
"Yuhuuuuuuu welcome to pantai bali" Rei berteriak sambil berlarian di pantai. Mereka baru saja tiba disana sepuluh menit yang lalu. Arsen sudah menyiapkan mobil untuk mereka agar mereka bisa pergi kemana pun. Kelvin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rei yang seperti anak kecil. "Den, gue nyusul Rei dulu ya. Lo mau ikut?" tanya Kelvin pada Aiden. Aiden menggelengkan kepalanya sambil memegang kamera di tangannya. "Lo aja sana, gue pengen ngambil beberapa foto dulu" Aiden sangat menyukai dunia fotografi, semua hasil fotonya sangat bagus bahkan melebihi yang profesional. Ditambah lagi Arsen juga sangat mendukung Aiden. Sehingga dia memberikan ruangan khusus untuk Aiden melakukan hobinya. Kelvin menepuk bahu Aiden. "Yaudah gue nyusul Rei dulu. Kalau ada apa apa nanti lo tinggal telfon gue aja" Kelvin pergi setelah mengatakan hal itu. Dan kini tinggallah Aiden sendirian. Aiden menghela nafas sambil memejamkan matanya. Dia menikmati Angin dan pemandangan yang ada di sekitarnya. "Gevan" tiba tiba nama itu terlintas di pikirannya begitu saja. "Hari ini kan Alea sekolah" Gumam Aiden. Aiden mengambil ponselnya dari dalam saku celananya kemudian mencari sesuatu.
"Kalau lo sampe jatuh cinta sama gue, gue akan nyium lo untuk yang kedua kalinya di depan semua orang"
"Coba aja kalau berani, tapi jangan salahin gue kalau pulang sekolah muka lo bonyok"
Aiden tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Dia sengaja menaruh alat perekam di tas Alea agar bisa memantaunya dari jauh. Tapi dia kembali mendatarkan ekspresinya ketika tahu apa yang dikatakan Gevan tadi. "Gevan Alvaro, ayo kita bermain main" Aiden sudah mencari tahu tentang Gevan setelah Alea menceritakannya. Hanya saja dia masih belum melakukan apapun. Aiden tersenyum misterius lalu menaruh ponselnya kembali. Kemudian Aiden mengarahkan kameranya pada air pantai yang sangat indah dan mengambil beberapa gambar.
Lain hal nya dengan Rei dan Kelvin, mereka berdua malah sibuk menggoda bule yang seumuran dengan mereka. Rei mengedipkan matanya pada salah satu dari mereka. Tapi bula itu membalasnya dengan dengusan. Kelvin tertawa puas setelah melihat penolakan bule tersebut terhadap Rei. "Heh bocah ingusan bukan gitu caranya kalau mau menggoda bule" Rei melirik ke arah Kelvin. "Kayak lo bisa aja ngegoda mereka" Rei malah meremehkan Kelvin. Lagian menurut Rei jika dibandingkan dengan Kelvin dirinya masih jauh lebih ganteng. Tentu saja karena ia kembaran Aiden coba kalau kembaran upin pasti dia tidak akan sepede itu. "Lo nantangin gue? Kalau gue bisa lo mau ngasih apa sama gue"
"Satu emas batangan koleksi gue bakal gue kasih ke lo, tapi kalau lo gak bisa lo harus siap jadi babu gue selama di sekolah. Deal?"
Rei mengulurkan tangannya pada Kelvin yang langsung diterima Kelvin. "Okee deal" Rei tersenyum kemudian dia langsung menyuruh Kelvin untuk memulai aksinya. Dengan keberaniannya Kelvin mencoba untuk mendekati bule tersebut. "Excuse me? May i introduce you" (permisi, boleh saya berkenalan?" Bule itu bingung karena kedatangan Kelvin tapi tetap membalasnya dengan ramah. "Of course you can. Where are you from?" (tentu saja boleh, dari mana asalmu?" Kelvin melirik Rei yang mengamatinya dari jauh, dia tersenyum mengejek.
"I come from indonesia, oh yeah i just came here to say something to you" ( saya berasal dari indonesia. Oh iya saya kesini hanya ingin mengatakan sesuatu buat kamu)
"What's that? (Apa itu?" Bule itu mengangkat sedikit alisnya karena penasaran dengan apa yang akan dikatakan Kelvin.
"Your face looks like a thief" (Wajah kamu itu mirip seperti pencuri)
"God damn it" (Kurang ajar) gadis bule itu langsung memukuli Kelvin dengan kedua tangannya. "Aduuh sakitt woyyy dasar bule barbar padahal mau aku gombalin malah mukul"
"Go you from here" (pergi kamu dari sini)
Dengan terpaksa Kelvin pergi menjauh dari gadis bule itu. Rei dari kejauhan sudah tertawa dengan keras. Bahkan dia merekam Kevin ketuka sedang dipukuli gadis Bule itu. "Emang enak, rasain lo" ucap Rei sambil terus tertawa. Kelvin memutar bola matanya dengan malas.
"Oke sesuai dengan kesepakatan kita, lo harus jadi babu gue selama di sekolah. Dan itu berlangsung selama satu minggu"
"Iya iya" jawab Kelvin dengan malas.
.
.
"Baik buu" jawab mereka serentak. Setelah itu Bu Mega langsung keluar dari keluar.
Alea dan yang lain segera membereskan tas nya untuk pulang. Hari ini Alea sendirian karena Vina tidak masuk sekolah. Dan selama itu pula ia diganggu oleh Gevan. "Benar benar hari yang buruk" gumam Alea. Gevan mendengarnya tapi dia hanya diam. Tiba tiba ponsel Alea berbunyi. Alea langsung mengecek dan mengangkat. "Iya Hallo Dad"
"Kamu sudah pulang?"
"Iya Dad"
"Hari ini Supir ga bisa jemput kamu karena Daddy memakainya untuk keluar kota. Tapi Daddy sudah menyuruh Rocky untuk menjemput kamu. Jadi hari ini kamu pulang sama sekretaris Daddy dulu"
"Oke siap Daddy"
"Jangan lupa belajar juga, jangan mentang mentang Daddy tidak ada di rumah kamu bisa bebas"
Alea tertawa cekikikan yang membuat Gevan penasaran tentang siapa yang menelfon Alea. Gevan berusaha menguping tapi Alea semakin menjauhkannya dari Gevan. "Iya siap Dad, kalau gitu Alea matiin duul ya telfonnya. Ini Alea udah mau ke luar"
"Hati hati sayang"
"Iya Dad"
Alea langsung menoleh ke arah Gevan dan menatapnya dengan tajam. "Ngapain lo ngupingin gue?"
"Dih kepedean amat lo, minggir gue mau pulang"
"Dasar cowok"