Hot Daddy

Hot Daddy
S.2. Eps 42 Kebersamaan



Leon langsung berlari dan meloncat di punggung indah Aiden. Aiden langsung memegangi Leon dengan sebelah tangannya khawatir Leon jatuh. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk melawan Zain. Zain dan Leon sama sama berusaha dengan keras. Arsen dan yang lainnya terus menyimak dengan serius. "Pffttttttt Pfttttt piu piu" tangan Leon berada di leher Aiden sambil menggelitikinya. Arsen yang merasa kegelian menggerakkan kepalanya supaya Leon berhenti melakukan itu. Fokusnya sudah terbagi menjadi dua. Dan Zain tidak menyianyiakan hal itu. Dengan sekuat tenaga akhirnya Zain bisa mengalahkan Aiden dengan mudahnya. Leon tertawa sambil menunjukkan giginya yang masih belum lengkap.


"Yeayyyy Kak Den den menang, beliin es klim dong"


"Bukan dia yang menang bocah, tapi gue. Kakak Zain" Kesal Zain pada Leon.


"Ka Kak Zapy? "


"Z-A-I-N Zain bukan Zapy"


"Kakak Zapy" Leon mengerjapkan matanya dengan polos pada Zain. Zain hanya bisa berdecak kesal kemudian melihat ke Arah Aiden dengan penuh kemenangan. "Sesuai kesepakatan, mending lo buka semua Sosmed lo dan bilang kalau, gue yang terkuat"


Aiden mendengus kemudian mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Dia membuka layar Hp nya dan menunjukkannya pada Zain. "Tapi, sayang nya gue gak punya Sosmed" Aiden berdiri kemudian langsung membawa Leon kabur. Zain hanya terperangah di tempatnya.


"DASAR PENIPUUUUUUUUU"


"Ku kira anak gue unggul tapi... Ah sudah lah anak Arsen lebih pinter" Gumam Dani yang bisa didengar oleh Zain.


"Papi gak jelas" Zain malah melimpahkan kekesalannya pada Dani dan segera pergi entah kemana. Arsen tertawa dengan keras melihat ekspresi Dani yang sangat lucu.


"Papi kok takut sama anak" ledek Angga.


"Papi nya lembek sih, sama Maminya aja takut apa lagi kecebong gedenya" tambah Max yang membuat Dani semakin kesal. Dani mengambil bantal di sofa dan melemparnya tapi malah mengenai Mario yang diam saja dari tadi. Mario langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pelaku. Dani langsung mengangkat tangannya sambil tersenyum cengengesan. "Pisss om gak sengaja"


"Kamu mau om makan?"


Dani meneguk ludahnya dengan kasar, dia tau masa lalu Mario makanya dia sedikit takut. Dari kejauhan Dani melihat Shila yang bersama temannya. "Sayang, tunggu disitu bentar"


"Tunggu ya Om mau ngomong sama istri sebentar"


Dani langsung berjalan dengan cepat dan menghindari Mario.


"Cemen, gitu aja takut" ucap Mario.


"Nakutin apa nya? Papa udah tobat kali"


"Tobat tobat meresahkan ya om" timpal Angga.


"Tau tuh si Om"


Mario hanya terkekeh, dia tadi hanya bercanda pada Dani. Tidak mungkin juga dia melakukan half


itu lagi. Mario sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjadi orang baik.


.


.


"Shil, Suami lo kenapa tuh. Kek orang nahan boker aja" ucap Gabriel pada Shila. Mereka semua bersantai di ruang tamu yang juga terhubung pada ruang keluarga yang ditempati oleh para suami mereka.


"Bukan nya mukanya emang seperti itu ya? " Sahut Via


Shila menggeplak kepala Via. "Enak aja, suami gue tuh tampan tau gak. Mungkin seperti itu karena lagi mikir aja" jawab Shila. Arini hanya terkikik melihat wajah Shila. Dan tak lama kemudian Dani sudah Ada di hadapan Shila. "Kenapa kak?" tanya Shila pada suami nya. Meskipun mereka sudah menikah tapi Shila lebih nyaman memanggil suami nya dengan Kak. Menurut Shila panggilan itu lebih Romantis daripada harus mengubah panggilan yang membuat keduanya tidak nyaman.


"Aku gabung disini aja dulu, bentar aku kesana lagi"


"Lah emang kenapa kak?" tanya Via yang juga penasaran.


"Gpp kok" Jawab Dani dengan senyuman manisnya.


"Anak anak pada kemana? " tanya Arini kemudian. Dari tadi mereka belum melihat anak mereka bersama. Gabriel hanya mengangkat bahunya dengan acuh tidak acuh.


"HEH ANAK GUEEEEEE" Via berteriak histeris