Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 10



Kembali ke Rumah utama.


Siang sudah berubah menjadi sore. Daniel tertidur di atas sofa, yang terletak di ruang utama. Pak Han membangunkan Daniel dari tidurnya yang lelap.


“Permisi, Tuan. Apa anda baik-baik saja.” Pak Han menyentuh pelan, pundak Daniel.


Daniel terbangun dari tidurnya, memperhatikan keadaan sekeliling. Lampu-lampu sudah kembali di hidupkan. Suasana di luar, juga sudah berubah gelap. Daniel mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Pak Han. Pak Han kembali membungkuk hormat.


“Apa aku tertidur di sini?” Daniel mengerutkan dahinya.


“Benar Tuan. Anda tertidur sejak siang. Saya tidak berani mengganggu anda. Nyonya memberi pesan kepada saya, untuk membangunkan anda ketika sudah sore,” jawab Pak Han dengan penuh hormat.


Daniel kembali mengingat, kejadian yang menyebabkan ia tertidur. Daniel terperanjat kaget, saat kembali mengingat nama Serena. Sudah berjam-jam, ia tidak mengetahui keadaan Serena di dalam kamar.


“Serena! Sayang, apa kau baik-baik saja!”


Daniel beranjak dari duduknya, berlari cepat menaiki anak tangga. Ia tidak lagi memperdulikan kehadiran Pak Han di sana. Pak Han hanya menggeleng pelan melihat tingkah Daniel saat ini.


“Nona Serena membuat Tuan Daniel, banyak berubah.” Pak Han pergi meninggalkan ruang utama.


Daniel membuka pintu kamar dengan cepat. Berlari masuk ke dalam kamar. Ia kembali bernapas lega, saat melihat Serena masih baik-baik saja. Serena memejamkan mata. Ia tertidur sambil memeluk bantal. Air mata sudah kering di pipinya. Ia tertidur dengan begitu tenang, napasnya terlihat teratur.


Daniel naik ke atas tempat tidur, mendekati tubuh Serena. Mengusap lembut rambut Serena. Mencium pucuk kepalanya dengan penuh cinta. Serena membuka matanya secara perlahan. Melihat kehadiran Daniel, Serena terperanjat kaget. Ia bangkit dari tidurnya, dan duduk berhadapan dengan Daniel.


“Sayang … apa kau takut padaku?” Daniel mengerutkan dahinya, memandang Serena dengan kecewa.


Serena menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak, aku hanya ….” ucapannya terhenti. Ia bingung, harus mulai dari mana untuk mengungkapkan isi hatinya. Ia merasa bersalah, karena sudah melukai hati Daniel hari ini.


“Kemarilah.” Daniel membuka kedua tangannya, meminta Serena agar berada dalam pelukannya.


Serena mendekati tubuh Daniel, memeluk pria itu dan memejamkan matanya untuk sesaat. Daniel mengusap lembut pundak Serena dan mencium pucuk kepalanya berulang kali.


“Jangan takut, aku tidak akan marah. Aku yakin, kalau aku bisa mendapatkan hatimu seutuhnya.”


Serena hanya memejamkan mata, mendengar perkataan Daniel. Ia tidak ingin menjawab perkataan Daniel saat ini.


“Sayang ….” Daniel mendongakkan kepala Serena.


“Ada apa? apa ada yang salah di wajahku?” Serena memandang wajah Daniel dengan penuh tanya.


“Kau belum mandi. Apa kau tertidur dengan begitu lama.” Daniel mengusap lembut pipi Serena.


“Kau juga belum mandi, Daniel.” Serena mendorong tubuh Daniel. Memasang wajah cemberut di hadapan Daniel.


“Hei, jangan marah. Aku punya solusi yang bagus untuk ini.” Daniel memeluk tubuh Serena dari belakang.


“Solusi?” Serena memandang wajah Daniel, yang kini ada di atas pundaknya yang kanan.


“Aku rasa, kita akan menghemat banyak waktu, jika mandi bersama,” jawab Daniel dengan wajah tidak bersalah.


“Daniel ….” ucap Serena dengan lembut.


“Aku tidak membutuhkan jawaban, sekarang aku akan membawamu ke kamar mandi.”


Daniel beranjak dari tempat tidur, berdiri dan mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya. Serena tersipu malu saat melihat tingkah Daniel saat ini. Dengan santai, Daniel membawa tubuh Serena masuk ke dalam kamar mandi. Keduanya mandi bersama di dalam bak mandi.


Suasana hati Daniel dan Serena, kembali berseri. Keduanya melupakan masalah yang terjadi tadi siang. Daniel terus menjahili Serena, untuk membuat wanita itu tertawa bahagia. Ia mencoba untuk menghapus nama Zeroun di hati Serena. Daniel hanya ingin, nama dirinya yang selalu melekat di dalam hati Serena.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Serena duduk di depan meja rias. Menatap wajah Daniel yang berdiri di belakangnya. Ia tersenyum bahagia saat melihat Daniel memperhatikan dirinya.


