
Max menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu mengajak Via turun, Via menatap di sekelilingnya yang penuh dengan warna hijau. Ya, Max mengajaknya ke sebuah taman yang dipadati oleh anak anak remaja bahkan pasangan suami istri. "Ayo kita duduk di bangku itu" tunjuk Max pada sebuah bangku putih yang tak jauh dari hadapannya itu.
Via mengangguk lalu mengikuti langkah Max menuju ke arah bangku itu. Setelah itu mereka langsung duduk. Via mengalihkan perhatiannya dengan melihat semua orang yang bersenang senang di taman. Hatinya terasa damai ketika melihat semua pemandangan itu.
Max terus menatap Via yang masih dengan serius menatap orang lain. Dulu dia hanya sekedar memandang lukisannya saja dan sekarang Max sudah berada di dekatnya. "Jadi bagaimana soal jawabanmu itu, bukan kah hari ini kita ketemuan untuk membicarakan hal itu" ucap Max.
Via langsung menoleh ke arah Max, pertanyaan Max membuatnya tersadar dengan tujuan awalnya. "Tapi sebelum aku menjawab, Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan Om kalau misalnya aku menolak?" tanya Via. Ia sudah memikirkannya selama semalaman, Via ingin tahu reaksi Max dulu sebelum menjawab masalah itu.
"Yang pasti aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu. Aku akan berusaha untuk membuatmu melirik ke arahku, bukan pria lain" Jawaban Max membuat Via mengukir senyumnya. Dan sekarang saatnya untuk dia memberikan jawaban. Via mengambil nafas yang dalam lalu menghembuskannya kembali.
"Aku menerima Om" jawabnya. Max yang tadinya berpikir Via akan menolak, matanya langsung berbinar. "Kamu serius dengan apa yang kamu katakan ini?" tanya nya sekali lagi. Via mengangguk dengan cepat hingga Max menarik Via ke dalam pelukannya. Max membuat Via menyandar di dada bidangnya dan mengelus rambut panjangnya. "Aku janji akan membantumu menghilangkan perasaan pada Arsen dan membuatmu jatuh cinta padaku"
"Aku juga akan belajar menerima Om" Via mengeratkan pelukannya pada Max. Max langsung mencium keningnya dengan gemas. Akhirnya wanita yang diinginkannya sudah menjadi miliknya meskipun hatinya masih abu abu. Tapi Max yakin suatu saat Via pasti akan jatuh cinta padanya.
Max melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Via dengan senyumnya tak lama kemudian Max langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Via dan mencium bibirnya dengan lembut. Via membulatkan matanya ketika Bibir Max sudah menempel di bibirnya.
Perasaannya langsung canpur aduk antara malu dan menginginkannya, karena tidak mendapat penolakan Max menarik tengkuk Via dan mulai ******* bibirnya dengan pelan. Menyecap setiap bagian yang ia suka dan merasakan rasa manis yang tercipta dari bibir Via. Mereka berciuman di tengah tengah ramainya taman hingga para orang tua menutup mata anaknya yang masih kecil agar tidak melihat adegan tak senonoh itu.
Max melepaskan ciumannya dengan nafas yang terengah engah. "Apa ini ciuman pertamamu?" tanya Max. Dengan wajah merona Via mengangguk karena nyatanya ia memang belum pernah berciuman sama sekali. Baru pertama kali ini ia merasakannya dan itu pun bersama Max.
"Pantas aja masih kaku, nanti lain kali aku ajarin kamu berciuman dengan hebat" ucap Max sambil memandang wajah Via yang terus merona. "Emmm tapi maaf sebelumnya, aku tidak enak memanggilmu dengan sebutan om lagi, karena sekarang kamu sudah menjadi kekasihku. Jadi aku harus memanggilmu apa?"tanya Via. Via membalas tatapan Max dengan tatapan teduhnya.
"Terserah kamu, tapi kalau boleh aku sarankan sebaiknya kamu memanggilku Mas. Karena umurku jauh di atasmu." Max sadar diri, dirinya sudah cukup tua untuk Via yang masih berusia dua puluh tahun. Apalagi kekasihnya itu adalah sahabat dari keponakannya sendiri. "Iya deh Mas"
"Miss you too Mas"
Max tetap tersenyum meskipun itu bukanlah jawaban yang diharapkan. Sekarang tugasnya adalah membuat Via jatuh cinta padanya. Dan mungkin sekarang Max juga membutuhkan pertolongan Arini lagi. Karena cuma Arini yang bisa membantunya. "Mas, aku laper. Kita makan nasi pecel di sana yuk" ucap Via sambil menunjukkan tangannya ke arah warung nasi pecel.
"Ya udah, ayo kita kesana" ucap Max. Max tidak masalah untuk makan dimana pun yang penting makanan itu sehat baginya. Dan sekarang gadisnya meminta makan di sebuah warung pecel itu, dengan siap Max menerimanya. Via benar benar berbeda dari wanita wanita lainnya. Disaat mereka bisa makan di tempat yang mewah, Via malah memilih tempat yang sederhana.
.
.
Setelah seharian berada di dalam kamar, Akhirnya Arini keluar dari kamarnya. Tapi sebelum itu ia mencuci muka terlebih dahulu, matanya sedikit bengkak gara gara menangis tadi. Arini tidak mau berlarut larut dalam kesedihannya, ia harus menanyakan masalah ini pada Arsen.
Arini keluar menuju ke dapur dan melihat Bi Mina yang sedang mencuci piring. "Bi, Daddy kemana Bi?" tanya nya. Bi Mina mematikan kran air nya dan langsung meghadap ke arah Arini. "Tuan lagi ada di ruangan kerjanya Non" jawab Bi Mina.
Arini mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja Arsen, Arini memantapkan hatinya sebelum ia benar benar masuk ke dalam. Saat dia akan mengetuk pintu, pintu sudah terlebih dahulu terbuka. Arsen dengan rambut acak acakannya berdiri di depannya.
"Ada apa sayang?" tanya Arsen.
"Arini mau bicara sesuatu sama Daddy, tapi tidak disini" jawab Arini. Arsen mengernyitkan dahinya ketika melihat Arini yang tak seperti biasanya. "Mau bicara dimana?"
"Ayo ikut Arini bentar Dad"