
Zeroun berdiri tegab di depan bingkai yang begitu besar. Menatap tajam, wajah yang sedang tersenyum manis untuknya. Saat ini, dia tidak tahu apa yang menyelimuti hatinya. Rasa bahagianya bercampur dengan rasa kecewa. Zeroun tidak pernah menghapus nama Erena dari hatinya. Meskipun ia tahu, Erena sudah tiada untuk selamanya.
Tetapi hari ini, takdir berkata lain. Zeroun kembali bertemu dengan wanita yang sangat ia cintai. Hatinya benar-benar yakin, kalau Serena adalah sosok yang sama dengan Erena. Tapi tatapan matanya telah berbeda. Tatapan mata Serena, tidak sama seperti Erena.
“Apa yang harus aku lakukan. Kenapa kau hadir hanya untuk membuat hatiku luka, Erena.”
Zeroun melangkah ke sebuah meja. Mengambil handphone yang terletak di atasnya. Satu nama yang sudah lama tidak ia hubungi, kembali muncul di dalam pikirannya. Zeroun mendekatkan handphone itu di telinganya. Tatapan mata dingin mewakili perasaannya.
“Lukas, aku mau kau datang menemuiku.”
Zeroun memutuskan panggilannya, melemparkan handphone itu ke atas sofa. Dan berjalan gusar menuju kamar mandi.
***
Di rumah utama.
Serena merasakan basah pada punggung tangannya. Perlahan ia membuka mata, untuk melihat sosok yang kini ada di hadapannya. Serena mengerutkan dahinya, saat melihat Daniel mencium tangannya dengan tetesan air mata.
“Daniel, apa yang terjadi. Kenapa kau menangis?” Serena duduk dari tidurnya.
“Serena, jangan tinggalkan aku.” Danial menarik tubuh Serena dan memeluknya dengan erat. Mencium aroma rambut Serena dan memejamkan matanya untuk sesaat.
Serena hanya diam berada di pelukan Daniel. Meskipun hatinya masih bertanya-tanya, tapi Serena memberi waktu untuk daniel menenangkan pikirannya.
“Berjanjilah padaku Serena. Apapun yang terjadi di kemudian hari, jangan pernah tinggalkan aku.” Daniel memegang kedua pipi Serena, dan menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
Serena mengangguk pelan, matanya terus memandang wajah Daniel yang terlihat sangat sedih.
“Jangan bersedih, Daniel. Jika itu karena pria tadi ….” Serena menahan perkataannya, dan menunduk dalam. Pikirannya kembali membayangkan Zeroun, yang menciumnya dengan paksa. Serena kembali menatap Daniel, dan mengukir satu senyuman indah di bibirnya, “Aku akan selalu bersamamu Daniel.”
“Serena. Aku sangat mencintaimu.” Daniel menatap wajah Serena dengan penuh cinta.
“Aku juga sangat mencintaimu, Daniel.” Serena kembali tersenyum lebar, mendengar pernyataan Daniel. Namun, hatinya kembali memikirkan nama Zeroun, ‘Kenapa hatiku terasa sangat sakit,’ gumam Serena dalam hati.
“Serena ….”
Daniel menyentuh dagu Serena dengan lembut, untuk mendongakkan kepalanya. Daniel mengecup bibir Serena dengan lembut. Sebelah tangannya menarik pinggang Serena. Matanya terpejam, untuk merasakan cumbuannya terhadap Serena. Serena mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang milik Daniel. Ciuman itu, terasa panas dan bergairah. Daniel memberi jeda untuk Serena menghirup udara segar. Keduanya hanya saling memandang.
“Aku menginginkanmu malam ini, Serena.” Daniel berbisik di telinga Serena dengan hembusan nafas yang menggoda. Serena hanya tersenyum manis menatap wajah Daniel.
Bibir Daniel mulai turun ke leher Serena, mengecup lehernya dengan penuh gairah. Jemari Daniel menurunkan gaun Serena, membantu Serena mengangkat tubuhnya. Gaun itu terlepas seluruhnya, terlempar ke lantai.
Malam yang di penuhi kekhawatiran itu, berakhir dengan penuh cinta. Daniel terus memiliki Serena, yang kini berstatus sebagai istrinya. Daniel tidak ingin melepas Serena dan menyerahkannya kepada Zeroun. Hatinya benar-benar sangat mencintai Serena.
***
Pagi yang cerah kembali bersinar. Burung-burung berkicau dengan merdunya. Cahaya matahari tampak menembus jendela, dari balik gorden yang transparan. Serena terbangun dengan senyum manisnya.
