
"Mau kemana kamu?" tanya Arsen yang baru saja pulang dari hutan ketika melihat Max yang sudah Rapi dan wangi. Tak biasanya Max rapi seperti ini, Biasanya kalau Malam hari Max hanya sekedar menggunakan Boxer dan kaos kalau di rumah. Dan sekarang entah ada angin apa Max bisa serapih seperti ini. Max menolehkan kepalanya menghadap Arsen. "Mau kencan sama Via, kamu sendiri dari mana? Gak biasanya pulang selarut ini"
"Kerjaan kantor numpuk, makanya bisa sampe malem gini. Arini mana?" Arsen mengalihkan perhatiannya dan melihat ke seluruh ruangan dan tidak menemukan Arini dimana pun. "Lagi di kamar, istirahat. Tadi sempat pingsan di kampusnya" jawab Max. "Arini pingsan?" tanya Arsen dengan nada khawatirnya. Max menganggukkan kepalanya. "Kamu lihat sendiri aja di kamarnya, aku mau berangkat kencan dulu."
Setelah itu Max mulai melangkah, tapi di langkah ketiga ia membalikkan tubuhnya dan menatap Arsen kembali. "Tapi ingat, jangan macam macam. Arini lagi sakit, dia tidak kuat menahan nafsu kamu jika kamu benar benar melakukannya" Arsen menatap tajam Max yang disambut dengan kekehan oleh Max. "Aku gak setega itu buat goyangin dia dalam keadaan sakit, dah sana pergi."
Setelah Max benar benar pergi, Arsen langsung naik ke atas dan menuju ke kamar Arini. Arsen mengetuk pintunya tapi tak ada jawaban, jadi dia langsung membukanya begitu saja. Arsen masuk ke dalam kamar Arini kemudian menutup pintunya kembali. Ia menghampiri Arini yang sudah tidur lelap. Arsen duduk di kasur Arini dan mengecup kening Arini dengan singkat. "Cepat sembuh sayang"
Arini melenguh sebentar saat merasakan kecupan di keningnya, tak lama kemudian mata yang tadinya terpejam bergerak sedikit demi sedikit dan terbuka dengan sempurna. Saat itu matanya langsung bertubrukkan dengan bola mata Arsen yang kini jaraknya hanya beberapa senti dari wajahnya. Kentara sekali kalau Arsen habis menciumnya. "Daddy, kapan pulang?" tanya Arini sambil berusaha untuk bangun.
"Jangan bangun sayang, istirahat aja. Daddy baru pulang karena tadi di kantor lagi banyak pekerjaan." ucapnya sambil tersenyum pada Arini. Arini mencium sesuatu yang menyengat di sampingnya, seperti bau amis dari darah itu. Dan itu sangat jelas sekali. "Kenapa sayang?" tanya Arsen ketika melihat Arini yang mengerutkan hidungnya beberapa kali. "Arini mencium bau darah, tapi masa sih di kamar ada darah. Arini juga lagi gak ngalamin menstruasi"
Arsen terdiam sesaat, lalu tiba tiba ia teringat kalau ia mengantongi darah di saku kemejanya yang sedikit tertutup oleh jas nya. Arsen mengambil semua darah dari Gavin dengan caranya sendiri. Ia akan menjadikan darah itu sebagai minuman bagi para singa singanya. Arini merasa heran karena tiba tiba saja Arsen langsung melamun. "Daddy? Kok bengong? Mikirin apa sih'' ucapnya sambil melambaikan tangan di depan wajah Arsen.
Arsen langsung sadar kembali. "Maaf sayang, mungkin perasaanmu saja. Lagian kamarmu bersih gini gak mungkin ada darah." lanjutnya. "Kok Daddy kayak menyembunyikan sesuatu sih" ucap Arini dalam hatinya. "Ya udah Daddy mandi dulu, habis ini nanti Daddy bawain makanan, kamu pasti belum makan kan?" Arsen berusaha mengalihkan pembicaraan agar Arini tidak mencurigainya.
"Hmm ya udah deh" ucap Arini. Arsen tersenyum kemudian bergegas keluar dari kamar Arini. Setelah itu ia pergi ke ruangan kerjanya untuk meletakkan kantong darah itu, ia akan menyimpannya di ruang kerjanya sementara waktu. Setelah itu Arsen menuju ke kamarnya dan bersiap untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
.
.
"Iya" jawab Arini. Arsen mendorong Arini ke tempat tidur hingga tubuhnya terlentang di atas kasur, ia tidak ingin berciuman seperti biasanya, Arsen ingin merasakan perbedaan dari ciuman kali ini.
Arsen mengabaikan larangan Max untuk tidak menyentuhnya, toh Keadaan Arini sudah membaik. Yang penting sekarang Arsen menyalurkan nafsunya. Dari pagi ia hanya membangun emosinya dengan melampiaskan pada Gavin. Arsen dan Aerio Meskipun orang yang sama tapi sikap mereka sangat berbeda. Terbukti dengan Arsen saat berada di rumah, tidak ada sedikit pun gurat wajahnya yang menunjukkan kalau dia seorang Mafia. Arsen terlalu pintar menyembunyikan semuanya.
Arsen menumpu kedua lengannya agar tubuhnya tidak menindih Arini dengan terlalu berat. Lalu ia memulai dengan mencium kening Arini, lalu turun pada mata, hidung, pipi dan yang terakhir Arsen mendaratkan bibirnya pada bibir Arini. Arsen mendiamkan bibirnya selama beberapa saat, lalu ia mulai membuka mulut Arini dengan lidahnya. "Buka sayang" ucap Arsen.
Arini membuka sedikit mulutnya dan memberikan Arsen akses untuk ******* bibirnya. Arini melingkarkan kakinya di pinggang Arsen dan mengalungkan tangannya di leher Daddy nya itu. Tubuh mereka benar benar menempel kali ini, bahkan Arini merasakan benda pusaka Arsen yang sudah tegak itu. Arsen ******* bibir Arini dengan bibir seksinya, menyesap setiap rasa manis dari bibir Arini. Bahkan Arsen sedikit menggigit bibirnya.
Tangan kanan Arsen mulai menyusup ke dalam kaos Arini, Arsen memilin puncak dada Arini dan menjadikannya seperti mainan. Ia sangat suka setiap kali memainkan dada Arini. Karena dada Arini adalah bagian favoritnya sekarang. Arsen melepaskan ciumannya dan menatap wajah Arini. "Ayo kita lakukan di kamar mandi sayang" ucap Arsen sebelum mengecup bibir Arini. Arini tersenyum lalu mengangguk, ia sudah kepalang basah karena Arsen dan sekarang Arini harus menuntaskannya.