
Sementara Alea dibawa Arsen pergi ke kantor, Arini sekarang hanya perlu menjaga kedua putranya. Tidak ada Alea di box bayi itu terasa sangat canggung apalagi karena Aiden. Sedangkan Rei dia masih bisa diajak bercanda walaupun hanya sekedar ciluk ba dari Arini. Rei terus merespon setiap candaan dari Arini berbeda dengan Aiden yang masih kalem seperti biasanya. Arini menutupi wajahnya dengan kedua tangannya kemudian membukanya lagi. "Ciluk baaaa" Rei tertawa sekilas kemudian dia menoleh ke arah Aiden yang sedang menguap kecil. Arini tertawa melihat Aiden yang menguap. Lalu ponselnya bergetar di atas meja. Arini langsung mengambil kemudian mengeceknya. Dia baru saja mendapat pesan dari Arsen yang mengatakan kalau Alea tidak rewel dan Arsen juga mengirimkan beberapa foto Alea ketika di kantor. Arini menggeser layarnya ponselnya terus ke samping. Semua foto foto itu sangat lucu. Kemudian dia mengirimkan balasan untuk Arsen. Arini juga mengirimkan beberapa foto Aiden ketika sedang mengantuk. Arini terkekeh geli lalu dia mengirimkannya pada Arsen.
Via dan Max baru saja pulang dari perjalanan mereka. Mereka kemarin pergi ke bali hanya untuk perjalanan bisnis Max. Max sengaja membawa Via karena dia tidak mau meninggalkan Via sendirian. Dan lagi pula Via juga ingin ikut bersamanya. Max menyeret dua koper ke dalam rumah sedangkan Via dia langsung duduk di sofa di samping Arini. "Baru pulang lo?" tanya Arini sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Via mengangguk kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa. "Capek banget tapi sangat menyenangkan. Lo tahu gak Rin disana banyak bule bule cakep. Apalagi di pantainya beuhhh bikin seger mata orang yang liat pokoknya" ucap Via sambil menceritakan pengalamannya ketika di bali. "Terus lo ajak foto bareng gak?" tanya Arini sambil meletakkan ponselnya kembali. Via hanya menggelengkan kepalanya. "Sebelum gue sempat minta foto, Mas Max sudah menarik gue pulang duluan. Padahal waktu itu hampir aja gue punya foto dengannya"
Setelah menaruh kopernya di kamar Max juga langsung turun. Dia mendengar apa yang dikatakan Via tadi. Memang dasar istrinya yang mata keranjang, sudah punya suami tampan malah melirik pria yang standarnya masih jauh di bawahnya. "Nyesal Mas bawa kamu ke pantai, bukannya menikmati pemandangan alam kamu malah menikmati tubuh pria bule disana" ucap Max sambil duduk di sofa. Via tidak menjawab kemudian dia mengambil Rei dari Box bayinya. "Aunty kangen banget sama Rei" ucapnya sambil mencium pipi Rei dengan gemas. Rei menggeliat kecil ketika dicium oleh Via. Dia menggerakkan kepalanya meskipun gerakannya sangat kecil. "Mandi dulu sana, Rei paling anti sama bau. Gue aja yang ibunya kalau belum mandi terus mau memberinya Asi dia enggak mau" ucap Arini. Max menertawakan Via yang langsung mendapatkan tatapan tajam darinya. "Ya sudah kalau begitu Rei gendong sama Om yang NYEBELIN dulu ya, Aunty mau mandi dulu" Max memberikan Rei pada Max. Max langsung menerima Rei dengan kedua tangannya. "Biarkan Aunty yang bau mandi dulu ya sekarang Rei sama Om dulu" ucap Max yang semakin membuat Via kesal.
"Baby Alea kemana? Tumben gak ada di Box bayi. Bukannya mereka selalu bersama sama ya" tanya Max pada Arini. "Dia dibawa Mas Arsen pergi ke kantor. Tadi Alea rewel kalo digendong sama aku makanya Mas Arsen yang bawa dia" Max mengangguk lalu dia melihat Rei yang perlahan lahan menutup matanya dan tertidur. Sepertinya dia sangat ngantuk sekali.
.
.
"Baiklah sekarang kamu boleh pergi" ucap Arsen. Rocky mengangguk lalu kemudian dia pergi keluar. Arsen langsung menidurkan Alea di Box barunya. Dia meminta pada Rocky untuk membelikannya Box berwarna pink. Karena warna pink sangat cocok untuk Alea menurut Arsen. "Alea bobo disini dulu ya Daddy mau kerja dulu" Arsen mencium Alea kemudian duduk di kursi kebesarannya sambil memakai kacamatanya. Arsen terus membolak balikkan berkas yang ada di mejanya sesekali sambil mencoret sesuatu dengan bolpoinnya. Karena merasa gerah Arsen memutuskan untuk melepas jas nya dan hanya menggunakan kemeja nya. Dia menggulung lengan kemeja nya hingga sebatas siku. Setelah itu Arsen melanjutkan pekerjaannya lagi. Suara ketukan pintu datang untuk yang kedua laginya. Kalau tadi adalah Rocky sekarang adalah wanita yang tadi sempat diomeli Rocky. "Permisi pak, saya kesini untuk mengantarkan semua berkas berkas yang perlu bapak tanda tangani. Tadi Rocky menitipkannya pada saya karena dia mengalami masalah dengan perutnya jadi harus pergi ke toilet" Wanita itu adalah Shena, teman sekaligus rekan kerja dari Rocky sekretaris Arsen.
"Letakkan disitu dan pergi lah" ucap Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang dia pegang. "Baik pak" jawab Shena kemudian. Melihat ketampanan Arsen diam diam Shena mengambil ponselnya kemudian membuka kameranya. Shena mengarahkan kamera ponselnya pada Arsen. Tapi sayang beribu sayang. Shena terlalu bodoh sekali. Ketika dia memotret Arsen suara potretannya dan Flash nya hidup. Arsen langsung meletakkan berkasnya dan menatap Shela dengan tajam. "Apa yang kamu lakukan?"
"Emmm anu pak tadi ponsel saya kepencet sendiri" jawab Shena dengan gugup. "Kemarikan ponselmu" ucap Arsen. Shena langsung memberikan ponselnya pada Arsen lalu siapa sangka setelah ponselnya diberikan Arsen langsung membantingnya hingga terpecah belah menjadi beberapa bagian
"Silahkan keluar, ponselmu akan saya ganti dengan yang baru"
Shena masih syok dengan apa yang dilihatnya dia langsung keluar dengan perasaan malu. Sementara itu Alea tersenyum dalam box bayinya. Arsen memijit pelipisnya sesaat lalu menoleh pada Alea. "Besok kamu ikut Daddy lagi ya, sekalian kita bawa abang abamgmu juga sama Mommy" gumam Arsen.