
Suasana di rumah sakit sangat menegangkan, Via, Max dan Bi Mina tengah gugup menunggu kelahiran tiga bayi Arini. Mereka sudah menunggu selama dua jam sejak operasi itu dimulai. Arsen sudah memutuskan bahwa Arini harus operasi dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri dan anak anaknya jika membiarkan Istrinya melahirkan secara normal. Di dalam ruangan operasi, Arsen dengan pakaian sterilnya menyaksikan bagaimana proses pengeluaran bayi dari dalam perut Arini. Arsen tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia merasa terharu sekaligus bersyukur karena bisa melihatnya secara langsung. Pada saat Dokter berhasil mengeluarkan satu bayi kemudian Dokter menyerahkannya pada suster untuk dibersihkan. Tangan Arsen tidak lepas dari tangan Arini meskipun sekarang jaraknya sedikit berjauhan karena terhalang oleh suster yang ditugaskan untuk mengambil dan membersihkan bayinya. "Oeekkkk ooeekkkk oeekkkk" bayi kedua juga telah dikeluarkan. Dokter tersenyum melihat perubahan wajah Arsen. "Anak pertama dan kedua anda adalah laki laki"
"Lalu bagaimana dengan anak terakhir Dok?" tanya Arsen. Dokter tidak menjawab lalu dia mengambil langkah terakhirnya untuk mengeluarkan satu bayi lagi dalam perut Arini. Berbeda dengan bayi yang kedua tadi, bayi yang ketiga menangis dengan suara yang keras. "Selamat pak anak terakhir Anda adalah cewek." Arsen berjalan perlahan kemudian melihat bayi nya yang masih belum dibersihkan. Bayi itu semakin menangis dengan keras. Dokter menyuruh suster untuk membawanya juga dan melakukan perawatan untuk bayi yang baru lahir. Arsen menolehkan kepalanya pada Arini yang terbaring dengan nyaman di kasur tempat ia dioperasi. "Lalu bagaimana dengan nasib istri saya dok?" Arsen masih mengingat dengan jelas bagaimana caranya Dokter membuka perut Arini hingga bisa mengeluarkan bayi nya.
"Untuk hal ini saya perlu menjahit kembali perutnya terlebih dahulu dan mungkin satu atau dua jam lagi pasien akan sadar" Arsen mengangguk mengerti sampai terus memegang tangan Arini dengan erat. Dia berterima kasih atas semua pengorbanan Arini demi melahirkan anak mereka ke dunia.
Beberapa jam kemudian
Setelah Arini sadar semua orang masuk ke dalam untuk melihat kondisi Arini dan bayinya. Tidak hanya Via dan Max saja. Semua teman teman Arini juga datang untuk menjenguknya. Shila yang paling heboh dengan kelahiran Arini. Tadi Via menelfonnya ketika Arini sudah masuk ke dalam ruang operasi dan reaksi Shila sempat membuat Via kesal. Shila berteriak, menjerit bahkan menangis secara bersamaan. Sampai sekarang Via merasa heran dia berteman dengan Shila atau dengan orang gila. Tapi sepertinya tidak ada bedanya karena dua duanya sama sama gila. "Aduh aduh lucunya ponakan Aunty ini" Shila terus mencubit kecil pipi Bayi ketiga yang berjenis kelamin perempuan itu. "Jangan dicubit sayang nanti dia nangis" ucap Dani dari tadi. "Tapi lucu tau Kak" ucap Shila sambil tertawa gemas. "Yaudah kapan kapan kita buat sendiri aja" jawab Dani dengan asal. Shila langsung mencubit perut Dani di depan semua orang. "Sembarangan aja ngomongnya, nikah dulu baru buat"
"Yaudah ayo nikah" jawab Dani lagi. Via dan Gabriel mengabaikan kedua pasangan itu kemudian mereka fokus pada Arini. "Gimana keadaan lo?" tanya Via pada Arini. Arini tersenyum sedikit karena dia tidak bisa banyak bergerak. "Seperti yang lo liat gue baik baik aja cuma ya agak sakit sedikit" jawab Arini. "Anak anak lo mau dikasih nama siapa?" Gabriel melihat ke arah tiga box bayi itu kemudian mengalihkan perhatiannya pada Arini lagi. "Gue nunggu Mas Arsen dulu. Oh iya kalian liat Mas Arsen gak sih?" tanya Arini sambil menatap wajah kedua sahabatnya secara bergantian. "Lagi ngurus Administrasinya sebentar, bentar lagi om Arsen balik kok" Via dan Gabriel saling bertatapan mereka sama sama menjadi saksi bagaimana seorang Arsen yang wajahnya dingin menjadi Arsen yang paling kekanak kanakan. Arsen langsung pulang ke rumah dan mengambil baju baju untuk bayinya. Dia bersikeras untuk memakaikan baju untuk bayi nya.
(Flasback)
"Maaf pak, putra dan putri bapak ini masih bayi untuk saat ini lebih baik dibedong terlebih dahulu. Biarkan bayi beradaptasi dengan dunia barunya. Nanti kalau sudah beberapa minggu baru bapak bisa memakaikan baju untuk mereka" jawab Suster yang menangani anak anak Arsen. "Saya ingin melihat anak saya memakai baju, saya tidak ingin Aurat mereka dilihat oleh orang orang yang bermata genit" Suster tersebut menggelengkan kepalanya lalu menjelaskan pada Arsen. "Ini mereka masih bayi pak jadi tidak ada orang yang akan ***** dengan bayi bayi mungil ini"
"Tetap saja Sus, saya tidak ingin anak anak saya bertelanjang. Mereka harus memakai baju" Arsen tetap ngotot dengan kemauannya sendiri sehingga membuat suster itu kesal. "Serahkan saja semuanya pada saya pak, saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk putra dan putri bapak. Saya akan membedongnya"
"Kalau ada apa apa dengan bayi bayi saya berarti kamu yang saya salahkan. Saya membuatnya dengan susah payah jadi jangan sampai dilecetin sedikitpun" ucap Arsen kemudian pergi meninggalkan suster itu dengan perasaan dongkol. Gabriel dan Via terkikik geli melihat perdebatan itu"
(Flasback off)
"Kenapa kalian saling pandang seperti itu?" tanya Arsen yang tiba tiba muncul di samping mereka. Entah kapan Arsen datang mereka baru menyadarinya sekarang. "Tidak ada apa apa om, kami hanya mengingat kejadian konyol tadi" jawab Gabriel dengan canggung. Arsen mengangguk lalu menghampiri Arini. Arsen langsung mencium kening Arini dengan lembut. "Kamu baik baik saja?" tanya Arsen. Arini mengangguk lalu dia memegang tangan Arsen dan menaruhnya di perutnya yang sekarang sudah rata kembali "Aku senang anak anak kita lahir dengan selamat"