
Hari ini Shila sedang berada di rumah Doni dan Dani. Dia sengaja datang kesini hanya untuk mengantarkan masakan yang ia masak. Dan beruntung ibu Dani sedang tidak di rumah jadi Shila tidak perlu merasa sungkan lagi. Ketika melihat Dani keluar dengan pakaian rapi nya Shila langsung tersenyum. "Ini aku bawain hasil masakan aku sama kakak dan aku harap kakak menyukainya" Dani mengambil rantang makanan yang diberikan Shila lalu menaruhnya di meja samping. "Makasih sayang, tumben rajin? Pasti ada mau nya nih" Dani memicingkan mata pada Shila dengan penuh curiga. Shila hanya menggelengkan kepalanya. "Ih enggak kok kak, hari ini aku tidak mau apa apa. Aku nganterin makanan ini biar kakak bisa makan di kantor dan gak perlu jajan di luar lagi. Tapi maaf ya rantang makanannya bermotif hello kitty gitu soalnya itu rantang makanan yang biasa digunakan Mama buat nganter makanan ke adek" ucap Shila sambil menatap wajah tunangannya.
Dani langsung menarik Shila dan mendekapnya dengan erat. "Makasih ya" ucapnya kemudian yang juga disertai dengan ciuman di pipi Shila. Wajah Shila dibuat memerah oleh Dani. Dani hanya terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya pada Shila. "Ehemmmm" deheman seseorang membuat pelukan mereka terlepas begitu saja. "Kalau mau romantisan liat tempat dong" setelah mengatakan hal itu Doni kembali masuk ke dalam lagi. "Kalau iri bilang Don" jawab Dani kemudian. Shila hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Doni itu. "Kamu gak ke kampus?" tanya Dani pada Shila. "Nah itu dia tujuanku kesini, aku mau minta anter ke kampus sama kakak. Sekalian aku juga mau ngenalin kakak sebagai tunanganku di depan semua orang kampus"
Dani mencubit hidung Shila dengan gemas. Dia sudah bisa menduga kalau Shila datang ke rumahnya dengan membawa suatu niat. Dan sekarang terbukti benar. "Kamu tuh ya kalau mau dianter bilang aja sama kakak. Gak usah pake modus mau nganterin makanan segala. Kakak tuh udah tau niat kamu" Shila hanya menyengir yang membuat Dani semakin gemas padanya. "Ya udah ayo kakak anterin sekarang sekalian kakak juga mau pergi ke kantor" Shila mengangguk lalu Dani merangkul Shila dari samping kemudian membukakan pintu mobil untuknya. Setelah memastikan Shila duduk dengan benar Dani langsung berputar dan masuk ke dalam mobilnya. "Jangan lupa sabuk pengamannya dipake" ucap Dani sambil memasang sabuk pengamannya.
"Iya kak"
Setelah Dani dan Shila pergi baru lah Doni keluar dari dalam rumahnya. Dia sengaja tidak keluar lebih dulu karena dia tidak mau melihat keromantisan mereka di depannya. Doni mengunci pintu rumahnya kemudian menaruh kuncinya di tempat biasa, dia juga bergegas pergi kantor. Dan Doni berharap hari ini bisa lebih baik dari kemarin. Karena kemarin adalah hari terburuk yang pernah Doni alami. Doni menghela nafasnya dengan kuat kemudian dia menaiki mobilnya dan segera pergi ke kantor.
.
.
"Sayang, ikat pinggangku kok gak ada? Coba kamu cariin sini"
Arini dan Via yang sedang membaca buku kehamilan di ruang tengah tidak menghiraukan mereka. Jelas jelas mereka sudah menyiapkannya di kasur. Arini dan Via sudah tahu modus suami mereka masing masing. Dan sekarang modus mereka tidak akan mempan lagi. "Tumben Arini tidak menjawab panggilanku" Arsen melihat ke arah pakaian kantornya yang sudah tersedia di kasur. "Sudah tidak mempan lagi ternyata" gumam Arsen sambil terkekeh. Sedangkan Max dia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Via tidak menyiapkannya ikat pinggang melainkan tali rafia yang terletak di sampimg kasurnya. Entah apa maksudnya dia menyiapkan hal itu. "VIAAA KALAU DIPANGGIL SUAMI ITU JAWAB, IKAT PINGGANG MAS KAMU SIMPAN DIMANA?" Arini hanya tertawa ketika mendengar suara teriakan Max. Suami dan Istri sama saja. Dulu Via yang teriak teriak sekarang Max. Mungkin kalau anak mereka lahirĀ bisa menjadi jelmaan tarzan. "Cepat sana susulin suami lo bisa bisa rumah menjadi hutan ntar kalau dilanjut" ucap Arini
"Iya iya bentar Mas" jawab Via. Arini hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia juga memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa Mas?" tanya Via setelah berada di dalam kamarnya. "Ini ikat pinggang Mas mana? Kamu bukannya nyiapin ikat pinggang malah nyiapin tali rafia." Max membongkar seluruh isi lemari dan untung saja dia tidak memberantakinnya kalau tidak Via pasti akan marah padanya. "Sebenarnya ikat pinggangnya kemarin aku patahin jadi beberapa bagian eh tapi itu bukan salahku Mas. Itu keinginan anak kamu maksudnya anak kita" Max langsung menoleh ke arah Via dengan cepat. "Kamu patahin dia?" tanya Max dengan tidak percaya. Via hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa beban. "Dan tali rafia itu aku berikan sebagai ganti ikat pinggang Mas? Nanti aku belikan yang baru deh. Tapi untuk saat ini mas pakai tali rafia dulu"
Max ingin marah tapi ketika melihat wajah polos Via bukannya marah dia malah menciumi seluruh wajah Via dengan gemas. "Ihhh mas jangan dicium"
"Siapa suruh kamu matahin ikat pinggang Mas"