Hot Daddy

Hot Daddy
Kedatangan Shila



Sudah tiga minggu sejak kelahiran si kembar, Kini mereka sudah tidak perlu dibedong lagi karena sekarang Arini mulai memakaikan mereka baju bayi. Dalam hal ini Arsen lah yang paling semangat dia memakaikan baju untuk mereka dengan hati hati. Tentu saja dengan bimbingan seorang istrinya. "Mama bilang kalau mau pakein baju itu bagian tangan dulu yang harus dimasukin, seperti ini nih. Tapi lakuin dengan pelan pelan" ucap Arini sambil mengajarkan Arsen. Arsen mengangguk mengerti kemudian dia mengambil baju untuk Rei. Arsen membuka kancing baju bayi itu kemudian memakaikannya pada Rei. Awalnya dia masih bingung tapi setelah melihat bagaimana Arini melakukannya Arsen jadi bisa. "Seperti ini kan?" tanya Arsen pada Arini. Arini melihat ke arah Rei kemudian mengangguk. "Iya seperti itu. Mas tolong bawa mereka ke box bayi di ruang tengah ya aku mau beresin ini dulu" Arini membereskan semua barang barang si kembar dan menaruhnya di tempat semula. Sedangkan Arsen dia memindahkan tiga bayi kembarnya ke ruang tengah. Setelah semua pekerjaannya selesai Arini menyusul ke ruang tengah. "Uncle Max sama Via hari ini kemana? Tumben gak kelihatan di rumah" tanya Arini pada Arsen.


"Mereka pergi ke rumah sakit untuk check up kandungan" jawab Arsen. Arini mengangguk kemudian duduk di sofa bersama Arsen. Arini menyandarkan kepalanya di dada bidang Arsen. Arsen langsung mendekapnya dan memberikan Arini kehangatan. "Aku ingin kita terus seperti ini sampai tua nanti, mengawasi pertumbuhan anak anak dan melihat mereka sukses di masa depan " Arsen menunduk kemudian mengecup kening Arini. "Kamu tidak perlu khawatir, aku yakin suatu saat mereka bisa sukses bahkan lebih dari aku. Apalagi Aiden, Feelingku mengatakan kalau dia akan lebih sukses dariku." Arini mendongakkan kepalanya kemudian mengecup rahang Arsen. "Aku sayang sama mereka bertiga Mas, Aiden, Rei dan Alea. Suatu saat rumah ini ramai karena kehadiran mereka apalagi ditambah sama anak uncle Max dan Via nanti"


"Aku mau memberi Alea asi dulu" ucap Arini sambil berdiri dan mengambil Alea dari Box bayinya. Arini membuka kancing atasnya kemudian mulai menyusui Alea. Arsen merasa iri dengan Alea yang tiap malam selalu mendapat jatah susu. Berbeda dengannya yang sekarang harus puasa ***** dulu. "Enak banget ya susu Mommy sampe kamu haus terus" ucap Arsen. Alea hanya melirik Arsen sambil menggerakkan jari tangannya. Arini mengarahkan jari Alea pada dadanya. Membuat bagian bawah Arsen berdiri dengan keras. "Nanti malam Mas mau buka puasa ya" ucap Arsen pada Arini. Arini langsung menoleh  kemudian menjawab. "Iya kalau si kembar tidak rewel, Mas tahu sendiri kan kalau tiap malem kalau gak Alea yang rewel pasti Rei" Arsen menghela nafasnya. "Kalian berdua benar benar membuat Daddy resah" gumamnya. Arini terkikik geli sambil melihat ke Alea yang juga tersenyum.


Bel rumah Arsen berbunyi tiga kali Arsen berdiri kemudian bergegas untuk membukakan pintu. Di depan pintu ada Dani dan Shila. Mereka berdua datang hanya untuk melihat si kembar. "Arini nya ada kan om?" tanya Shila. "Ada, ayo masuk" jawab Arsen. Arsen membawa mereka ke ruang tengah dimana Arini yang  tengah menyusui Alea. Sekarang Arsen tidak mempermasalahkan Arini menyusui si kembar di depan laki laki karena sekarang pakaian Arini sangat tertutup. Dia hanya mengeluarkan bagian puncak dadanya untuk Alea menyusu. "Aunty datang" Alea yang hampir saja tertidur langsung menoleh dan mencari sumber suara itu yang ternyata adalah Shila. "Lo sendirian kesini? Tumben gak bareng Gabriel?" tanya Arini. Shila duduk di samping Arini kemudian disusul oleh Dani yang duduk di sofa lainnya. "Gabriel sekarang sibuk banget apalagi semenjak bersama pak Angga. Dia semakin rajin mengerjakan tugas kampus sekarang" Shila tertawa.


"Ya bagus kalau gitu berarti kehadiran pak Angga sangat bagus untuknya. Dia bisa memperbaiki nilai dengan dibantu oleh pak Angga. Oh iya beberapa minggu yang lalu gue sama Via sempat melihat dia jalan sama pak Angga di malam hari. Sebenarnya sekarang hubungan mereka sejauh mana?" Arini benar benar penasaran.


"Dani punya alasan pak" Dani mencoba membela saudara kembarnya di hadapan Arsen. "Ya, semua hal pasti ada alasannya Dani. Tapi apapun alasan itu harusnya tidak bisa menghalangi dia untuk mendekati Gabriel, dan untuk mengatakan apa yang dia rasakan sebenarnya" Shila mengangguk setuju bukannya dia ingin memojokkan calon kakak iparnya tapi menurutnya Doni benar benar tidak gentle. Dia terlalu berlebihan dengan kekhawatiran dirinya sendiri. "Selain mengenal kamu aku juga mengenal kak Doni kak, dia memang lebih pemalu dari kamu. Soal perasaan mungkin dia juga masih amatiran. Tapi sebenarnya Kak Doni juga sayang pada Gabriel." Alea selesai menyusu kemudian Arini menutup dadanya kembali dan menyerahkan Alea pada Arsen. "Seharusnya dia juga belajar dari kisah kamu dengan Shila. Shila saja bisa menerima iamu apa adanya apalagi Gabriel." tambah Arsen lagi.


"Tapi sepertinya kita sudah ikut campur terlalu jauh deh Mas, bagaimana pun juga itu sudah keputusan mereka. Toh Gabriel juga belajar menerima pak Angga sekarang. Sedangkan kak Doni dia juga belajar mengikhlaskan Gabriel"


"Apa yang dibilang Arini memang benar, aku juga tidak ingin ikut campur. Biarkan doni sendiri yang menentukan baiknya gimana" Arsen menghela nafasnya kemudian dia menitipkan  Alea pada Shila dan mengambil Aiden dari Box bayinya. Sedangkan Rei sekarang dia ada di dekapan Arini. "Daddy harap suatu saat kamu bisa menjadi orang yang tegas, dalam hal apapun termasuk percintaan"  Dani mendengar hal itu dia hanya diam saja.  "Oh iya kedatangan gue kesini selain ingin melihat si kembar gue juga mau ngasih ini ke lo Rin" Shila mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. Arini membulatkan matanya ketika melihat apa yang diberikan Shila.


"Kamu?"