir. Pria itu duduk di pinggiran sofa sambil memegang dahi Sharin saat itu.
“Aku hanya sedikit pusing saja, Paman,” ucap Sharin pelan.
“Benarkah?” Tama memandang pekerjaan Sharin yang kini belum selesai. Tiba-tiba saja Tama tahu kalau kini keponakan cantiknya sedang berbohong. Tama menghela napas sebelum beranjak dari sofa itu, “Sayang sekali. Padahal nanti malam Biao ingin meminta bantuanmu untuk-”
“Sharin akan segera sembuh setelah minum obat, Paman.” Tiba-tiba saja Sharin beranjak dari sofa itu. Semua berkas yang sejak tadi ia abaikan, ia ambil kembali. Sharin berjalan menuju ke meja kerja Tama untuk menyelesaikan tugasnya dengan segera.
Tama mengukir senyuman saat melihat kelakuan keponakannya itu, “Sharin, Sharin. Apa kau benar-benar telah tergila-gila dengan pria es itu?”