Hot Daddy

Hot Daddy
Tidur di luar



Malam yang panjang akan dilewati oleh Arsen dan Max. Malam ini mereka benar benar tidur di luar, Via dan Arini sama sama mengunci pintu kamar sehingga mereka tidak bisa masuk. Alhasil disini lah sekarang, di ruang tengah. Max merebahkan dirinya di atas sofa dengan menumpu tangannya ke belakang dan menjadikannya sebagai alas kepalanya. Sedangkan Arsen dia duduk di lantai sambil merokok dengan asyiknya. Dia sempat berdebat dengan Arini perihal foto foto itu. Berulang kali Arsen menjelaskan hal itu pada Arini tapi arini tak mau mendengarkan. Arsen membuang puntung rokoknya ke asbak. "Seandainya kamu tidak mencari gara gara, mungkin malam ini kita sudah tidur dengan memeluk istri kita


Max menganggukkan kepalanya, dia mengaku salah. Seharusnya dari awal dia tidak bermain main dengan Arsen. "Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Kita hanya bisa berharap mereka mengizinkan kita untuk masuk" ucap Max. Tak lama kemudian Via terlihat keluar kamar dan melewati ruang tengah. Max dan Arsen langsung menoleh. Tanpa ingin membuang waktu lagi Max langsung mengikuti Via ke dapur. "Via, mau sampai kapan kamu akan diamin aku. Sumpah itu hanya kesalah pahaman saja. Wanita itu memelukku karena dia mengira aku pacarnya dan ternyata bukan jadi tolong maafin aku ya" Via menuangkan air pada gelas yang ia ambil kemudian meminumnya. Rasanya segar tapi saat melihat wajah Max Via malah ingin menyiramnya.


"Mas mau aku maafin?" tanya Via dengan ragu. Max mulai tersenyum lalu mengiyakan. "Tentu saja, maaf darimu  adalah hal yang sangat penting bagi aku" Max terus menerbitkan senyum di  bibirnya kepada Via. "Tapi sebelum aku memaafkan Mas izinkan aku menyiram wajah Mas terlebih dahulu. Aku ingin melakukannya" Max akan protes tapi dia berpikir untuk saat ini akan lebih baik kalau dia mengalah dan merelakan wajahnya untuk Via. Max mengangguk pasrah. "baiklah sekarang Mas duduk dulu" dengan langkah yang lemas Max memilih duduk di lantai daripada di kursi. Via hanya terkekeh kemudian dia mengambil segelas air dingin dan membawanya pada Max. "Maaf Mas bukan maksudku untuk tega tapi janin yang ada di dalam perutku juga ingin melihatmu dihukum jadi aku hanya mengabulkannya saja"


"Kamu ngidam?" tanya Max dengan tak percaya. Max pernah mendengar jika ngidam wanita hamil itu sangat merepotkan dan sekarang apakah istrinya itu tengah mengalami yang namanya mengidam. "Antara iya dan enggak sih. Soalnya aku mau melakukannya bukan hanya karena keinginan janinku melainkan juga keinginanku" Kemudian Max mendongakkan kepalanya, sekarang dia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Via kepadanya. Anggap saja ini adalah hukuman baginya karena telah mengerjai Arsen. "Sudah siap?" tanya Via. "Memangnya kalau aku belum siap kamu akan membatalkannya?" Max malah bertanya balik yang membuat Via gemas dengannya. "Enggak Mas, hukuman adalah hukuman. Dan ini juga kemauan bayi kita juga"


Sedangkan Arsen, dia masih saja tetap di posisi awal. Tidak bergerak sedikit pun. Tadi dia sudah mencoba untuk membujuk Arini dan hasilnya adalah Arini tertidur jadi malam ini dia benar benar tidak bisa tidur di kamarnya. Arsen tiba tiba merasa haus dia beranjak dari tempatnya kemudian berjalan ke dapur. Namun apa yang ia lihat di dapur membuatnya ingin tertawa. Arsen menyilangkan tangannya sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok. "Tontonan gratis" gumam Arsen. Setelah air di dalam gelas itu habis Via meletakkan gelasnya kembali kemudian dia menatap Max. "Karena hukumannya sudah selesai ayo kita pergi ke kamar, Mas juga harus ganti pakaian dulu." Max langsung tersenyum ketika mendengar hal itu. "Beneran?" tanya Max. "Iya, ayo kita ke kamar"


Setelah kedua pasangan itu akan pergi barulah Arsen masuk ke dalam dapur. "Mandi di tengah malam Max?" ledek Arsen pada Max yang wajahnya sudah basah kuyup.


Max akan membalas ledekan Arsen tapi Via memelototinya. Kemudian Via yang menatap ke arah Arsen. "Maaf kak sepertinya Mas Max mulai kedinginan. Kami pamit ke atas dulu" Via mulai menarik tangan Max dengan kencang, Max hanya mengikuti langkah Via tapi setelah beberapa langkah max menolehkan kepalanya ke belakang. Max tersenyum mengejek pada Arsen. Arsen hanya menggelengkan kepalanya. semenjak bersama Max sekarang sifatnya juga mulai bertambah menjadi kekakan kanakan. Arsen membuka kulkas kemudian mengambil satu botol Air dingin dan meneguknya sampai habis. Malam ini dia tidak akan merasakan kehangatan kasur dan pelukan Arini tapi dia harus bergelung di bawah selimut dan Sofa.