
Selama seminggu Arini berada di rumah sakit dia juga dibantu oleh Via untuk mengurus ketiga anak kembarnya. Arsen masih perlu banyak belajar dia masih takut untuk menggantikan kain bedong untuk ketiga bayinya. Via menggantian kain untuk Aiden dengan berhati hati. Sebelumnya dia sudah diajari oleh Suster untuk tetap berhati hati. Sedangkan Arini dia masih menyusui Alea. "Nah udah selesai deh" ucap Via ketika selesai menggantikan kain untuk Aiden. Arini menoleh pada Via kemudian tersenyum setelah melihat tampilan baru Aiden. "Lo gendong aja dulu Vi bentar habis itu mau gue susui soalnya. Kalau Rei dia udah kenyang" ucap Arini pada Via. Via mengangguk kemudian menggendong Aiden dengan hati hati. "Lo pake resep apaan sih Rin buat anaknya sampe sampe dapat anak kembar mana mukanya good looking semua" ucap Via sambil memandangi wajah si kembar.
"Ya mana gue tahu. Lo pikir buat anak itu perlu direncanakan. Coba lo tanya sama Uncle Max aja. Dia pasti tahu segalanya" jawab Arini sambil menahan tawa. Via hanya mendelik sambil menggendong Aiden. Aiden terlihat anteng dalam dekapannya. Matanya terus memandang ke langit langit rumah sakit. Arini melepaskan dadanya dari mulut Alea, dia sudah cukup untuk menyusui Alea sekarang gantian Aiden. "Tolong bawa Aiden kesini Vi, Alea udah selesai" Via langsung memberikan Aiden pada Arini dan bergantian dia menggendong Alea. "Eh Alea tersenyum, emang bayi bisa tersenyum ya? Gue kira cuma bisa nangis doang" ucap Via ketika melihat Alea tersenyum padanya. "Kalau bayi nya kek lo sih ya bisanya emang cuma nangis doang Vi" jawab Arini yang membuat Via kesal. "Alea jangan kayak Mommy ya, Mommy kamu nyebelin soalnya" ucap Via sambil terkikik geli.
Kemudian pintu ruangan Arini terbuka dengan lebar. Arsen bersama dengan Max masuk ke dalam. Mereka baru saja pulang dari kantor. Ketika melihat Arini yang sedang menyusui Arsen menyuruh Max untuk menunduk dan duduk di sofa untuk sementara. Dia tidak ingin Max melihat Arini dalam keadaan seperti itu. "Jangan mengangkat kepala sebelum aku menyuruhmu" ucap Arsen pada Max. "Terus sampe kapan aku harus kayak gini?" tanya Max pada Arsen. Arsen tidak menjawab dan memilih untuk menghampiri Arini. "Masih lama?" tanyanya kemudian. "Aiden baru saja menyusu Mas, biasanya sebentar kok" jawab Arini. Arsen menoleh pada Max. "Kamu dengar kan? Tunggu aja sebentar lagi" Via tertawa melihat nasib suaminya lalu dia menghampiri Max dan duduk di sampingnya. "Liat deh Mas, Alea masih bayi udah cantik kek gini. Aku jadi pengen anak perempuan" ucap Via.
"Tapi kalo nanti pas lahiran keluarnya cowok gimana? Kamu akan menerimanya kan?" tanya Max sambil menatap Via dengan tatapan menyelidik. "Ya iyalah Mas masa aku gak nerima anak aku sendiri. Lagian aku juga gak terlalu peduli mau cowok atau pun cewek yang penting bayi ku sehat sehat aja" Max mengangguk kemudian dia memandangi wajah Alea. Tanpa sengaja Max mengangkat kepalanya dan melihat Arini. Arsen langsung menimpuknya dengan tas kantornya. "Jangan angkat kepalamu Max" Max menghela nafasnya dengan kesal. Lagian dia tadi tidak melihat apa apa selain tubuh Arsen yang menghadangi Arini. "Nih coba kamu gendong Alea saja Mas" ucap Via pada Max. "Aku tidak tahu cara menggendong bayi' jawab Max dengan jujur.
"Iya makanya belajar dari sekarang biar nanti kalau aku udah lahiran kamu sudah terbiasa menggendong bayi kita" Via memposisikan tangan Max dengan benar kemudian dia menyerahkan Alea pada Max. Max benar benar gugup saat pertama kali menggendong Alea. Yang dia khawatirkan adalah dia takut melukai bayi mungil itu. "Nah bisa kan" Max mengangguk sambil tersenyum. "Ternyata bayi itu sangat lucu ya, nanti kalau kamu udah lahiran kita nambah dua lagi biar sama kayak Arsen dan Arini" Arsen langsung menoleh pada Max sambil memutar kursinya dan kebetulan Arini juga sudah selesai menyusui. "Kualitas Juniormu tidak sebagus milikku Max. Yang sekali semprot langsung keluar tiga bayi" jawab Arsen. "Sekali semprot sih iya? Tapi melakukannya berkali kali kamu Mas." tambah Arini lagi.
Max hanya tertawa masam kemudian mengangkat kepalanya.
"Mau dibuktikan? Aku bisa membuktikannya sekarang" Arsen menantang Max yang membuat Max semakin tertantang. "Kamu pikir aku takut? Aku juga berani membuktikannya sekarang juga. Tapi jangan salahkan aku jika nanti Arini terpesona dengan milikku yang gagah"
"Kamu Gila"
"Kamu lebih dari Gila Arsen"
"Udah udah stop, kalian apa apaan sih. Bahas hal kek gitu di depan anak anak.mendingan kalian keluar dulu? Biarkan Mama sama papa yang masuk sekarang" ucap Via pada Arsen dan Max. "Yaudah kita keluar dulu" Arsen langsung menarik dasi Max sehingga Max merasa tercekik dan terpaksa mengikuti Arsen. "Suami lo emang gila" ucap Via pada Arini. "Memang" jawab Arini kemudian.