Saat membuka mata, wajah tersenyum Daniel yang pertama kali menyambutnya. Keduanya masih berada di bawah selimut yang menghangatkan. Tanpa sehelai benangpun yang mereka kenakan. Daniel sudah bangun beberapa saat yang lalu, namun ia tidak ingin untuk beranjak dari tempat tidur. Daniel terus menatap wajah Serena, hingga Serena terbangun dengan sendirinya.
“Pagi sayang.” Daniel memberikan morning kiss nya kepada Serena.
Serena kembali tersenyum manis, sebelum menjawab sapaan Daniel pagi ini, “Pagi juga sayangku. Apa kau tidak bekerja?” Serena melirik ke arah jam yang sudah hampir menunjukkan pukul 06.45 pagi.
Daniel menggeleng cepat, “Aku ingin seharian bersamamu, Sayang.” Mengusap lembut pucuk kepala Serena.
“Ya, hanya untukmu istriku.” Menarik Serena ke dalam pelukannya.
“Daniel,” ucap Serena dengan lembut, “Apa tidak masalah, jika kau tidak bekerja hari ini?” tanya Serena khawatir.
“Sayang, aku bos nya. Perusahaan itu milikku. Aku bebas melakukan apa saja.”
Serena mengerutkan dahinya, ‘Dasar orang kaya, mereka bebas melakukan apapun.’
Ketukan pintu memecahkan kemesraan di antara keduanya. Dengan wajah kesal, Daniel memandang pintu itu dari kejauhan.
“Siapa?” teriak Daniel dari dalam.
“Saya tuan, Biao. Apa anda baik-baik saja?” ucap Biao dari balik pintu.
Serena menutup mulutnya dan menahan tawa. Daniel melirik sebentar ke wajah Serena sebelum menjawab pertanyaan Biao.
“Aku baik-baik saja! Pergilah ke kantor dengan Tama. Aku ingin istirahat di rumah hari ini!”
Biao hanya diam sejenak, untuk mencerna perkataan Daniel, “Apa anda sakit tuan?” tanya Biao khawatir.
“Pergi Biao! Atau kau akan ku pecat sekarang juga!” ancam Daniel dari dalam kamar.
“Baik tuan! Saya akan berangkat bersama Tama, dan mengurus semuanya.” Biao beranjak pergi menjahui kamar. Sejenak ia menggelengkan kepala memikirkan perkataan Daniel. Saat kekhawatirannya, berimbas pada pekerjaannya, “Apa tuan Daniel dan nona Serena baik-baik saja?” ucapnya pelan, lalu kembali menuruni anak tangga.
Biao menemui Tuan dan Ny. Edritz di meja makan. Tama juga sudah berdiri di sana untuk menyambut Daniel yang belum juga turun. Tama menatap Biao dengan penuh tanya.
“Selamat pagi tuan, nyonya. Sepertinya tuan Daniel tidak bisa ikut sarapan. Tuan Daniel juga tidak berangkat ke kantor hari ini.” Biao menunduk hormat, sambil menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
“Mereka akan turun, kalau sudah selesai.” Ny. Edritz menjawab perkataan Biao dengan satu senyuman penuh arti.
“Permisi tuan, nyonya.” Tama menunduk hormat.
Biao hanya diam memikirkan perkataan Ny. Edritz. Sebelum akhirnya, Tama menarik tangan Biao untuk meninggalkan ruang makan.
“Apa yang kau pikirkan, Biao! Kau berdiri seperti orang bodoh!” ucap Tama dengan raut wajah kesal.
“Kenapa mereka tidak mengkhawatirkan keadaan tuan Daniel? ini pertama kalinya ia tidak keluar kamar untuk sarapan. Dan dia ….” Biao menggantung perkataannya, “Tidak datang ke kantor.”
“Kau tidak mengerti, Biao? Apa kau bercanda!” tanya Tama dengan tatapan penuh arti.
Biao hanya menggeleng pelan, “Apa yang di pikirkan tuan Daniel, apa dia masih memikirkan Zeroun Zein?”
Tama menepuk pelan pucuk kepalanya. Biao hanya berwajah sangar, namun hatinya terlihat sangat lugu.
“Apa aku juga harus menjelaskan hal ini?”
“Apa kau tahu. Apa yang menyebabkan semua ini, Tama?”
“Itu karena, ini pertama kalinya tuan Daniel memiliki istri. Ayo pergi, kita sudah hampir terlambat. Karena sifatmu yang konyol, Biao!” Tama melangkah cepat menuju mobil.
Biao memandang Tama sesaat, sebelum mengikuti langkah Tama menuju mobil. Mobil itu melaju cepat menuju S.G. Group.
Like dan komen, sebelum lanjut.