
Arini sedang dalam perjalanan pulang bersama Doni, tapi dia tidak sadar kalau sebenarnya dari tadi Doni hanya membawanya mutar mutar tidak jelas. Seperti ada sesuatu yang direncanakan oleh mereka. "Maaf bu, di depan sedikit macet dan sepertinya butuh waktu satu jam untuk bisa melewati jalan ini. Mau putar balik pun juga sudah tidak bisa bu" sebenarnya Doni sengaja mengulur waktu dengan melewati jalan yang macet. Dia sudah tahu kalau di jalan ini sering terjadi kemacetan jadi daripada dia mutar mutar gak jelas lagi lebih baik Doni menyantaikan dirinya dengan ikut membuat kemacetan di jalan itu. Arini langsung mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Doni. "Tidak apa apa, tapi sepertinya saya harus menghubungi suami saya dulu'
"Tidak perlu Bu, karena pak arsen pasti akan sibuk. Saya dengar sendiri dari bapak tadi kalau habis ini dia mau kembali ke kantor dan akan melakukan meeting bersama dengan yang lainnya. Saya rasa alangkah lebih baiknya ibu tidak menelfon dulu. Takutnya bapak sedang sibuk meeting disana. Khawatir telfon dari ibu membuat konsentrasi bapak hilang disana" Arini berpikir sebentar, semua yang dikatakan Doni memang benar. Suaminya pasti akan sibuk kembali di kantor hari ini. Arini hanya menghela nafasnya dengan pasrah. "Kalau begitu saya akan menunggu saja" gumamnya
Doni bersyukur Arini tidak rewel, dari tadi dia khawatir kalau Arini pasti minta turun atau apa begitu. Karena jujur saja Doni juga tidak berpengalaman dalam menghadapi ibu hamil. Karena yang mereka tahu hanyalah urusan pekerjaan dan pekerjaan. Tidak ada lagi yang mereka pikiran selain pekerjaan dan kedua orang tua. "Ibu, temannya Shila? Maaf kalau saya lancang bertanya Bu" ucap Doni dengan hati hati. Arini tentu saja terkejut mendengar Doni menyebut nama sahabatnya. "Kamu kok tahu kalau saya temannya Shila? Kamu kenal?" tanya Arini pada Doni. Kali ini Arini menjadi lebih semangat lagi. Dia akan menggali informasi dari Doni mengenai Shila sahabatnya.
"Kalau dibilang kenal ya kenal sih bu, cuma baru baru ini. Masih belum lama. Dan juga Shila teman ibu juga menjalin hubungan dengan saudara kembar saya" jelas Doni dengan pelan pelan. "Oh Shila lagi pacaran sama kembaran kamu?" Arini mengangguk angguk kemudian setelah beberapa menit baru lah dia menyadari kesalahannya. "WHATTTTT SHILA PACARAN SAMA KEMBARAN KAMUU" Doni langsung terkejut dan menutup kedua telinganya dengan baik. Suara Arini benar benar di luar dugaannya. Hampir saja membuat gendang telinganya pacah karena teriakan dari Arini yang super duper sangat dahsyat di telinganya.
"Eh maaf maaf, gimana ceritanya Shila bisa sampai pacaran dengan saudara kembarmu. Karena setahu ku sih Shila paling anti sama yang namanya cowok" ucap Arini sambil menatap lurus ke depan mobil sambil sesekali menikmati wajah tampan Doni itu. "Saya akan menceritakan semua pada ibu sekarang" dan mulailah pembicaraan mereka yang berlanjut dalam waktu satu jam.
.
.
Sedangkan ketiga sahabat Arini, mereka sudah berada di ruang tengah membantu Bi Mina menyiapkan semuanya. Meski disini mereka hanya tamu tapi mereka bersikeras untuk membantu Bi Mina. "Ini bagusnya ditaruh dimana ya?" tanya Via sambil menghias bagian sofa dengan bunga. Dari tadi hampir mereka semuanya yang mengerjakan dekorasinya sedangkan Bi Mina dia hanya di minta untuk menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan oleh mereka. Dengan begitu pekerjaan bisa terbagi dan cepat selesai. Saat Arsen melewati ruang tengah dia melihat ke arah mereka.
"Hasil dekor kalian bagus, saya suka. Terima kasih atas bantuan kalian hari ini" ucapan Arsen berhasil menarik perhatian ketiga sahabat tersebut. Lalu Arsen melirik ke arah Shila. "Shila, pacarmu sudah menghubungi saya. Dia juga akan datang hari ini. Kamu bersiaplah karena setelah acara hari ini dia akan mengajakmu kencan" setelah mengatakan hal itu Arsen langsung pergi begitu saja. Sekarang pipi Shila sudah sangat memerah, Via dan Gabriel saling senggol dan mencolek pipi Shila. "Ciee yang mau kencan, Shila kita udah dewasa nih"
'Tau tuh, lihat pipinya kayak kepiting rebus"
"Apaan sih kalian, ayo lanjut lagi deh" ucap Shila sambil berusaha menutupi salah tingkahnya.