Hot Daddy

Hot Daddy
Kemenangan



Arsen membeli beberapa bungkus bakso, dia tidak hanya membelikan untuk Arini saja melainkan juga untuk keluarga lainnya seperti Max, Nichole, Sunshine dan Bi Mina. Hari ini Arsen mendapat kabar bahagia, Klannya berhasil meringkus Klan Vercigo, pemimpin yang terkenal karena sombongnya itu kini sudah diamankan di dalam Markas milik Klannya sendiri. Sebelum pulang Arsen ingin pergi kesana dulu untuk mengecek sesuatu sekaligus menyapa tawanan barunya itu. Dia menarik sudut bibirnya ke sebelah kanan sehingga terlihat sebuah seringaian yang selama ini Arsen simpan untuk dirinya sendiri.


Setelah membayar pesanannya, Arsen langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan melebihi di atas rata rata. Bukannya terburu buru Arsen malah punya alasan lain. Dia tidak bisa datang kesana lebih lama lagi kalau tidak semua orang akan curiga padanya. Ini hanya tentang pemimpin Mafia dengan pemimpin Vercigo. "Aku ingin meremukkan tulangnya, sayang sekali tanganku sudah tidak boleh mengotori lagi" Gumamnya. Di depan sana Arsen berhenti sebentar karena lampu merah dan mungkin dia juga tidak sadar jika gelagatnya dilihat oleh seseorang di balik kaca fullface nya. Orang itu penasaran dengan Arsen yang tiba tiba tersenyum sepanjang waktu.


Lampu sudah berubah menjadi hijau, Arsen langsung menjalankan mobilnya kembali. Cuma bedanya sekarang sudah tidak mengebut seperti tadi lagi, tempat tujuannya sudah mulai dekat. Arsen menjalankan mobilnya dengan tenang tanpa menyadari ada sesuatu hal yang janggal di belakangnya. Beberapa menit kemudian Arsen sudah tiba di tempat yang ditujunya. Dia melepas sabuk pengamannya kemudian mengambil topeng yang sudah ia simpan di mobilnya dengan baikĀ  khawatir tiba tiba ada keperluan mendadak dia tidak perlu pulang ke rumah hanya untuk menjemput topeng.


Arsen memakai topengnya seperti semula lagi, kemudian dia melihat sebuah siluet di kaca spion mobilnya tapi Arsen tidak mempedulikannya. Mungkin itu hanyalah terpaan sebuah sinar matahari yang sedang memantulkan cahaya. Arsen mengambil ponselnya kemudian mengotak atiknya sebentar dan menempelkannya di telinganya. "Saya sudah sampai, tolong siapkan semuanya. Saya hanya ingin melihat dan tugas selanjutnya saya serahkan pada kalian" ucap Arsen dengan tegas, matanya terus menatap lurus ke depan. Seolah olah dia sedang memikirkan sesuatu.


Tak berapa lama kemudian, seluruh anak buah Arsen datang untuk menjemputnya. Mereka membentuk jalan dengan tubuh mereka sebagai hiasannya. Ini adalah kebiasaan mereka disaat memenangkan sebuah perang seperti yang mereka lakukan saat ini. Mereka sudah mengalahkan Klan Vercigo itu artinya mereka adalah hebat. Arsen langsung membuka pintu mobilnya dan seketika mereka langsung membungkuk dan menunduk secara hormat. Arsen mengangkat tangannya dan menyuruh mereka untuk bersikap biasa lagi. Arsen tidak gila hormat, meskipun kedudukannya jauh lebih tinggi daripada mereka.


"Baiklah, cepat bawa aku menemui psikopat itu. Aku tidak bisa lama lama disini" Willy mengangguk lalu dengan segenap hati dia membawa dan mengantarkan ke tempat Gaster dikurung. Gaster adalah nama pemimpin Klan Vercigo. Dia yang selama ini banyak menuai kelicikan dalam dunia hitam tapi sayang bakatnya hanya sekedar licik bukan pintar seperti Arsen. Suara langkah sepatu Arsen menggema dalam ruangan bawah itu. Seseorang yang tangannya diikat dengan rantai langsung menengadahkan kepalanya. Dia terkejut ketika melihat siapa orang yang berada di hadapannya tersebut.


"Apa kabar Gaster? Pemimpin Vercigo yang sangat lemah"


Ucap Arsen yang berhasil menyulut emosi dari gaster sendiri. Gaster mengepalkan tangannya tapi sayangnya dia tidak bisa berbuat apa apa karena tangannya diikat dan dirantai. Gaster paling benci kalau orang lain melihat dirinya dalam keadaan lemah seperti saat ini. "Jangan menatapku seperti itu, matamu sangat menjijikkan" ucapnya dengan jelas. Arsen hanya bersedekap dada sambil tersenyum. "Aku tidak mau lama lama disini, aku cuma mau bilang selamat menikmati ajal kematianmu Gaster, sebentar lagi nyawamu akan tercabut dari tubuhmu. Tapi tenang saja bukan aku yang melakukannya kok, kalau aku yang melakukan pasti lebih sadis. Sebentar lagi anak buahku datang untuk menjemputmu, bersiaplah manusia lemah"


Setelah mengatakan hal itu Arsen langsung pergi. Tidak menyadari apapun. Hanya pergi dan terus pergi.