Hot Daddy

Hot Daddy
Bukan mantan



Malam harinya, Arsen dan Arini memilih untuk tidur di kamar yang sama. Mereka tidak melakukan hal yang macam macam selain tidur bersama, hanya saja hari ini Arini harus mengalami hari yang berat. Arini tidur dengan bersandar di dada Arsen. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Arsen yang sepertinya sangat kelelahan. Arini mengingat pertemuannya dengan Angel hari ini, ia sudah mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan ini. Sebenarnya ia sedikit tidak rela mendengar kenyataan itu, namun masa lalu tetaplah masa lalu.


(Flasback)


Sehabis Shoping dengan ketiga sahabatnya, Arini jadi teringat kalau dia harus mengembalikan dompet itu pada Angel. Arini mengambil kunci mobilnya dan segera pergi menuju ke alamat Angel yang sudah tertera di ktp nya. Perjalanan dari Mall menuju ke rumah Angel hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit. Arini mencari alamat Angel dengan bantuan Google Maps di handphone nya. Setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya tiba lah Arini di sebuah rumah yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.


"Bener gak sih ini rumahnya?" Gumam Arini. Lalu ia mengecek kembali alamatnya dan memang benar disitulah lokasinya. Akhirnya Arini turun dari mobilnya dan memutuskan untuk mencobanya terlebih dahulu. Dengan bermodalkan niat Arini mengetuk pintu beberapa kali lalu berbalik arah sambil menunggu pintunya terbuka. Lima menit kemudian pintunya pun terbuka. "Iya, maaf ini dengan siapa ya?" ucap seorang perempuan yang ternyata adalah Angel.


Arini langsung membalikkan tubuhnya dan kini wajahnya bertatapan langsung dengan Angel. Angel membulatkan matanya melihat siapa yang datang ke rumahnya. "Kamu?" ucapnya dengan sedikit menggantungkan perkataannya. Arini tersenyum kaku pada Angel. "Ayo silahkan masuk, maaf saya sedikit terkejut dengan kedatanganmu" ucap Angel pada Arini. "Tidak apa apa harusnya saya yang minta maaf karena datang tanpa memberi tahu anda terlebih dahulu" ucap Arini dengan bahasa yang formal. Seandainya saja niatnya hanya untuk mengembalikan dompet mungkin dia bisa bersikap tenang, tapi sekarang niatnya bertambah, ingin mengetahui apa hubungan Angel dengan Arsen di masa lalu. Meskipun ia sendiri bisa menebaknya tapi Arini hanya ingin mendengar dari mulut Angel langsung.


"Baiklah, ayo masuk" Angel membukakan pintunya dengan lebar dan mempersilahkan Arini untuk masuk ke dalam rumahnya. Untung saja hari ini Angel tidak sedang praktek di rumah sakit jadi Arini bisa menemuinya. "Silahkan duduk" ucap Angel saat mereka sudah tiba di ruang tamu. Arini mengangguk lalu mendudukkan boko** nya di salah satu sofa. "Kamu mau minum apa? Biar saya siapin" tanya Angel pada Arini. "Air putih saja" jawab Arini.


"Baiklah tunggu sebentar saya akan menyiapkannya untukmu" Angel meninggalkan Arini sendirian di ruang tamunya. Meski rumahnya tidak sebesar rumah Arsen arini merasa nyaman di tempat ini. Arini melirik ke semua ruangan, tidak ada yang spesial di rumah ini. Hanya ada beberapa foto Angel ketika remaja. Di foto foto itu terlihat Angel sedang memegang piala dan beberapa piagam di tangannya, itu artinya Angel adalah siswi berprestasi dulu disaat masih SMA. Tak lama kemudian Angel muncul dengan membawa segelas air putih untuk Arini. "Ini, silahkan diminum. Maaf saya tidak menyiapkan cemilan karena saya tidak tahu kalau kamu akan datang kesini"


"Oh dompetku, sungguh saya sudah mencarinya kemana mana tapi tidak ditemukan. Ternyata tertinggal di rumah kamu. Saya sangat berterima kasih karena kamu mau mengembalikannya pada saya" ucap Angel dengan wajahnya yang berseri seri karena menemukan kembali dompetnya yang hilang.


"Selain itu saya juga ingin bertanya sesuatu kepada anda" Ucap Arini langsung pada poin intinya. Ia sudah tidak bisa menahan dirinya terlalu lama lagi. Angel langsung mengenyitkan keningnya ketika melihat Arini yang tiba tiba berbicara serius dengannya. "Mau bertanya apa? Apa ini masalah kesehatan ayahmu?" tanyanya. "Tidak ini bukan masalah itu, hanya saja saya penasaran dengan foto yang ada disini. Siapa pria yang bersama anda ini?" Arini menunjukkan foto yang ia ambil dari dompet Angel. Bukan maksudnya untuk lancang tapi ini semua demi rasa penasarannya.


"Dari mana kamu mendapatkan foto itu?" heran Angel. Lalu ia mengecek foto yang ada di dompetnya sudah hilang. Berarti foto itu diambil dari dompetnya. "Itu tidak penting, sekarang saya hanya ingin mendengar jawaban anda. Siapa pria yang ada di foto ini dan ada hubungan apa anda dengan dia?" Angel menarik nafasnya yang dalam, ia tidak mengerti kenapa tiba tiba Arini menanyakan hal itu padanya. "Dia adalah Arsen, teman saya sewaktu Sma dulu. Dulu dia adalah teman satu satunya saya ketika di sekolah, namun semuanya berubah ketika dia sudah berperilaku nakal. Arsen sering bersikap tempramental bahkan kepada saya selaku sahabatnya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pindah sekolah karena tidak mau berurusan dengan Arsen lagi. Kenakalan Arsen sudah di luar batas wajar, dia sering menyiksa anak anak bahkan guru pun sering ia pukul"


"Jadi dulu Daddy sering begitu?" Gumam Arini yang juga didengar oleh Angel. "Daddy? Kamu kenal sama dia?" tanya Angel tepat sasaran. "Saya adalah putrinya dan orang yang anda obati kemarin adalah Daddy saya, Arsen" Mulut Angel terbuka dengan lebar, pantas saja ia merasa tidak asing dengan wajah itu. Ternyata dia adalah temannya di masa lalu. "Bisakah saya bertemu dengan dia lagi? Saya benar benar menyesal meninggalkannya di masa lalu?"


(Flasback Off)


Arsen membuka matanya dan melihat Arini yang sudah tertidur pulas di pelukannya. Ia semakin mengeratkan pelukannya, selama beberapa hari ini ia sibuk dengan urusannya sendiri sampai lupa kalau ia harus mengurus kekasih mungilnya ini. Arsen mencium kening Arini. "Good night"