Hot Daddy

Hot Daddy
Bukan dibunuh



Keesokan harinya, diam diam Arsen masuk ke dalam kamar Max. Tanpa sepengetahuan Arini. mereka telah merencanakan sebuah tipu muslihat yang membuat mangsa mereka keluar dengan sendirinya. Arsen mengajari Max untuk tidak menjadi laki laki yang lemah. Karena laki laki yang lemah adalah laki laki yang gampang ditemukan sedangkan yang kuat sangat susah untuk mencari orang seperti dia. "Kamu yakin kalau kamu bisa melakukan ini?" tanya Arsen pada Max. Max sebenarnya masih ragu dengan semua ini, tapi mengingat kelakuan orang itu terhadapnya membuatnya naik pitam jadi dia memilih opsi yakin saja. Dan pilihannya berhasil membuat Arsen tersenyum. Arsen terlihat mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya kemudian memberikannya pada Max. "Kamu pegang ini, kamu gunakan jika kamu butuh hal itu"


Max mengambil pistol yang diberikan oleh Arsen itu. Baru pertama kali bilang mungkin masih agak agak takut tapi sekarang dia sudah berani memegang pistol sendiri. "Kapan kita akan pergi menemui dia?" tanya Max. Arsen berdiri kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku celanaya sambil melihat pemandangan di luar jendela yang sangat besar. "Sebentar lagi, kita harus mengalihkan perhatian Arini terlebih dahulu. Jangan sampai dia mengetahui tentang rencana kita apalagi ini ada sangkut pautnya juga denganku." Max mengangguk lalu kemudian dia memeluk Arsen sekilas. "Makasih kak, dari dulu kamu selalu aja membantuku dalam menyelesaikan masalah"


"Setelah ini aku berharap ke depannya kamu akan tetap menjadi Max yang seperti ini. Max yang kuat dan semangat bukan Max yang pecundang seperti dulu. Ingat Max, selagi kamu masih menjadi pecundang maka masih banyak pula orang yang ingin menjatuhkanmu." Arsen akan merubah total sifat Max, menurutnya Max terlalu baik dengan keadaan di sekitarnya. Tidak peduli dengan dunia yang kejam. "Aku berjanji mulai sekarang aku tidak akan seperti aku yang dulu lagi" Arsen mengangguk lalu menepuk bahu Max. "Ingat Max, kamu harus menjadi pria yang tangguh, lakukan pekerjaanmu dengan baik. Dan jangan menindas kaum yang lemah."


.


.


"Mas Arsennya kemana bi?" tanya Arini. Bi Mina sebenarnya tahu tujuan mereka tapi karena Arsen melarangnya untuk tidak memberitahu maka Bi Mina sebaiknya tidak memberi tahu. "Anu Non, bibi tidak tahu tadi Tuan Arsen masih ada disiniĀ  tapi sekarang sudah tidak ada. Tuan Max sepertinya dia juga sibuk dengan kegiatannya sendiri" Arini mengangguk kemudian Bi Mina langsung memberikan makanan yang sudah ia siapkan untuk Arini tadi. "Silahkan dimakan dulu ya Non, bibi mau pergi ke dapur dulu. Ada banyak pekerjaan yang harus bibi selesaikan sekarang juga" ucap Bi Mina. "Iya bi" jawab Arini" setelah itu Arini mulai fokus memakan makanan yang dimasak Bi Mina tadi dan sepertinya bumbunya itu udah mulai enak sekarang.


Karena sangat kesepian akhirnya Arini memilih untuk menonton televisi Dia mengambil remot kenudian menghidupkan layar televisinya. "Selamat siang pemirsa hari ini polisi menemukan sebuah kasus baru, seorang wanita ditemukan tewas di rumahnya sendiri diduga karena adanya pembunuhan. Terlihat dari sayatan sayatan dan satu peluru yang menancap tepat di jantungnya hingga korban langsung meninggal di tempat" Arini termenung, kalau mengingat masala itu Arini jadi teringat dengan Arsen yang dulu tapi dia bersyukur karena sekarang Arsen sudah berubah jadi sudah pasti itu bukan dia


Dua orang pria menggunakan topeng dan sarung tangan. Mereka melewati keramaian di sebuah rumah dengan sangat mudah. Apalagi perhatian orang orang hanya terfokus pada mayat itu saja sehingga kehadiran mereka berdua tidak disadari oleh orang orang. Tapi tiba tiba seorang anak kecil menangis dan langsung menunjuk mereka berdua sehingga perhatian semua orang menjadi berpusat kepada mereka. Arsen dan Max langsung melepas topeng dan sarung tangan mereka dan bersikap seolah olah mereka disini sama seperti mereka, yang penasaran tentang kematian orang itu. Beruntung mereka hanya memperhatikan Arsen dan Max dalam hitungan detik. Selanjutnya hanya mobil polisi lah yang terdengar dan mengarah ke rumah itu.