“Kenapa terus menatapku seperti itu?” tanya Serena dengan malu-malu.


“Mulai sekarang, aku akan lebih sering menatap wajahmu seperti ini.” Daniel melipat kedua tangannya.


Serena mematikan hair dryer, memasukkannya ke dalam laci. Mengambil sebuah sisir, untuk merapikan rambutnya yang sudah setengah kering.


“Sini aku bantu.” Daniel mengambil sisir yang di genggam oleh Serena. Menyisir rambut Serena dengan penuh kelembutan.


“Apa kau beralih profesi, sayang?” ledek Serena sambil menahan tawa.


“Aku bisa berubah profesi menjadi apa saja. Bila ada di dekatmu.” Daniel mengedipkan matanya sebelah.


Serena tersenyum saat melihat wajah Daniel dari balik cermin.


“Ayo kita makan, aku sangat lapar.” Serena memgang perutnya yang sudah keroncongan.


“Ayo kita makan malam di bawah. Aku juga sudah lapar. Kenapa Pak Han tidak membangunkanku untuk makan siang.” Daniel meletakkan sisir pada tempatnya.


“Itu karena kau sangat menyeramkan, jika sedang marah.” Serena berdiri dari duduknya.


“Sayang, aku sangat manis. Bagaimana bisa kau bilang, kalau aku menyeramkan?” Daniel mengukir senyumannya. Memamerkan kedua lesung pipi miliknya.


“Kau sangat mengemaskan, jika tersenyum seperti itu.” Serena manarik pipi Daniel.


Daniel menggenggam tangan Serena yang menyentuh pipinya. Menciumnya dengan lembut, “Aku mencintaimu, sayang.”


Serena tersenyum memandang wajah Daniel, “Aku juga mencintaimu.”


“Ayo kita turun, dan makan malam. Kau harus menghabiskan semua makanan yang ada di meja.” Daniel menarik pinggang Serena ke dalam rangkulannya.


“Apa aku di hukum lagi?” Serena menatap Daniel dengan wajah serius.


“Kau curang, Daniel.”


Daniel dan Serena berjalan pelan meninggalkan kamar. Menuruni anak tangga dengan wajah bahagia. Melupakan masalah yang terjadi tadi siang. Beberapa pelayan dan pengawal menunduk hormat, saat melihat Daniel dan Serena .


“Selamat malam, Tuan. Selamat malam, Nona,” ucap beberapa pelayan yang baru selesai menghidangkan makan malam.


Dua pelayan menarik kursi Daniel dan Serena. Mempersilahkan Daniel dan Serena duduk di kursi itu. Daniel mencari-cari keberadaan Pak Han, biasanya Pak Han selalu menyambutnya di meja makan.


“Di mana Pak Han?” Daniel menatap pengawal yang berjaga.


“Pak Han pergi keluar,Tuan. Beliau bilang, ada urusan penting yang harus segera di selesaikan.”


“Kenapa dia tidak bicara padaku.”


“Sayang, ayo kita makan. Mungkin Pak Han terburu-buru, hingga lupa meminta ijin.” Serena memegang tangan Daniel.


“Apa Biao dan Tama sudah pulang?” tanya Daniel lagi.


“Belum, Tuan.”


“Ini sudah lewat jam pulang. Kenapa mereka pulang terlambat.” Daniel kembali memikirkan Tama dan Biao.


Serena melepas genggaman tangannya. Menyandar pada kursi dan melipatkan kedua tangannya. Memandang wajah Daniel dengan tatapan tajam.


Danie menyadariperubahan sikap pada Serena. Ia mengukir senyuman manis untuk membujuk Serena, “Sayang, ayo kita makan. Ikan bakar ini sangat enak. Aku yakin, Pak Sam memasaknya dengan begitu istimewa.” Daniel memotong ikan bakar, meletakkannya di atas piring milik Serena.


Serena menutup mulutnya menahan tawa. Ia sudah berhasil menjahili Daniel malam ini, “Aku tidak serius. Kenapa wajahmu berubah seperti itu.”


“Sayang … kau ini. Aku akan membalasmu nanti.” Daniel melanjutkan makan malamnya.


Serena semangkin tertawa keras, melihat Daniel marah. Ia sangat terhibur, dengan sifat Daniel. Beberapa pelayan dan pengawal, hanya tertunduk takut. Di dalam hati masing-masing, tertawa bahagia melihat keharmonisan Daniel dan Serena pada malam ini.


***


Di rumah Zeroun Zein.


Zeroun baru saja tiba, di rumah miliknya yang ada di negara X. Lukas beranjak pergi meninggalkan Zeroun, untuk beristirahat. Zeroun menatap punggung Lukas, dan menghentikan langkah Lukas untuk pergi.


