Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 7



“Selamat Siang, Ma … Pa ….”


Daniel menyapa Tuan Edritz dan istri. Tersenyum manis dan menarik tubuh Serena, agar duduk bersama di sofa. Serena menatap wajah Ny. Edritz dengan senyuman manis, sebelum kembali menunduk.


Ruang utama itu terlihat bersih dan cerah. Tiga sofa besar, mengelilingi meja kaca persegi. Bantal kursi tersusun rapi di atas sofa. Di atas meja ada pot yang berisi bunga mawar merah. Karpet bulu berwarna cokelat, tergelar indah di bawah meja. Lampu Kristal berwarna emas, menjuntai indah di atas.



“Daniel, apa kau sudah sehat?” Ny. Edritz menatap wajah Daniel. Posisi mereka saling berhadapan. Hanya meja kaca, berbentuk persegi yang kini membatasi.


“Iya ma, aku baik-baik saja. Besok sudah bisa kembali bekerja.”


“Serena, apa yang kau pikirkan, sayang?” Ny. Edritz beralih memandang wajah Serena.


“Serena minta maaf, Ma. Karena sudah menembak Daniel waktu itu.” Serena masih menunduk takut. Ia merasa bersalah karena hampir saja menghilangkan nyawa Daniel.


“Sayang, mama mengerti. Jangan pikirkan hal itu lagi. Mama juga tidak mau, lihat dirimu bersedih.” Ny. Edritz tersenyum dengan tulus.


“Sayang, kau dengar kata mama. Jangan bersedih lagi.” Daniel kembali mencium pucuk kepala Serena.


Serena memandang wajah Ny.Edritz. Ia kembali mengukir senyuman, di wajah indahnya, “Terima kasih, Ma.”


“Mama sangat menyayangimu, Serena. Maafkan mama, selama ini telah membohongimu. Mama tidak ingin, kau dan Daniel dalam bahaya.”


Wajah Ny. Edritz berubah sedih. Tuan Edritz memegang tangan Ny. Edritz, untuk memberi kekuatan padanya. Ny. Edritz memandang wajah Tuan Edritz sebelum melanjutkan ucapannya.


“Separuh harta S.G.Group, adalah milikmu Serena. Kau berhak mengambilnya, jika kau ingin. Mama dan papa, tidak melarangmu. Tuan Wang yang sudah menitipkan semua itu pada kami.”


Serena tersenyum memandang Ny. Edritz, “Ma … Serena sudah tahu tentang itu. Serena tidak ingin mengambilnya. Semua masalah yang ada di S.G.Group, Serena serahkan sama Daniel.” Serena menatap wajah Daniel.


“Sayang, kau tetap memiliki nama di S.G.Group.” Daniel menggenggam erat tangan Serena.


Serena menggeleng kepalanya pelan, “Aku tidak butuh harta, karena keluarga seperti ini yang selama ini aku impikan.”


“Serena, kami sangat menyayangimu. Sejak pertama kali Tuan Wang menjodohkan kalian. Papa sudah menyetujuinya, hanya saja … waktu itu usia kalian masih terlalu muda. Daniel juga masih menyelesaikan kuliahnya di luar negeri. Hingga berita tentang kematian palsu itu, papa dengar. Papa tidak pernah menyangka, kalau Tuan Wang secepat itu meninggalkan kita. Ia sangat menyayangimu, Serena. Apapun yang sudah ia lakukan, jangan pernah menyimpan kebencian padanya. Papa mewakili Tuan Wang, meminta maaf kepadamu, Serena.” Tuan Edritz menatap wajah Serena dengan penuh kesedihan.


“Papa … jangan katakan itu. Serena tidak pernah menyalahkan papa. Ini semua sudah menjadi takdir kehidupan, untuk Serena.”


Beberapa pelayan yang baru saja tiba, menghentikan obrolan serius mereka siang ini. Pelayan itu meletakkan empat gelas teh hijau, dan dua piring roti kering. Beberapa pelayan menunduk hormat, sebelum pergi meninggalkan ruang utama.


“Sayang, seharusnya aku menyadari semua ini. Aku sudah banyak membuang waktu berhargaku. Aku sangat menyayangimu. Apapun yang pernah terjadi di masa lalumu, ingatlah ! kalau kau adalah Nona muda di keluarga Edritz Chen.”


