Hot Daddy

Hot Daddy
terbungkam



Hari ini Arsen hanya sedang bersantai di hotel, semua pekerjaannya sudah dibereskan dari awal. Mungkin besok atau dua hari lagi dia bisa pulang. Arsen benar benar sangat merindukan Arini  dia mengambil ponselnya kemudian menekan tombolan panggilan.  Belum sempat berdering Arsen ternyata lebih tertarik dengan sesuatu yang muncul di aplikasi miliknya. Arsen membatalkan niatnya untuk menelfon Arini dan memilih untuk  mengecek hal itu. Pertama Arsen merasa biasa saja saat mendapat pesan dari nomor tak dikenal tapi saat nomor tak dikenal itu mengiriminya sebuah foto rasa penasaran Arsen langsung memuncak. Wajah Arsen memerah ketika melihat apa yang ada di foto itu, itu adalah foto dimana Max yang tengah tidur dengan tidak memakai sehelai benang apapun dengan seorang wanita yang mendekapnya. "Max tidak akan mungkin melakukan ini, aku tau siapa dia. Dia bukan laki laki ******* seperti ini. Tapi siapa yang melakukan ini?"


Sebuah pesan masuk kembali, Arsen langsung membacanya. "Arsen, kalau aku tidak bisa mengalahkanmu maka aku pasti bisa mengalahkan adikmu. Kau tahu Arsen, dia begitu lugu dibandingkan dengan dirimu. Sangat mudah untuk mengelabui dirinya." Arsen mengepalkan tangannya dengan kuat lalu langsung menelfon pemilik nomor itu, tapi saat ini orang itu sedang ada di perjalanan. Ririn yang saat ini sedang fokus menyetir mobilnya tersenyum dengan sinis. "Ini masih rencana awal Arsen, aku pasti akan membuat adikmu lebih menderita dari apa yang kurasakan dlu.


Tapi sepertinya Arsen juga tidak ingin kalah begitu saja, dia langsung menyuruh seseorang untuk melacak nomor itu. Dia tidak akan membiarkan Max salah paham dengan kekasihnya. Karena Arsen juga pernah merasakannya "Jangan pernah memulai permainan denganku jika kamu saja tidak bisa mengkhawatirkan diri kamu sendiri" Arsen langsung mematikan ponselnya dan meletakkan nya kembali. Sekarang ia hanya perlu mencari tau siapa pemilik nomor itu.


Sedangkan di mall Shila dan yang lainnya masih saja meladeni genita. Mereka tidak bosen bosennya mengerjai Genita dengan segala tipu daya mereka. "Jadi begitu ceritanya, pokoknya aku beneran j***k sama  dia" ucap Gabriel sambil berekspresi seolah olah dia benar benar j***k dengan apa yang dikatakannya. Shila melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua belas. Shila memberikan kode pada teman temannya untuk mengakhiri drama ini. Tanpa aba aba lagi Via langsung menggebrak meja itu dengan kuat. "Oke Fix kita langsung aja buka siapa sebenarnya kita" Genita terlihat kebingungan lalu tiba tiba matanya melotot ketika melihat Shila yang juga melepas penyamarannya.  "Hai Genita" sapa Shila dengan setengah meledeknya.


"Apa kabar Genita?" tanya Shila sambil membuka penyamarannya di hadapan Genita secara langsung. Padahal dia masih ingin bermain main "Kamu? kenapa kamu bisa disini dan mengapa....." Shila langsung menutup mulut Genita dengan jari telunjuknya. "Ssstt diam dulu" Wajah Genita sangat pias lalu dia menoleh ke arah teman teman Shila dan ternyata benar lagi  itu adalah teman teman Shila. "Dasar wanita dugong mau aja dikerjain" ucap Gabriel sambil berdekap dada dengan angkuhnya. "Kasihan ya? Dia gampang banget diperdaya? Dibohongin gitu aja  lo langsung percaya. Kalau gue jadi lo sih gue mah cari tau dulu biar gak punya kenalan lagi disitu.


"Apa mau kalian? gak di kampus gak di luar kalian selau melakukan hal ini pada gue. Emang salah gue apaan?" Via menyenggol tangan Arini dan menyuruhnya untuk maju dan memberikan penjelasan yang panjang Dengan beberapa langkah Arini sudah berada di hadapan Genita. Genita sama sekali tidak merubah ekspresinya, dia sangat marah atas kejadian ini bisa bisanya dia bodoh dan tergila gila dengan sosok yang ia sebut pria tampan. Via terkikik geli ketika melihat wajah Genita yang sudah kepanasan, karena sekujur wajahnya merah karena menahan amarah yang luar biasa.


Lalu sebuah tamparan melayang pada pipi mulus itu sehingga wajah Genita tertampar ke arah kanan. Genita langsung memegang pipinya dan menatap wajah Arini dengan tatapan tidak percaya. "Maksud lo apa nampar gue hah? Lo ada dendam sama gue?" Arini tersenyum sinis kemudian dia memegang dagu Genita dan mengangkat kepalanya. "Harusnya gue yang nanya, maksud lo nyebarin   fitnah tentang gue apa? Lo bilang kalau gue ngegoda Daddy sendiri? Punya motif apa lo?"


Seketika Genita langsung terkekeh dan kembali melihat ke arah Arini. "Kenapa? Bukannya itu emang kenyataannya? Lo ngegoda Daddy lo sendiri sampai dia terpikat sama tubuh lo kemudian melakukan hubungan terlarang da...." Plakkkkk satu tamparan lagi berhasil mengenai pipi kiri Genita. "Gue gak akan segan segan buat melukai lo kalau sampe lo ngelakuin hal ini untuk kedua kalinya, dan ingat apa yang lo pikirin tentang gue itu salah besar harusnya lo pikirin diri lo sendiri yang sudah melempar tubuh lo ke om om di club"


Via mengambil ponselnya kemudian menunjukan sesuatu yang berhasil membuat Genita bungkam. "Ingat, aib lo ada di tangan gue'


"Cabut guys" lanjutnya.