
Setelah semua orang pulang, Arsen menutup dan mengunci pintu ruangan Arini. Memastikan bahwa semuanya tertutup baru kemudian Arsen menghampiri Arini lagi. "Udah, sekarang saatnya kamu memberi Asi untuk mereka" ucap Arsen sambil menggendong bayi bungsunya. "Yang pertama si bungsu ya Mas. Ayo sini sayang sama Mommy" Arsen langsung memberikan putrinya kepada ibunya. Arini membuka tiga kancing atasnya kemudian mengeluarkan dadanya dari dalam sana. Mata Arsen membulat ketika melihat dada Arini yang sekarang ukurannya lebih besar ditambah lagi dengan seorang bayi yang menyusu kepadanya. Arsen hanya bisa meneguk ludah ketika putrinya menyusu dengan cepat seolah olah bayi mungil itu merasa haus sekali. "Mas, bayi kita mau dikasih nama apa?" Arini mengelus wajah putrinya dan menciumnya dengan sayang. Arsen masih tertegun dia masih sibuk melototi gunung kembar Arini. Dia merasa itu adalah miliknya namun sekarang ketiga kurcacinya membuatnya harus menahan diri. "Mas" Arini memanggil Arsen namun tetap saja dia tidak sadar. Hingga Akhirnya Arini melambaikan tangannya di depan wajah Arsen.
"Kenapa bengong sih? Dari tadi aku nanya anak anak kita mau dikasih nama apa eh Mas malah bengong" Arini melihat Arsen tepat di kedua bola matanya. Arsen langsung mengalihkan pandangannya dari dada Arini. "Aku sudah menyiapkan nama yang bagus untuk mereka. Bayi pertama aku akan memberinya nama Raiden Alaskara Stevano M.
Yang kedua Reiden Alaskara Stevano M. Dan untuk putri bungsu kita Azalea Alaskara Stevano M. Gimana menurut kamu?" Arini langsung tersenyum mendengar nama nama untuk anak mereka. "Bagus Mas, untuk panggilannya mungkin Aiden, Rei dan Alea. Jadi Alea tidak akan salah sebut nama abangnya nanti" jawab Arini. "Uuhh Alea putri cantiknya Mommy" Arini menciumi seluruh wajah Alea dengan gemas. "Kalau Alea udah gantian sama Rei" ucap Arsen lagi. Arini hanya mengangguk saja kemudian melanjutkan bercanda dengan putri kecilnya.
Melihat pemandangan itu membuat perasaan Arsen berubah menjadi campur aduk. Dulu dia sangat berharap sekali mendapatkan seorang anak tapi sayang tuhan tidak mengabulkan keinginannya. Istrinya ternyata mandul dan tidak bisa memiliki seorang anak. Arsen sudah mencoba berbagai cara untuk bisa mendapatkan seorang anak termasuk dengan bayi tabung. Arini melepaskan dadanya dari mulut Alea, sekarang Alea sudah tertidur dengan nyenyak. "Mas Rei nya tolong bawa kesini. Dan Alea tidurkan lagi di box bayinya. Awas jangan sampe kebangun, Alea itu rewel soalnya" Arsen mengambil Alea dengan hati hati lalu dia menidurkannya kembali di box bayi. Saat Arsen mengambil Rei tiba tiba saja Rei menangis dengan keras, Arini langsung memelototi Arsen. "Mas apain Rei sampai dia nangis?"
"Dia nangis sendiri Mas gak ngapa ngapain" jawab Arsen sambil berusaha menenangkan Rei di gendongannya. Arini hanya memutar bola matanya dengan malas. "Yaudah siniin Rei nya biar aku susui dulu" lagi dan lagi Arsen memberikan Rei kepada Arini untuk disusui. Menjadi orang tua untuk anak kembar tiga sekaligus memang tidak mudah. Mereka harus membagi waktu untuk mengurus bayinya. Kadang yang satu menangis yang lainnya ikut menangis hingga membuat orang tuanya bingung. Tapi sejauh ini Arsen dan Arini masih baik baik saja. Mereka bisa mengurus ketiganya sekaligus. "Mas kalau aku liat liat ya mukanya si Aiden itu persis seperti Mas banget. Cuma dia yang paling mirip sama Mas. Sedangkan Rei dan Alea keduanya memiliki kemiripan denganku" Arsen memang menyadari jika anak tertuanya itu sangat mirip dengannya. "Cetakan pertama memang tidak pernah gagal" ucap Arsen sambil tertawa geli.
Setelah menyusui Rei dan Aiden, Arsen kembali membuka pintu. Dan ternyata di luar sana sudah banyak teman teman Arini yang menunggu untuk masuk. "Kalian datang lagi?" tanya Arsen. "Iya om kami kesini juga ingin memberikan ini untuk Arini" jawab Shila sambil mengangkat satu kantong belanjaan. Tadi dia bersama Gabriel pergi ke Mall hanya untuk membelikan hadiah untuk si Triplet kembar. Jika Shila membelikan beberapa kaos tangan dan kaos kaki untuk mereka, Gabriel malah membelikan mainan"
Arini menyerah sekarang, Aiden memang tidak bisa diajak bercanda. Berulang kali dia melakukan hal yang lucu ekspresi Aiden masih tetap sama. Shila tertawa geli melihat pemandangan itu. Dia langsung berjalan mendekat pada Arini bersama Gabriel. "Sepertinya Aiden adalah Om Arsen Versi kecil."
"Iya, dia benar benar dingin meskipun masih bayi" lanjut Gabriel. "Kalian kapan datang kesini?" tanya Arini sambil melihat ke arah mereka. "Barusan saja, oh iya ini gue sama Gabriel bawain sesuatu buat lo. Anggap aja ini hadiah dari kami" Arini langsung menerimanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih menggendong Aiden. "Aiden bilang makasih dulu sama Aunty" ucap Arini pada Aiden. Tapi reaksi Aiden hanya mengerjapkan matanya dengan lucu. Gabriel tertawa kecil melihat Aiden. "Gue boleh gendong Alea gak?" tanya Gabriel kemudian. "Coba lo cek aja kalo dia lagi tidur jangan tapi kalau udah bangun ya gendong aja"
"Masih pada tidur semua, betah banget anak lo tidur" ucap Gabriel.
"Mereka baru saja rewel tadi" jawab Arini