Daniel menarik hidung Serena dengan lembut. Ia kembali menjahili Serena, untuk menghilangkan wajah sedih yang melekat pada Serena.


“Kau menyebalkan!” Serena mengedipkan sebelah matanya. kata-kata itu adalah kalimat yang sering di gunakan Daniel, untuk meluapkan emosinya pada Serena. Hari ini Serena menggunakannya, untuk meledek Daniel.


Tuan Edritz lebih dulu mengambil teh yang tersedia, Ny. Edritz mengikuti. Daniel dan Serena masih bercanda seperti biasa, tidak lagi ingat dengan orang sekitar.


“Serena ….” Ny. Edritz memecah tawa keduanya. Wajah Ny. Edritz kembali berubah.


“Ada apa ma? kenapa wajah mama berubah jadi serius seperti itu?” tanya Daniel penuh curiga.


“Daniel, mama dan papa akan kembali pergi untuk mengurus perusahaan di sana. Mama dan papa pulang, karena masalah ini. Tapi sekarang sudah selesai, mama dan papa akan kembali pergi.”


“Secepat ini, Ma?” Daniel mengerutkan dahinya.


“Kau ingat perkataan mama waktu itu, Daniel?”


“Perkataan ….” Daniel terdiam untuk kembali mengingat.


“Daniel, mama pernah bilang. Suatu saat nanti, jika kau sudah menikah. Rumah ini akan menjadi milikmu. Kau akan menghidupkan keluarga kecilmu di sini. Mama dan papa akan pergi meninggalkanmu.”


“Ma, rumah ini juga tempat tinggal mama dan papa. Jangan bicara seperti itu.” Serena menatap wajah Ny. Edritz dengan sedih. Ia tidak ingin jauh dari Ny. Edritz.


“Serena, mama dan papa akan tua. Kami juga akan pergi, jika waktunya tiba. Mama hanya menginginkan seorang cucu hadir di keluarga kita. Anak kalian berdua. Itu satu impian, yang selama ini mama inginkan, Serena.” Ny.Edritz menatap wajah Serena dengan wajah penuh harap.


“Ma, mama akan segera mendapatkan cucu,” jawab Daniel santai. Ia kembali melirik wajah Serena, dan mengedipkan sebelah matanya.


“Ia ma, apa yang di katakan Daniel, benar. Mama akan segera punya cucu. Kami akan memberikan mama cucu yang paling menggemaskan,” jawab Serena pelan.


“Benarkah? mama akan sangat bahagia, jika hal itu benar terjadi,” jawab Ny. Edritz dengan wajah berseri-seri.


Serena kembali menunduk dan melamun. Ia tidak lagi mendengar perkataan yang lainnya. Ia kembali mengingat Zeroun. Entah kenapa, tiba-tiba nama itu kembali memenuhi hatinya. Ny. Edritz kembali mengingatkan Serena dengan masa-masa indahnya bersama Zeroun. Janji indah, yang pernah ia ucapkan untuk Zeroun. Hatinya terasa sangat perih, seperti teriris dengan sembilu pisau. Buliran air mata menetes dengan begitu cepat. Serena mencengkram kuat, dres yang kini ia kenakan.


“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” Daniel menghapus buliran air mata yang menetes.


“Zeroun.”


Satu kata yang diucapkan oleh Serena, membuat suasana berubah menjadi dingin. Tuan dan Ny. Edritz Edritz memandang wajah Serena dengan penuh tanda tanya. Daniel melepas genggaman tangannya dari Serena.


Serena menutup mulutnya. Ia tidak pernah menyangka, akan menyebutkan kembali nama itu di hadapan Daniel. Serena tahu, nama itu akan membuat Daniel murkah dan marah. Daniel sangat membenci nama itu.


“Maafkan aku, Daniel.”


Serena beranjak dari duduknya. Berlari cepat ke arah tangga. Serena menjejaki tangga, tidak ingin memandang ke belakang. Air matanya terus menetes, ia menghapus setiap buliran yang jatuh. Namun, buliran air mata itu semangkin deras.


Like, Komen dan Vote