Hot Daddy

Hot Daddy
Video Call



Hari ini di rumah Arsen suasananya sangat sepi, Arsen dan Max sedang ada urusan pekerjaan di luar kota. Kebetulan sekali perusahaan mereka sedang bekerja sama sehingga keduanya harus pergi ke luar kota secara bersamaan. Sebelum pergi, Arsen berpesan kepada Arini agar tidak melakukan hal yang membahayakan bagi kandungannya. Arsen juga menitipkan Arini kepada Mila dan Garda. Saat ini Arini sedang berada di kamar Via, mereka terus bercerita sepanjang hari. Arini merebahkan dirinya di samping boneka kesayangan Via, boneka itu Via dapatkan dari Max ketika dia ulang tahun. "Vi, lo bakal nyangka gak sih kalau kita jadi saudara ipar seperti ini?" Via yang sedang menonton kartun langsung menoleh ke arah Arini. "Entahlah semua itu di luar dugaan gue, tentang pertama kali gue ketemu Mas Max, gue juga pernah menyukai suami lo, atau bahkan kita pernah menyukai satu pria yang sama"


"Tapi gue beryukur setidaknya sekarang kita bisa tinggal satu atap. Gue senang banget ketika tahu Uncle Max sangat menyukaimu" jawab Arini lagi. Via mematikan laptopnya kemudian dia ikut berbaring di samping Arini. Via menatap langit langit kamarnya dia membayangkan masa lalu yang membawanya pada dirinya di masa sekarang. "By the way kok gue keingat sama kak Rendi ya? Cowok yang dulu suka sama kamu di kampus" Seketika Arini langsung terdiam, dia tidak mengatakan apa apa. Arini sudah tahu kenyataan yang sebenarnya tapi dia hanya diam saja. "Yang gue heran sampe sekarang anak anak kampus gak ada yang pernah lihat dia lagi? Apa mungkin dia udah berhenti kuliah?" Via terus bergumam hal seperti itu kepada dirinya sendiri.


"Mungkin aja sih" jawab Arini dengan suara kecilnya. Tak lama kemudian ponsel mereka berbunyi secara bersamaan. Dengan inisiatif mereka langsung menekan tombol hijau. "Gimana keadaan kalian?" tanya Max, wajahnya terpampang dengan jelas di layar handphone Via dan Arini. Tentu saja mereka menggabungkan Video call mereka. "Kita baik baik aja Mas" jawab Via dengan tenang. Arini juga ikut mengangguk. "Kalian udah makan?" kali ini Arsen yang melempar pertanyaan pada dua wanita hamil itu. "Kami disini sudah semua Mas, makan udah, mandi udah. Yang belum itu  kapan kalian pulang?" tanya Arini dengan wajah cemberutnya. Meskipun baru ditinggal satu hari saja tapi mereka sudah menunggu para suaminya pulang. Padahal Arsen dan Max di luar kota hanya lima hari saja. Dan ini baru hari kedua. "Sabar sayang, tiga hari lagi kita pulang kok. Kamu disana jangan nakal, makan teratur terus susu kehamilannya jangan lupa diminum. Pokoknya kamu harus bisa seperti Via. Dia selalu nurut dengan Max. Kamu juga harus gitu."


Wajah Arini yang cemberut semakin cemberut ketika Arsen mengatakan hal itu. Max tertawa pelan ketika melihat wajah Arini yang seperti karakter di kartun kesukaannya. "Aku tuh selalu  nurut sama Mas, kalau gak percaya tanya aja tuh sama Via. Kemarin aku tidurnya gak kemaleman, terus makannya gak telat, susu hamilnya selalu di minum dan yang penting gak banyak bergerak seperti yang Mas perintahkan padaku" Via menatap Arini dengan aneh karena perkataannya tidak sesuai dengan faktanya. Kemarin saja Arini tidak mau makan. Ketika Via akan berbicara Arini langsung menutup mulut Via dengan tangannya dan memberinya kode untuk diam. "Sssttt jangan ember dulu. Janji kok gak bakal gitu lagi" ucap Arini dengan nada memohon pada Via. Via menghela nafasnya lalu mengangguk begitu saja sehingga membuat Arini tersenyum.


"Bagus kalau gitu, Via aku titip Arini sama kamu ya. Kalau dia nakal kamu bisa laporin ke aku. Aku dan Max gak bisa lama lama habis ini kita mau bekerja lagi" ucap Arsen pada Via. "Iya kak, nanti kalau ada apa apa pasti aku bilang sama kakak" setelah itu Arsen menyuruh Max untuk berbicara. "Kamu jaga diri baik baik, nanti malam kalau ada waktu aku telfon lagi. I love you" hanya itu saja yang Max katakan pada Via hari ini tapi Via sudah begitu senang. "I love you too Mas" jawab Via. Setelah panggilannya diputuskan Via dan Arini langsung berbaring kembali. Via dan Arini juga sudah lupa kalau baru saja mereka berbicara tentang Rendi.


.


.


Arsen langsung memberikan kode pada Max agar menjawab. "Maaf sebelumnya tapi alangkah lebih baiknya kita segera membahas kerja sama ini." meski tampak kecewa Mr Mickey mengangguk saja berbeda dengan Arsen yang tersenyum tipis. "Baiklah kita mulai sekarang" ucap Arsen dengan penuh wibawa.