
Arsen turun dari mobil kemudian ia menggendong Arini kembali untuk dibawa ke kamarnya. Arsen membuka pintu nya lalu ia masuk dan membaringkan Arini di atas kasur. Wajah Arini sangat sangat pucat hingga olesan Make up nya tidak terlihat sedikit pun. Arsen membuka Jas nya dan melemparnya ke sembarang arah, kemudian ia menggulung kemejanya sampai sikunya. Arsen mengecup kening Arini lama. "Cepat sembuh" bisiknya.
Arini melenguh pelan dan mengerjapkan matanya. Saat ia membuka mata, Arsen menatapnya dengan khawatir. Arini memegang kepalanya yang masih sedikit pusing. "Daddy?" Arsen membantu Arini untuk duduk menyandar di kasurnya. "Kenapa kita bisa di rumah Dad?"
"Kamu Pingsan, makanya Daddy bawa pulang. Daddy lupa kalau kamu punya anemia. kamu baik baik saja?" Arini mengangguk seraya melengkungkan senyuman tipisnya. Tanpa aba aba Arsen naik ke atas kasur kemudian membawa Arini ke dalam pelukannya. Arsen mengelus puncak kepala Arini seperti yang biasa ia lakukan dulu. "Kapan Daddy mau mutusin hubungan dengan tante Linda?" Arini mendongakkan kepalanya, bahkan wajahnya hanya berjarak lima cm dari wajah Arsen. "Kamu tidak sabar hmm menunggu Daddy pisah dengan dia?"
Arsen mengelus pipi Arini dengan jempol tangannya, sambil melirik ke bibir ranumnya. "Iya" jawab Arini singkat. Arini menahan nafasnya ketika tangan Arsen turun dari pipinya menuju ke lehernya. Arsen menerbitkan senyumnya ketika melihat hasil karyanya masih berbekas. "Daddy jangan aneh aneh lagi, ini masih belum hilang jangan Daddy tambahin lagi." ucap Arini dengan sedikit waspada.
Arsen tertawa geli, lagi pula kalau Arsen memang menginginkannya Arsen tidak akan melakukannya saat Arini sedang sakit dan lemas seperti ini. Ia tidak setega itu untuk menggerayangi leher Arini ketika ia sakit. "Daddy tidak akan melakukannya sekarang, lebih baik kamu pejamkan matamu dan tidur lah. Kamu butuh istirahat yang cukup"
Arini mengangguk lalu ia semakin merapatkan dirinya pada Arsen dan menduselkan wajahnya di dada bidang Arsen. Arsen membeku ketika merasakan bongkahan daging bulat menyentuhnya, Arsen berusaha tak menghiraukannya tapi semakin ia bergerak semakin menggoncang pula daging itu di dadanya. "Belum waktunya, jangan berdiri sekarang"
Terlambat, Junior Arsen sudah menegang terlebih dahulu. Arsen melihat Arini yang sudah tidur dalam dekapannya. Perlahan lahan ia membuka resleting celananya agar Junior nya bisa keluar dari sangkar. Arsen memeluk Arini sambil menutup matanya agar Arini tidak melihat juniornya ketika bangun nanti. "Kamu benar benar membuat Daddy tersiksa sayang"
.
.
Arsen dan Max sedang membicarakan sesuatu di ruang kerja Arsen, mereka terlihat sangat serius. Wajah Arsen pun tidak senormal biasanya, karena kali ini Max bisa melihat aura kegelapannya dari mata Arsen. "Jadi Bagaimana dengan paman Wira? Apa kamu juga akan membunuhnya? Aku tidak melarangmu jika kamu mau melakukannya, tapi apakah harus dibunuh. Apa tidak ada cara lain? Jangan bermain main dengan nyawa Sen. Suatu saat kamu pasti akan terkena karmanya"
"Ini urusanku Max, kamu tidak perlu ikut campur. Yang harus kamu lakukan adalah jangan buka mulut. Terlebih sama Mama dan Papa. Biarkan mereka tahu sendiri tentang hal ini." Max berdecak pelan. Arsen sangat keras kepala sama seperti Papa mereka. "Papa akan sangat kecewa jika kamu melakukan ini Sen?"
