Hot Daddy

Hot Daddy
S.2. Eps 11 Aiden posessive



Rocky terlihat sibuk membolak balikkan berkas di tangannya. Itu adalah berkas penting yang harus ditanda tangani oleh Arsen. Dan sekarang Arsen juga jarang pergi ke kantor jadi terpaksa Rocky harus mendatangi rumah Arsen. Dengan niat meminta tanda tangan akhirnya Rocky memberanikan diri untuk pergi ke rumah Arsen tanpa sepengetahuan Arsen terlebih dahulu. Rocky mengambil kunci mobilnya kemudian segera bergegas. Dia melirik ke jam tangannya yang menunjukkan pukulĀ  dua siang. Seharusnya di jam seperti ini Arsen ada di rumah.


.


.


Aiden, Rei dan Alea baru saja turun dari mobil jemputan mereka. Setiap pulang sekolah mereka memang selalu dijemput oleh supir. Namun terkadang Arsen juga yang menjemput mereka. "Bang, Rei masuk duluan. capek, mau tidur" ucap Rei pada Alea dan Aiden. Mereka mengangguk tapi saat Alea akan masuk ke dalam rumah Aiden menarik tas Alea dari belakang hingga Alea terjatuh ke dalam pelukan Aiden. "Ih bang Aiden kenapa sih? Alea juga capek mau langsung ke kamar" ucap Alea sambil mendongakkan kepalanya. Aiden menunduk sambil melihat wajah Alea yang cemberut itu "Kamu tidak lupa kan dengan apa yang abang bilang tadi? Jangan sampe Abang laporin sama Daddy. kalau Daddy sampe tahu kamu dicium cowok kamu akan tahu akibatnya" Aiden tersenyum smirk lalu melepaskan tangannya dari tas Alea kemudian masuk ke dalam meninggalkan Alea yang mematung sendirian. "aduh jangan sampe bang Aiden ngelaporin ini semua sama Daddy" batin Alea dalam diamnya. Dengan buru buru Alea langsung melepas sepatunya dan berlari ke dalam rumah mengejar Aiden "Abangggggggggg" teriak Alea. "Alea, jangan berteriak di dalam rumah. Kamu ini kebiasaan banget sih kalau pulang sekolah teriak teriak kayak monyet di hutan aja" omel Arini sambil meletakkan nampan yang berisi teh di meja ruang tamu.


Alea hanya menyengir sambil menenteng sepatunya di tangannya. Kemudian dia menghampiri Arini. "Tumben banget Mommy mau buatin Alea teh" Alea akan mengambil satu cangkir teh tersebut tapi Arini mencegahnya. "Huss ini bukan buat kamu tapi buat Rocky sekretarisnya Daddy kamu itu" jawab Arini. Alea menoleh kesana kemari mencari keberadaan Rocky tapi dia tidak menemukannya. "Mana? Kok gak ada?" tanya Alea. "Dia masih di ruang kerja Daddy, lebih baik kamu sekarang ganti baju habis itu mandi. Badan kamu sudah bau asem" ucap Arini sambil menutup hidungnya. Alea malah tertawa kemudian memeluk Arini dengan erat. "Asem asem gini Alea banyak yang suka tau Mom"


"Pede banget kamu, oh iya tadi abangmu bilang dia akan menunggu kamu di kamar. katanya mau ngomongin sesuatu sama kamu"


"Itu bang Aiden Mom?" tanya Alea dengan sedikit ragu. Arini mengangguk. "Siapa lagi kalau bukan abang kesayanganmu itu? Kamu kan jarang akur sama Rei" Alea menghela nafasnya daripada nanti Aiden mengadu pada Arsen lebih baik Alea segera menghampirinya. "Ya sudah Alea mau ke kamar dulu Mom"


"Jangan lupa Mandi sayang"


"Siap Mom"


"Jangan terlalu buru buru lebih baik minum teh terlebih dahulu. Lagian Mas Arsen tidak akan menambah beban pekerjaanmu lagi. Jadi santai aja" Arini berbicara nonformal kepada Rocky karena Rocky sendiri yang memintanya. Dia merasa nyaman jika orang orang berbicara dengannya seperti biasa. "Nah iya Rocky saya setuju, sebaiknya kamu istirahat dulu disini sambil minum teh" Rocky yang merasa tidak enak dengan Arini langsung tersenyum dan mengangguk. "Baiklah kalau begitu terima kasih atas semuanya" ucap Rocky. .


Alea baru saja selesai mandi, dia langsung menuju ke kamar Aiden untuk membicarakan hal yang tadi. Dengan menghela nafasnya Alea langsung membuka pintu kamar Aiden. Aiden yang juga baru selesai mandi langsung melihat ke arah Alea yang sudah berada di depan pintu kamarnya. "Masuk aja, abang mau ganti baju di kamar mandi dulu sebentar" ucap Aiden. Alea mengangguk kemudian dia menutup pintunya kembali dengan hati hati. Sambil menunggu Aiden, Alea berusaha untuk menyusun kata kata yang akan diucapkannya ke Aiden tadi. Selang Beberapa menit kemudian Aiden sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah wangi dan bersih. "Jadi mau langsung cerita atau gimana?" tanya Aiden berusaha membuat Alea rileks. Aiden tahu sedari tadi Alea berkomat kamit sendiri. Dia sudah bisa menebaknya. "Ceritanya sambil peluk abang boleh?" Alea menunjukkan wajah Puppy eyesnya sama Aiden. Aiden langsung naik ke atas kasurnya kemudian merentangkan tangannya. Alea langsung tersenyum kemudian juga naik ke atas kasur dan memeluk Aiden erat erat.


"Kalau Alea cerita apa nanti abang bakal marah" tanya Alea sambil mendongakkan kepalanya. Aiden mengelus rambut adik kembarnya itu kemudian mengecup puncak kepalanya. "Jika kamu jujur abang tidak akan marah"


Alea merasakan kenyaman dalam pelukan Aiden, kemudian dia mulai menceritakan semuanya pada Aiden berawal dari pertemuan pertamanya di toilet sampai akhirnya dia yang dicium. Alea tidak sadar kalau sedari tadi Aiden sudah mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya ketika mengetahui ada cowok yang nekat mencium adiknya sendiri. "Abang memang tidak akan mengadu pada Daddy, tapi bukan berarti abang akan diam saja. Untuk saat ini kamu hanya milik Abang, Rei, dan Daddy. Tidak ada laki laki yang boleh mendekatimu sebelum dia berhadapan dengan kita bertiga" batin Aiden sambil melihat wajah sang Adik yang asik bercerita. Aiden sangat menyayangi Alea. Dia tidak mau Alea bernasib sama dengan Arini. Alea harus menjadi wanita yang terhormat dan berharga. Tapi bukan berarti Aiden menghina Arini.


"Abang, Alea ngantuk" ucap Alea sambil menguap. "Tidur lah" jawab Aiden dengan singkat. Alea mengangguk lalu tidur di pelukan Aiden. Aiden memandangi wajah Alea sambil tersenyum tipis. "Selamat tidur cantik"


Cupp


Aiden mencium pipi Alea kemudian ikut tertidur bersamanya. Tanpa ada yang sadar bahwa Rei juga ikut tertidur di depan pintu kamar Aiden. Karena sedari tadi dia menguping semua pembicaraan mereka.


"Loh Den Rei?"