Hot Daddy

Hot Daddy
dibawa ke kantor



Keesokan harinya, setelah perbincangan semalam Arini tidak lagi membahas hal itu meskipun dia ingin. Arini tidak ingin merusak suasana hati suaminya lagi. "Oh iya sekarang kamu beres beres sama Si kembar, hari ini aku akan membawa kalian ke kantorku" ucap Arsen pada Arini di tengah tengah sarapan mereka. "Kamu mau bawa Arini juga?" tanya Max dengan heran. Arsen mengangguk dengan yakin. Lagi pula kapan lagi dia bisa mengajak anak istrinya pergi ke kantor. Arsen selalu sibuk dengan pekerjaan kantornya. Tapi hari ini dia meluangkan waktunya sedikit untuk mengajak mereka pergi ke kantor. "Mas yakin mau ngajak aku sama si kembar ke kantor? Nanti mas malah tidak fokus bekerja" ucap Arini sambil menatap wajah Arsen. "Justru dengan membawa kalian bisa menambah semangat baru untukku" Arsen telah selesai makan kemudian beranjak dari kursi makannya. Kemudian Arsen merapikan kancing jas nya. "Biar aku yang nyiapin si kembar kamu selesaikan sarapan dulu setelah itu siap siap" ucap Arsen. Tanpa menunggu jawaban Arini lagi Arsen membawa ketiga anak kembarnya ke dalam kamarnya. Tentu saja dia harus bolak  balik dari ruang makan ke kamar. Karena Arsen tisak mungkin membawa mereka sekaligus.


"Semalam lo sudah ngomong tentang hal itu pada Kak Arsen?" tanya Via pada Arini. Arini mengangguk sesaat. "Lalu bagaimana?" Kepala Via sudah penuh dengan tanda tanya. Karena sebelum Arini mengatakan pada Arsen, Arini sempat bercerita pada Via terlebih dahulu. Dan Via hanya mendengarkan semuanya sambil memberinya sedikit saran. "Tidak ada hasil" jawab Arini. "Aku mau siap siap dulu, lo lanjutin aja makannya sama Uncle Max." Setelah itu Arini menyusul Arsen ke dalam kamar. "Memangnya apa yang kalian bicarakan semalam?" tanya Max penasaran "Mengenai orang tua kandung Arini, dia ingin bertemu dengan mereka. Arini ingin tahu apakah orang tua kandungnya masih hidup atau tidak" Max yang sedang makan langsung tersedak begitu saja. Via dengan sigap langsung memberikannya Air Max langsung meminumnya dengan cepat. "Pelan pelan makannya biar gak tersedak" omel Via sambil mengelap bibir Max dengan tangannya. "Jangan bicarakan hal itu lagi dengan Arini" nada suara Max berbeda.


"Kenapa? Bukankah Arini berhak tau siapa orang tua kandungnya?" Max langsung menoleh pada Via. "Jika dia sampai tahu siapa orang tua kandung sebenarnya maka dia bisa terancam. Kamu jangan ngomongin ini lagi bersama Arini kalau bisa kamu harus buat Arini lupa tentang orang tua kandungnya" setelah mengatakan hal itu Max langsung pergi begitu saja. Via sampai bingung kenapa Max sampai segitunya melarang dia untuk tidak membicarakan hal itu lagi bersama Arini. Ah sudah lah daripada dia pusing memikirkan hal itu lebih baik Via melanjutkan sarapan dan minum susu kehamilannya seperti biasa.


.


.


.


Sama seperti hari kemarin, hari ini Arsen juga tidak menyetir. Dia menggunakan supirnya lagi. Arsen duduk di belakang bersama dengan Arini sambil menjaga anak anaknya. Si kembar juga terlihat nyaman di mobil, mereka tidak menangis sama sekali. "Semua perlengkapan si kembar sudah kamu bawa kan?" tanya Arsen pada Arini. "Iya, semuanya udah dibawa kok" Arsen menggendong Rei, sama seperti Alea Rei juga terlihat nyaman dalam dekapan Arsen.   


Akan tetapi Rei lebih condong pada Arini. Beberapa menit kemudian Mobil mereka sudah sampai di kantor. Supir Arsen langsung turun kemudian membukakan pintu untuknya. Arsen langsung turun bersama dengan Arini. Dia juga sudah menurunkan kereta dorong bayinya. Arsen langsung menidurkan Aiden, Rei dan Alea di kereta dorongnya. "Ayo masuk" ajak Arsen kemudian.


"Gila istri pak Arsen benar benar cantik banget, lo aja kalah jauh Shen" ucap Teman Shena yang kemarin juga ikut membicarakan Arsen. "Berisik banget sih lo, tapi masa iya sih dia istrinya pak Arsen. Dia kelihatannya masih muda sekali loh. Kalau gue tebak mungkin umurnya sekitar dua puluhan gitu" ucap Shena matanya tak pernah lepas dari Arsen. "Udah lah daripada bahas pak Arsen lagi mending kita lanjutin pekerjaaan kita. Lihat disana, Rocky dari tadi memandangi kita terus. Lo tahu kan dia punya rekaman kita" Shena menghela nafasnya dengan pasrah lalu dia pergi bersama temannya itu untuk melanjutkan pekerjaannya lagi


"Rocky, apa ruangan saya sudah kamu siapkan?" tanya Arsen pada Rocky. Rocky menunduk dengan sopan kemudian menjawab. "Sudah pak, semua Box bayi sudah saya atur di tempat yang sesuai" Arsen mengangguk kemudian dia mengambil dompetnya dari dalam saku celananya. Arsen mengambil sepuluh lembar uang ratusan ribu kemudian memberikannya pada Rocky. "Ini adalah berkah buat kamu karena kamu sudah membantu saya membuang popok Alea kemarin" Arini menahan tawanya ketika melihat Rocky yang tercengang. Kemarin Arsen juga cerita padanya perihal Alea di kantor makanya Arini tahu.


"Ini serius pak?" tanya Rocky.


"Iya saya serius, ambillah"


Rocky langsung mengambilnya sambil mengucapkan terima kasih. "Ya sudah ayo masuk ke dalam ruanganku sekarang, dan kamu Rocky tolong awasi semua karyawan hari ini. Pastikan semuanya bekerja dan tidak berleha leha di dalam kantor"


'Baik pak" jawab Rocky. Arsen mengangguk kemudian menlanjutkan mendorong kereta bayi Aiden dan Alea ke dalam ruangannya. Sedangkan Arini dia hanya mendorong milik Rei saja.