Arsen tersenyum sinis ia berdiri kemudian menghadap jendela ruangannya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. "Papa tidak akan kecewa, justru harusnya dia berterima kasih denganku." Max memijat pelipisnya, berada dalam keluarga ini membuatnya merasakan beban yang sangat berat. Apalagi sebentar lagi Garda, papanya akan memberikan satu perusahaan lagi padanya.
"Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Arini? Kalau kamu memang menyukaunya, lepaskan wanita itu darimu. Aku tidak ingin keponakanku sakit hati lagi" Arsen kembali duduk di kursinya menghadap Max. "Aku tahu, jangan terus pikirkan hubunganku dengan Arini. Lebih baik kamu maju dan dekati wanita yang kau suka itu. Siapa namanya? Vio? Vivi?"
"Via"
Arini memasak makan malam di dapur, Ia menggulung rambutnya dan memakai celemek di tubuhnya. Arini mengambil bahan bahan yang tersedia di dalam kulkas. Ada daging, Telur, Sayuran, Dan Ayam. Arini mengambil semua bahan yang ia perlukan dan memasaknya untuk dijadikan makanan. Arini memotong cabe dengan irisan paling kecil kemudian ia juga mengiris beberapa bawang merah dan bawang putih untuk dijadikan bumbu makanannya.
Arsen mengusap rambutnya yang masih basah, ia melihat jam di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Itu artinya sudah waktunya untuk makan malam. Arsen bergegas untuk turun ke bawah sebelum Arini memanggilnya.
Arsen mendatangi Arini yang sedang memasak, Dia berjalan mendekat ke arah Arini. Greppp Arsen melingkarkan tangannya di pinggang Arini sambil mengatakan sesuatu di samping telinganya. "Masak apa hmm?" Arini menoleh sebentar lalu kembali fokus. "Masak makanan kesukaan Uncle sama Daddy."
Arsen mengangguk, ia meletakkan dagu nya di bahu Arini. Sambil terus memeluknya dari belakang. Meski begitu, pelukan Arsen tidak menghambat pekerjaan Arini. Arini terus memasak tanpa kesulitan. Ia membiarkan dirinya dipeluk seperti ini karena Arini pun merasa nyaman di pelukan Arsen. "Ehemm, Arini lagi masak, peluk nya bisa ditunda dulu kan?"
Arsen mendengus ketika Max merusak momennya. Max memang selaku datang di waktu yang tidak tepat. Jika boleh diibaratkan Max itu seperti jailangkung yang datang tak diundang pulang tak diantar. "Dasar pengganggu" Max terkekeh lalu mengambil segelas Air dan meminumnya sanpai habis tenggorakannya tiba tiba gatal setelah melihat Arsen yang bersikap mesra itu.
Arini mematikan kompornya lalu mencicipi masakannya. Arini mencolek bumbunya dengan jarinya. "Coba Daddy cicipin Dulu, asinnya sudah pas atau belum" tanpa menunggu lebih lama lagi Arsen memasukkan jari Arini ke dalam mulutnya dan menyesap bumbunya. Arini terkejut, ia kira Arsen akan mengambilnya dengan tangannya. "Duda memang meresahkan" batin Max. Lalu pergi ke meja makan dari pada melihat kedua orang itu.
"Enak, Daddy suka." Arini tersenyum lalu menarik tangannya kembali. Setelah itu ia memindahkan semua masakannya pada wadah dan membawanya ke meja makan. Arsen juga membantu Arini dengan membawakan nasinya. Arsen tidak akan membiarkan Arini melakukan semuanya sendirian, selagi ada dirinya.
.
.
Makan malam berlangsung dengan tenang, Max duduk di tengah tengah Arini dan Arsen. Ia sudah jengah melihat Arini dan Arsen yang terus bertatapan. maka dari itu, sebagai Manusia yang baik, Max rela menjadi orang ketiga dalam memisahkan mereka. "Gak usah liat liat Arini, makan dulu makananmu"
Arsen sudah geram sekali dengan Max, ia mengambil sendok yang paling besar dan memukulkannya pada Kepala Max hingga sang empunya mengaduh kesakitan. "Gak usah ngeselin, sekali lagi kamu ngeselin siap siap kamu aku tendang dari rumah ini"
Max langsung diam, ia masih betah di rumah ini. jadi daripada dia diusir, Max lebih memilih menutup mulutnya saja.