
"Mah, Via berangkat ngampus dulu" teriak Via dari luar rumah. "Iya, hati hati" jawab Mama nya. Via mengambil tas nya dan membawa semua tugas yang akan ia kumpulkan hari ini. Via mengeceknya satu persatu agar tidak ada yang ketinggalan. Setelah selesai baru ia keluar dari rumahnya.
Mata Via menyipit ketika melihat sebuah mobil yang sudah bertengger di halaman rumahnya. Via berjalan mendekati mobil itu dan mengetuk kaca jendelanya. "Maaf Pak, Kenapa bapak bisa ada di sini?" Tiba Tiba Jendela mobil itu terbuka dengan sendirinya dan memperlihatkan Max dengan pakaian kantornya yang lengkap.
"Ayo masuk, Aku kesini untuk menjemputmu" ucap Max langsung pada Via. Via tidak tahu mengapa uncle Arini bisa tahu rumahnya dan mau menjemputnya. Karena tidak punya banyak waktu lagi akhirnya Via masuk ke dalam mobil Max. "Pakai sabuk pengamanmu" perintah Max.
Via memasang sabuk pengamannya dengan cepat, berada satu mobil dengan pria selain kakaknya Geri membuatnya begitu canggung. "Ada apa nih om, kok Om tiba tiba mau jemput aku. Terus dari mana om tahu rumahku?" Cecar Via dengan berbagai macam pertanyaannya.
Max hanya tersenyum sambil menatap lawan bicaranya. "Nanti aku jelasin, sebaiknya kita bicara ketika perjalanan nanti. Kamu tidak mau telat masuk kelas kan?" tanya Max. Via melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.45, itu artinya lima belas menit lagi kelas pertamanya akan dimulai. "Iya deh om, kita jalan aja"
Di perjalanan, Suasananya sangat sepi karena Max dan Via masih belum membuka pembicaraan. Max masih menyesuaikan dengan suasana barunya, karena semasa ia bermain main dengan wanita dulu, Max hanya tinggal menyuruh mereka datang dan tidak pernah menjemputnya meskipun mereka meminta. "Tentang yang tadi, Arini yang memberi tahu semuanya. Aku memintanya untuk memberikan alamat kamu"
"Tapi kenapa om? Apa ada yang ingin om bicarakan denganku?" tanya Via. "Tidak, aku hanya ingin lebih dekat dengan kamu saja. Boleh kan? Kalau boleh jujur aku sudah suka sama kamu sejak aku melihatmu di rumah dan menonton drakor bersama Arini."
"Hah? Maksud Om?" Via menegakkan tubuhnya, dari yang semula bersandar di kursi mobilnya menjadi tegak dan sedikit mengarah pada Max. "Aku menyukaimu Via, sudah lama aku menyimpannya sendirian. Dan sekarang, aku harus mengatakan padamu tentang semua yang aku rasakan. Aku....Jatuh cinta sama kamu"
Via mencerna semua kata kata Max dengan baik, pasalnya selama ini tidak ada yang berani mengungkapkan perasaan padanya. Via termasuk gadis yang agak galak, jadi semua cowok yang mendekatinya sudah kabur duluan karena kegalakan Via. Kecuali satu orang yang masih bertahan dengannya. Dosen barunya, Arga Malhotra.
"Om serius?" tanya nya pada akhirnya. Max mengangguk berusaha menyakinkan Via. Tidak ada yang perlu diragukan lagi dengan apa yang ia ucapkan, semuanya benar benar berasal dari lubuk hatinya yang terdalam. Max melirik Via yang masih menatapnya. "Iya aku serius, dan sekarang aku mau mencoba lebih dekat dengan kamu."
"Tapi kenapa om bisa menyukai aku? Padahal di luar sana masih banyak yang lebih cantik dari aku. Yang pastinya juga jauh lebih baik. Aku itu banyak kekurangannya loh om, salah satunya sih Galak, suka marah marah. Emang nya om masih mau?"
