Hot Daddy

Hot Daddy
Arsen sakit



Di pagi hari, semua orang sudah terbangun dari tidurnya. Mereka tidur dengan nyenyak malam ini. Bi Mina yang pertama bangun langsung mengambil alat alat kebersihan untuk membersihkan seluruh rumah. Bi Mina melewati ruang tengah dan menemukan Arsen yang tergeletak di lantai. "Ya ampun, tuan bangun tuan. Kenapa tuan tidur disini?" tanya Bi mina sambil membangunkan Arsen. Pada saat itu secara kebetulan Max, Via dan Arini juga keluar dari kamar mereka. Arini merasa kebingungan ketika melihat bi Mina seperti itu. "Ada apa ini bi?" tanya Arini sambil berjalan mendekat. Matanya tertuju pada satu tubuh yang tergeletak di lantai. Arini ingin sekali menyentuh badan suaminya tapi sayangnya kehamilannya tidak memungkinkan untuk berjongkok ataupun menunduk. "Sepertinya tuan Arsen demam non, badannya sangat panas sekali" ucap Bi Mina ketika mengecek suhu tubuh Arsen


Arini tampak sangat khawatir lalu dia meminta tolong Max untuk memindahkan Arsen ke dalam kamar. Ini semua adalah salahnya, seandainya Arini tidak menyuruh Arsen tidur di luar mungkin Arsen tidak akan sakit. Via menoleh pada Arini lalu merangkulnya dan mengusap bahu Arini. "Jangan khawatir, Kak Arsen dia pasti akan baik baik saja. Harusnya sih bukan suami lo yang demam tapi mas Max. Lo tahu gak semalam gue habis nyiram wajah mas Max dengan air dingin?" ucap Via ketika mengingat kejadian semalam. "Iya  uncle Max yang disiram dan suami gue yang sakit. Ya udah tolong bawa mas Arsen ke kamar dulu. Bi, minta tolong siapkan air hangat dan kompresan ya" ucap Arini pada Bi Mina. "Siap Non" Max langsung membopong tubuh Arsen dengan terhuyung huyung , karena tidak punya pilihan lain akhirnya Via ikut membantunya.


Arini juga mengikuti mereka dari belakang, dia membantu Max dan Via untuk membuka pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka Max langsung membaringkan Arsen di atas kasur. Rasanya baru semalam dia saling ejek dengan Arsen dan sekarang Arsen malah jatuh sakit. "Dikompres dulu Rin, sepertinya semalam dia benar benar kedinginan" Arini mengangguk lalu Bi Mina datang dengan membawa baskom yang berisi air hangat dan juga handuk kecil yang bisa digunakan untuk mengompres. "Mas hari ini gak ke kantor?" tanya Via pada suaminya. Max menoleh pada Via kemudian menarik pinggangnya dan mengecup pipinya "Tidak, semua pekerjaan sudah diselesaikan itu juga dibantu oleh Arsen" jawab Max. Sedangkan Arini dia masih fokus dengan Arsen. Arini memeras handuknya kemudian menempelkan handuk itu pada kening Arsen. "Yaudah aku mau bantuin Bi Mina buat sarapan dulu, kamu disini aja dulu Mas. Bantuin Arini mengurus kak Arsen"


"Iya" setelah itu Via pergi meninggalkan Max dan Arini disana. Dia akan pergi ke dapur untuk membuat sarapan bersama Bi Mina. Max mengambil alih sekarang dia duduk di sofa yang ada di kamar itu. "Apa yang Mas Arsen lakukan semalam?" tanya Arini dengan tidak menolehkan kepalanya sedikit pun. Max menyandarkan tubuhnya dan membuat dirinya  nyaman dahulu sebelum menjawab pertanyaan Arini. "Dia menghabiskan satu bungkus dalam semalam. Kelihatannya semalam dia juga mengetuk pintu kamarmu tapi sepertinya kamu sudah tidur" Arini mengangkat tangannya dan membelai wajah Arsen dengan penuh kasih sayang. "Sebenarnya foto foto itu juga bukan salahnya karena aku yang melakukannya itu. Aku hanya berniat iseng padanya dan malah sekarang aku juga kena imbasnya"


Arsen mengambil tangan Arini kemudian mengecupnya lama. "Aku minta maaf soal kemarin, itu adalah ulah Max. Awalnya aku hanya minta di downloadkan lagu Black pink tapi Max yang aneh itu malah memberinya foto foto seperti itu" Max memutar bola matanya dengan malas, untung saja tadi dia tidak menjatuhkan Arsen di tangga. "Mas suka lagu black pink?" tanya Arini sambil menahan tawa. "Yah begitu lah" jawab Arsen dengan singkat, padat, dan jelas"


"MAS CEPAT TURUN KE BAWAH UNTUK SARAPAN, JANGAN LUPA AJAK ARINI DAN SEKALIAN SAJA KAK ARSEN JIKA DIA BANGUN"


Arsen tertawa geli mendengar suara teriakan Via yang super menggelegar itu. "Lumayan juga suara istrimu Max" Arini mencubit perut yang langsung ditahan oleh tangan Arsen. "Suara istriku benar benar hebat" gumam Max.