“Dimana Shabira?” tanya Zeroun tiba-tiba.


Pertanyaan Zeroun membuat langkah Lukas terhenti. Kakinya terasa membatu, ia tidak lagi bisa untuk berjalan. Dengan sekuat tenaga, ia membalikkan tubuhnya yang terasa berat. Mengatur napasnya dengan normal, agar tidak terlihat gugub di hadapan Zeroun.


“Shabira Bos? tangan kanan Nona Erena?” tanya Lukas dengan sedikit takut.


“Ya. Hanya itu Shabira yang ku kenal!” jawab Zeroun dengan santai.


Zeroun beranjak dari tempat tidur. Melangkah ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Zeroun menatap tajam ke wajah Lukas yang terlihat panik saat ini. Ia memperhatikan gerak-gerik Lukas dengan penuh selidik.


“Aku ingin bertemu dengannya. Dimana aku bisa menemukan dirinya?” Zeroun menatap tajam wajah Lukas.


“Wanita itu sudah menghilang lama, Bos.” Lukas menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


“Aku ingin kau membawa wanita itu di hadapanku. Aku yakin, dia masih hidup. Kita akan menyerahkan wanita itu kepada Kenzo. Pria itu akan sangat senang, jika kembali bertemu dengan Shabira.” Zeroun tersenyum tipis.


“Apa anda sudah punya rencana, Bos. Untuk mendapatkan Nona Erena lagi.” Lukas menatap wajah Zeroun dengan penuh selidik.


“Belum ada, tapi aku tidak ingin. Kalau Kenzo membenci Erenaku. Cepat atau lambat, Kenzo akan tahu, kalau Serena adalah orang yang sama dengan Erena. Ia akan memaksa Erena untuk memberi tahu keberadaan Shabira. Aku tidak ingin, pria itu menyakiti Erena. Saat ia tahu, kalau Erena yang membuat Shabira pergi meninggalkan dirinya.”


“Apa Nona Erena tahu, dimana keberadaan Shabira, Bos?” tanya Lukas lagi.


Zeroun menggeleng pelan, “Aku tidak tahu. Tapi untuk saat ini, kita akan sulit untuk bertemu dengan Erena. Pria itu akan terus mengawasi Erena, dan melarangnya untuk bertemu denganku lagi.”


“Tapi Nona Erena sudah kembali mengingat semuanya. Ia tidak pernah suka di paksa, Bos.”


“Kau benar, kita hanya perlu menunggu. Kapan Erena keluar dari rumah itu. Kita akan menemuinya di saat itu juga.”


“Wubin juga ada di negara ini, Bos. Dia mengincar anda dan Nona Erena.”


Zeroun kembali diam. Wubin memang musuh yang tidak bisa ia anggap lemah. Zeroun tahu, kalau Wubin akan terus menyerang dirinya dan Erena, untuk membalaskan dendam Arion.


“Dia memegang kendali, atas White Tiger saat ini, Bos. Apa tidak sebaiknya, kita kembali menghidupkan Gold Dragon? Kita akan mudah untuk melawan Wubin, Bos!” sambung Lukas.


Zeroun memang sudah lama meninggalkan dunia mafia. Geng Mafia Gold Dragon miliknya, ia bubarkan begitu saja, saat mendengar kabar kematian Erena waktu itu. Ia tidak lagi ingin masuk ke dalam dunia hitam.


Zeroun mengganti namanya dengan sebutan Mr. X, untuk mengelabuhi siapa saja yang sempat mendengar namanya. Ia membuka perusahaan, dan mengembangkannya dengan begitu mudah. Ia melupakan dendam yang pernah ada. Membiarkan semuanya hilang, seiring berjalannya waktu.


“Bos!” Lukas kembali mengulang perkataannya, saat melihat Zeroun tidak menanggapi perkataannya.


“Tidak! aku tidak butuh Gold Dragon. Aku hanya perlu bekerja sama dengan Kenzo, untuk menghadapi Wubin. Ia pasti akan membantuku, saat Shabira kembali di temukan.”


“Baik, Bos. Saya akan mencari Shabira dan membawanya bertemu dengan anda.” Lukas menunduk hormat, untuk menerima perintah Zeroun.


“Pergilah, dan temukan ia secepatnya.” Zeroun menyandarkan tubuhnya dengan santai. Memejamkan matau ntuk menenangkan pikirannya.


“Baik, Bos. Saya permisi dulu. Selamat beristirahat.”


Lukas memutar tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan Zeroun sendiri di dalam kamar. Menutup pintu dengan begitu pelan. Lukas berdiri di depan pintu dan kembali diam.


“Apa yang harus aku lakukan.” Lukas melanjutkan langkah kakinya dan pergi meninggalkan kediaman Zeroun Zein.