
Saat tiba di ruangannya Arsen membawa mereka semuanya masuk ke dalam lalu menutup pintu ruangannya. Arsen mematikan Ac dalam ruangannya karena saat ini dia bersama si kembar dan mereka tidak boleh kedinginan. Arini melihat ke sekeliling ruangan Arsen, ada banyak perubahan sekali dibanding ketika terakhir kali ia kesini. Sekarang di ruangan Arsen juga dipasang tiga Box bayi untuk si kembar tidur. Dan sofa yang biasanya juga diganti dengan sofa yang lebih bagus dan luas. Arsen melakukan semuanya hanya untuk keluarga kecilnya. Dia ingin anak dan istrinya betah selama menemaninya di kantor. "Ini semua kamu yang nyiapin Mas?" tanya Arini pada Arsen. Arsen membuka jas nya kemudian meletakkannya di kursinya. "Ya dengan sedikit bantuan Rocky juga. Kamu pindahin anak anak ke Box bayi dulu biar mereka nyaman" ucap Arsen pada Arini. Arini mengangguk lalu memindahkan Aiden, Rei dan Alea secara bergantian. Alea tersenyum ketika Arini memindahkannya pada Box bayi. "Kayak nya Alea suka disini deh Mas, lihat dia langsung tersenyum pas aku mau mindahin dia"
Arsen terkekeh kemudian dia beranjak dari kursinya dan dia berjalan ke arah Alea untuk mencium anak bungsunya itu. "Coba lihat Aiden dan Rei" ucap Arsen pada Arini. Arini langsung melihat ke arah mereka berdua. Saat ini Aiden dan Rei saling melihat. Meskipun hanya beberapa detik tapi sepertinya Arsen sudah paham apa maksudnya. "Mereka berdua adalah calon penerus perusahaanku" Gumam Arsen. Lalu tiba tiba pintu ruangan Arsen diketuk dari luar, Arini langsung meletakkan Alea di Box bayi kemudian dia duduk di sofa. Arini tidak mau mengganggu pekerjaan suaminya. "Masuk" jawab Arsen. Pintu pun mulai terbuka dan menampilkan seorang wanita yang sedang memegang beberapa berkas di tangannya. Wanita itu adalah Shena. "Ada apa?" tanya Arsen bersikap seolah olah tidak ada apa apa. "Ini pak, saya butuh tanda tangan bapak di beberapa berkas ini" tidak seperti kemarin sekarang Shena malah bersikap sopan. "Taruh saja di meja saya nanti saya akan menyuruh Rocky untuk memberikannya padamu"
Shela mengangguk lalu dia pamit untuk keluar tapi sebelum itu Arsen mencegahnya lalu mengambil sesuatu dari dalam tas. "Ini ambillah, saya tidak punya waktu untuk membelikan ponsel baru untukmu. Ambillah dua belas juta ini dan belilah ponsel untukmu. Saya minta maaf atas tindakan saya kemarin. Saya hanya tidak suka saja jika ada seseoramg yang menyorot saya apalagi dengan kamera" Arsen memberikan amplop tebal yang berisi uang pada Shena. Shena langsung menerimanya dengan kikuk. Dia menunduk seolah olah dia menyesal. "Saya yang harusnya minta maaf sama bapak karena saya telah lancang kemarin. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan saya juga akan bersikap profesional"
Arsen mengangguk seraya tersenyum tipis. Dia sudah memaafkan kesalahan Shena. Lagi pula Shena juga tidak seperti wanita wanita lainnya. Karena Arsen bisa mengenali karakter Shena. "Kalau begitu saya permisi dulu pak" pamit Shena. "Silakan" jawab Arsen. Kejadian tadi juga tidak lepas dari pandangan Arini. Dia bertanya tanya tentang siapa Shena dalam hatinya. Karena Arsen juga tidak pernah cerita apapun mengenai dia. Setelah Shena keluar baru lah Arini bertanya. "Siapa dia Mas?" tanya Arini. Arsen langsung menoleh pada Arini. "Dia cuma karyawanku saja bukan siapa siapa" jawab Arsen. "Harus banget ya tadi kamu senyumin dia? Aku aja yang istri kamu hari ini belum mendapat senyuman kamu Mas" Arini benar benar cemberut. Meskipun dia sudah jadi seorang ibu tapi sifat kekanak kanakannya masih belum hilamg.
Arsen menarik dagu Arini kemudian mendekatkannya pada wajahnya. Arsen langsung menempelkan bibirnya pada bibir Arini kemudian secara perlahan dia membuka bibir Arini dengan lidahnya. Mereka berdua saling menyecap dan menikmati. Arsen semakin memperdalam ciumannya pada Arini, dia menekan tengkuk Arini hingga bibir mereka benar benar menempel dengan erat. Tangan Arsen tidak tinggal diam, dia menyusup ke dalam baju Arini kemudian membuka penutup dada Arini. Arsen langsung bermain main dengan puncak dada Arini hingga Arini benar benar melenguh. "Mas jangan keras keras nanti Asi nya keluar" ucap Arini disaat Arsen melepaskan ciumannya. Arsen mengangkat baju Arini kemudian dia mengambil jatah yang seharusnya untuk si kembar. Arsen benar benar meminumnya. Arini berusaha mendorong kepala Arsen tapi Arsen malah meremas dadanya dengan kuat. Arini harus pasrah sekarang. Beruntung Si kembar tidak rewel. Lima menit kemudian Arsen menegakkan tubuhnya kembali sambil membersihkan Asi di sudut bibirnya. "Pantes aja si kembar suka, enak ternyata"
Arsen melihat ke arah Box si kembar. "Mulai sekarang kalian juga harus berbagi jatah dengan Daddy"
Arini hanya menggelengkan kepalamya kemudian dia mulai merapikan pakaiannya kembali. Arsen hanya tertawa puas ketika melihat Arini mendelik padanya ketika Puncak dadanya lecet.