"Kenapa tidak? Aku mencintai kamu berarti aku juga mencintai semua yang ada pada diri kamu. Termasuk kelebihan dan kekurangan kamu"
"Via, Aku tahu kamu masih bingung dengan semua ini. Tapi setidaknya cobalah menerima fakta kalau aku menyukaimu. Dan jangan pikir aku tidak tahu kalau kamu sempat menyukai Arsen? Iya kan?" Via tak mengangguk namun tak menggeleng juga, ia rasa untuk pertanyaan ini tak perlu di jawab. "Aku tahu semuanya tentang kamu" lanjut Max
.
.
.
Arsen langsung menarik Arini hingga terjatuh di atasnya. Adegan tatap tapan pun tidak dapat dihindari. Arsen melingkarkan tangannya di pinggang Arini dengan mata sayu nya yang belum terbuka sepenuhnya. "Tidak usah kuliah hari ini, lebih baik temani Daddy tidur" Arsen menggulingkan tubuh Arini dan memeluknya seperti semula lagi.
Arini menurut saja, lagi pula kalau ia berangkat kuliah sekarang pasti ujung ujungnya diusir dari kelas karena telat. Lebih baik Arini tidur di pelukan Arsen lagi. Tanpa sengaja tangannya menyentuh perut Six pack Arsen. Arini meneruskannya dengan membelainya secara halus.
Arini tidak sadar jika perbuatannya tersebut membangunkan sesuatu yang tertidur lama. Di balik Boxer nya, Junior Arsen berdiri dengan tegangnya. Arini menbelalakkan matanya melihat itu, Dari luar saja Juniornya sudah terlihat besar apalagi kalau Arini melihat sepenuhnya.
"Kamu membangunkannya sayang, sekarang Daddy minta pertanggung jawabanmu" Kali ini Arsen menindih Arini dan membuat Arini berada di bawah kuasanya. Arsen menumpu kedua tangannya di sebelah tangan Arini agar tubuhnya tidak terlalu menindih Arini. "Daddy mau apa?" tanya Arini.
Arsen tersenyum menyeringai lalu menyusupkan tangannya ke dalam kaos yang dipakai Arini, Arsen langsung menarik Bra nya dan membuangnya ke sembarang Arah. Alhasil puncak Dada Arini tercetak dengan jelas ketika sudah tidak memakai Bra lagi.
Arsen mencubit puncak dada Arini dengan gemas membuat sang empunya mendesah tak tertahan. Arsen terkekeh pelan ketika melihat puncaknya yang sudah menegang, ia memberikan Arini kode untuk meminta Izin membukanya. Namun Arini masih belum paham dengan kodenya.
Langsung saja Arsen membuka koasnya ke atas dan menyergap dada Arini dengan mulutnya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk meremas dada Arini yang kanan sedangkan yang kiri ia mainkan dengan mulutnya. Arini menahan kegelian yang luar biasa, Arsen menjilat, menggigit bahkan mencubit dadanya dengan gemas.
"Daddy, apa yang Daddy lakukan?" ucap Arini sambil meremas rambut Arsen dengan kuat. "Hanya main main saja, lebih baik kamu nikmati. Daddy akan memberikanmu servis" Arsen meneggelamkan wajahnya di tengah tengah dada Arini hingga pipinya diapit oleh bongkahan daging itu.
"Daddy, please hentikan semua ini"
"Tidak bisa sayang, Daddy masih belum puas"
"Emmghhh Dad.....mm....."
Arsen benar benar membuat Arini melayang, sudah lama Arsen tidak bermain dengan wanita,dan sekarang ia melampiaskan hasratnya pada Arini.
Di luar pintu, seseorang menempelkan telinganya dengan baik. Ia tersenyum puas. "Mungkin Arsen junior bakal cetak sebentar lagi" batinnya.