Hot Daddy

Hot Daddy
Bandara



Dengan diantar oleh supir baru Arsen, Arini dan Via ikut ke bandara untuk mengantar kepergian Mila dan Garda ke jepang. Perjalanan dari rumah ke bandara hanya membutuhkan waktu satu jam. beruntung mereka tidak mengantuk selama di perjalanan. Tiga puluh menit kemudian mobil mereka telah sampai di bandara, Arini dan Via langsung turun dari mobil. Kemudian mereka mencari keberadaan Mila dan Garda di tengah keramaian orang yang berlalu lalang di bandara. "Itu dia mama sama papa" tunjuk Via pada Arini. Arini langsung menoleh dan melihat Mila dan Garda yang sedang melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya. "Ya udah yuk kita kesana" ajak Arini. Via mengangguk sambil menuntun Arini dan berjalan kearah mertuanya itu. "Pelan pelan saja jalannya sayang, kita masih punya waktu lima belas menit lagi sebelum pesawat akan terbang" ucap Mila sambil membantu Via. "Mas Arsen sudah tahu ini ma?" tanya Arini tiba tiba. "Papa baru saja menelfon Arsen dan dia sudah tau kalau mama sama papa akan pergi hari ini" ucap Garda.


"Kok Mas Arsen gak ada bilang apa apa sih ke aku?" heran Arini. Mila tertawa kecil lalu beralih pada Via. "Via, kamu memang bukan menantu tertua, tapi kamu lebih tua dari Arini. Dan pastinya kamu juga lebih dewasa dari dia. Mama mohon tolong jaga Arini. Kehamilannya sudah sangat besar. Mama percayakan Arini sama kamu apa kamu siap?" tanya Mila pada Via. Via mengangguk lalu tersenyum kemudian   dia mengambil tangan Mila dan memegangnya dengan erat. "Mama tenang aja tanpa mama suruh pun Via bakal menjaga Arini. Bagaimana pun juga Via sudah menganggap Arini seperti adik kandung Via sendiri. Jadi mama tidak perlu khawatir. Mama sama papa harus fokus untuk perusahaan Mama yang ada di jepang"


Mila langsung memeluk Via sambil tersenyum kemudian dia juga memeluk Arini. Suara panggilan pesawat mulai terdengar, semua penumpang diharap untuk segera bersiap siap dan masuk ke dalam pesawat. Arini dan Via kemudian memeluk Garda secara bergantian. Mereka sebenarnya tidak rela melepaskan kepergian mertuanya. "Papa disana harus baik baik aja, jaga kesehatan. Jangan banyak merokok lagi. Awas aja kalau papa sampai merokok" ucap Arini. Air matanya sudah meleleh hingga ke pipinya. Garda mengangguk kemudian dia mengacak rambut Arini dengan gemas. "Iya papa bakal kurangi merokok asal kamu harus rajin minum susu kehamilan" setelah itu Garda juga memeluk Via. "Kamu juga harus jaga kesehatan, bukan Arini saja yang hamil kamu juga. Jaga calon cucu papa dengan baik" "iya pa" jawab Via.


Mila dan Garda melambaikan tangan untuk yang terakhir kalinya kemudian mereka menghilang bersamaan dengan seluruh penumpang pesawat garuda. Via menoleh pada Arini dia melihat Arini masih menangis. Dengan inisiatifnya sendiri Via langsung memeluk Arini. 


"Udah ya jangan nangis nanti kalau lo udah lahiran pasti mereka bakal datang kembali" Via terus menenangkan Arini. "Mau pulang" rengek Arini pada Via. Membuat keduanya tertawa bersama karena kelakuan mereka seperti anak kecil. Via dan Arini tidak peduli jila harus dipandang aneh oleh orang orang di sekitar mereka.


.


.


Shila hanya menyengir kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dani ikut berdiri lalu merangkul Shila dari arah samping. "Maklumin Shila ya, hari ini dia lupa minum obat"


Shila langsung mengerucutkan bibirnya karena tunangannya juga ikut meledeknya bersama dengan kedua sahabatnya itu. Arini dan Via tertawa bersama. "Yaudah ayo duduk dulu, kita ngobrol sambil nyantai aja" ucap Via. "Lo gak mau nyiapin minuman atau cemilan gitu Vi? Pelit amat sih tuan rumahnya" Shila menatap Via dengan tatapan lugunya. Sungguh demi apapun kalau ada yang namanya penggadaian sahabat maka Via akan melakukan yang pertama. Dia akan menggadaikan Shila terlebih dahulu. "ya udah bentar gue bikinin" Via menggerutu kesal sambil pergi ke dapur. Shila hanya terkekeh kemudian dia melihat ke arah Arini "Btw ada gosip baru loh Rin di kampus? Mau denger gak? Ini soal Genita sih nenek lampir yang pernah ngata ngatain lo dulu"


"Apaan?" tanya Arini penasaran. "Kak Dani main game dulu sana, jangan nguping gosip perempuan" usir Shila pada tunangannya. Dani hanya memutar bola matanya malas kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya. "Jangan lama lama" ucap Dani. "Iya siap kak"