
Satu minggu setelah berita kematian Ririn, keadaan sudah kembali seperti dulu lagi. Max yang biasanya suka menyendiri dan diam sekarang udah bersikap biasa lagi. Akan tetapi Arini masih belum mengetahui satu hal bahwa penyebab kematian Ririn adalah karena mereka berdua. Seandainya dia tahu apakah Arini akan membenci lagi? "Non, mau pake lauk apa?" tanya Bi Mina pada Arini. Bi Mina sedang membantu menyiapkan sarapan mereka. Tapi panggilan Bi Mina tidak Arini hiraukan karena asik melamun hingga akhirnya tangan besar Arsen menempel di bahunya dan menyadarkannya. "Kamu kenapa hmm? Bi Mina tanya kamu mau lauk apa?" Arini langsung menoleh ke arah Bi Mina. "Emm maaf Bi, Aku mau ayam sama daging itu" ucapnya dengan yakin.
"Baik Non" dengan segera Bi Mina mengambilkan lauk yang diinginkan oleh Arini kemudian dia memberikan piringnya pada Arini. "Ini non Silahkan dimakan" Arini mengangguk sambil tersenyum. "Makasih ya Bi" Ucap Arini. "Sama sama Non, kalau gitu Bibi teh mau kembali ke dapur dulu yah mau nyuci piring" Arsen menghentikan makannya lalu melihat ke arah Bi Mina sejenak. "Bibi disini saja makan bareng kita, mulai sekarang Bibi gak boleh makan sendirian lagi. Jadi ayo kita makan. Max berikan tempat untuk Bi Mina" Max mengangguk kemudian dia mengambilkan kursi untuk Bi Mina. "Tapi tuan bukan kah semuanya ini tidak pantas untuk saya, saya disini hanya pembantu tuan." Bi Mina menunduk , dia sangat malu sekali dengan kerendahan hati tuannya ini.
"Bibi bukan hanya pembantu disini tapi juga ibu dari rumah ini. Bibi sudah kami anggap seperti ibu sendiri dan nenek bagi Arini. Jadi jangan mengatakan hal seperti itu lagi ya" Arsen berdiri dari tempatnya kemudian melayani Bi Mina dengan mengambilkan makanan untuk Bi Mina. Dia melakukan ini tulus dari dalam hatinya tidak ada niat buruknya. Memang sudah sepantasnya Arsen memperlakukan Bi mina seperti ibunya sendiri. Karena dari Arsen kecil Bi Mina lah yang paling berjasa merawat dirinya. Sedangkan orang tuanya hanya sibuk dengan bisnis dan bisnis dan tidak peduli padanya.
Setelah selesai mengambilkan Makanan Arsen langsung memberikannya pada Bi Mina. "Dimakan Bi jangan sungkan, sekarang jangan anggap kita adalah Majikan bibi lagi. Bibi bisa menganggap kita sebagai keluarga bibi juga" ucap Arsen sambil tersenyum. Perlakuan Arsen yang seperti ini lah yang berhasil membuat Bi Mina meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka saja bisa mendapat perlakuan yang spesial seperti ini "Mas" panggil Arini kemudian. Arsen langsung menoleh ke arah Arini dengan cepat "ada apa?" Arini semakin mendekatkan kursinya pada kursi yang diduduki oleh Arsen. "Aku pengen jalan jalan ke bali" Firasat Arsen mulai tidak enak ada apa kah geranan saat ini. Apalagi ini berhubungan dengan jalan jalan.
"Iya kita kesana tapi nunggu kamu habis melahirkan dulu, aku tidak mau mengambil resiko pergi kesana dengan perut kamu yang sudah sebesar ini, dan jangan MEMBANTAH" di bagian akhirnya Arsen menekan kalimat membantah agar Arini semakin jelas. Arini langsung memanyunkan bibirnya kemudian Arini pindah lagi sekarang dia akan membujuk Max. Tapi belum saja dia berkata Max sudah menyelanya terlebih dahulu. "Jawaban Uncle juga sama dengan jawaban Suamimu itu" Max terkekeh ketika melihat Arini yang tambah manyun. "Bener kata tuan Non, kalau perut sudah besar sebaiknya non tidak pergi kemana mana dan tetap jaga kesehatan di rumah"
"Tuh kan, Ibu hamil itu sebaiknya diam di rumah jangan keluyuran terus." Kalau begini caranya gagal sudah Arini membujuk mereka. Lebih baik dia melanjutkan acara sarapannya terlebih dahulu. Bi Mina makan dengan canggung bersama mereka karena ini baru pertama kalinya ia duduk satu meja dengan Arsen, majikannya di rumah itu.
.
.
Mereka ramai ramai datang ke kantor Arsen hanya untuk mewawancarai Arsen. Arsen yang biasanya tidak menyukai Wartawan sekarang dia malah menyuruh wartawan itu masuk ke dalam kantornya. Dia bersedia untuk diwawancarai. "Saya akan memberikan keterangan sesuai dengan yang saya tahu, jadi jangan ada yang memotong pembicaraan saya."semua wartawan mengangguk kemudian mereka mukai merekam apa yang dibicarakan oleh Arsen. "Setengah jam kemudian baru lah wawancara itu selesai para wartawan terlihat puas dengan hasilnya. "Baik pak terima kasih atas informasinya kalau begitu kami permisi dulu"
"Silahkan" jawab Arsen. Arsen memanipulasi pikiran mereka agar mereka tudak menyangka bahwa ialah di balik peristiwa itu. Beruntung otak liciknya ini bisa digunakan tepat waktu.