Hot Daddy

Hot Daddy
kebaikan Shila



Keesokan harinya, saat hari sudah mulai pagi. Arsen membuka matanya dia melirik ke sampingnya dimana Arini masih belum membuka matanya. Arsen mengambil ponselnya dan mengecek jam. Ternyata masih jam delapan pagi. Dengan cepat Arsen turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.  


Selang beberapa menit kemudian, Arsen sudah selesai dengan mandinya. Dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuh yang basah dan wangi. Arsen menyugar rambutnya yang basah ke belakang hingga tanpa sadar tetesan air nya mengenai Arini dan membuatnya terbangun.


Awalnya Arini mengernyitkan keningnya ketika ada sesuatu yang basah menimpanya, dia membuka matanya secara perlahan dan melihat Arsen yang ternyata sedang menyisir rambutnya. "Selamat pagi Mas" ucapnya ketika pertama kali membuka mata. Arsen langsung menoleh kemudian dia tersenyum pada Arini. "Pagi juga sayang, gimana tidurnya semalam?" tanya Arsen. Arini semakin menaikkan selimutnya kemudian dia bangun dan duduk bersandar. "Sepertinya tidurku pulas banget semalam, mungkin gara gara kecapean juga ya Mas" jawab Arini sambil menyengir.


"Capek dari mananya? Kan aku yang goyangin. Kamu kan tinggal menikmati saja" Arsen masih terus fokus merapikan rambutnya dengan sisir. Arini hanya menggelengkan kepalanya melihat Arsen yang seolah olah sedang fokus. "Mas, pakai dulu bajunya habis itu baru rapikan rambut. Itu rambut bisa berantakan lagi nanti" Biasanya tiap Arsen selesai mandi, Arini yang mengurus segalanya. Dia yang menyiapkan pakaian Arsen, sepatu bahkan kaos dalamnya pun. Arini juga selalu bersikap layaknya istri kepada suami. Dia belajar bertanggung jawab terhadap suaminya. "Nanti bisa dirapikan lagi" jawab Arsen.


.


.


Kebetulan pada saat itu, Arini melihat tteopokki dalam drama itu, ttepokki adalah sejenis makanan yang terkenal di korea karena selalu muncul di setiap drama korea. Dalam drama yang ditontonnya Arini merasa sangat berselera, dia mengambil ponselnya untuk menelfon seseorang. Tapi siapa yang harus ia telfon. Arsen dan Max pasti akan sibuk di kantor. Via dan Gabriel juga pasti sedang kuliah. "Shila? Oh iya dia kan tidak masuk hari ini" dengan cepat Arini mencari nomor Shila kemudian langsung menghubunginya.


"Halo, kenapa Rin?" Sapa Shila untuk pertama kalinya di balik telefon. Arini merasa dejavu karena Shila langsung mengangkat telfonnya. Bukannya kenapa, biasanya Shila suka menunda nunda mengangkat telefon. Banyak sekali alasannya, kadang sedang minum, buang air atau hal lainnya. Makanya Arini sepertinya sedang senang sekarang. "Rin, lo kok gak ngomong sih. Lo masih hidup kan?" tanya Shila dengan kurang ajarnya.


"Enak aja, gue masih sehat nih" Sewot Arini. Kemudian Arinu hanya mendengar suara tawa dari sana, sepertinya sahabat oon nya itu sedang menertawakan dirinya. "Shil" panggil Arini. "Iya, kenapa?" kali ini Shila mencoba untuk lebih serius karena dari suara Arini, Shila merasakan keseriusan yang sungguh luar biasa. "Lo tahu gak dimana tempat yang menjual tteokbokki ala ala korea gitu?" Arini merebahkan dirinya di atas sofa sambil lanjut melihat drakornya. "Tahu sih, emang kenapa?" Shila mulai merasa ada hawa hawa yang tidak enak saat itu.


"Shil, gue minta tolong banget ya sama lo. Kebetulan sekarang gue lagi pengen makan itu  atau sebenarnya gue mengidam sih lebih tepatnya. Gue pengen banget makan tteokbokki. Lo beliin ya buat gue, soal uang nanti aku transfer ke rekening kamu" Arini tidak mendengar apapun setelah dia mengatakan hal itu. Bahkan Shila di sana juga tidak mengatakan apapun. "Karena gue lagi baik sekarang, ya udah gue belikan buat lo. Lo gak usah transfer, awas aja kalau sampe lo transfer gue gak mau membelikannya buat lo. Paham?"


Arini mengangguk dengan cepat, dia sudah tidak sabar sekali untuk menyantap makanan lezat seperti itu. Arini mengelus perutnya yang semakin hari bertambah besar. "Kamu ingin makan tteokbokki ya nak, sebentar ya Tante shila pasti bakal beliin buat kamu" Shila mematikan panggilan mereka. Kemudian dia mulai berganti pakaian dan bersiap siap untuk pergi ke luar. Shila tidak segan segan untuk membamtu sahabatnya, seperti sekarang ini. Dia rela meluangkan waktunya untuk membeli makanan yang diinginkan Arini.