Hot Daddy

Hot Daddy
Jangan dibaca



Arsen menyuapi Arini makan dengan tangannya langsung. Dia memaksa Arini untuk makan karena dari tadi Arini hanya melamun dan terus melamun. Sebagai seorang ayah sekaligus suami Arsen mengerti dengan sikap Arini. Dia pasti  takut anak anaknya kenapa napa. Arsen pernah dengar kalau Firasat seorang ibu itu tidak pernah salah. Tapi kali ini Arsen berharap semoga Firasat Arini benar benar tidak terjadi. "Maaf ya Mas gara gara aku Mas sampai meninggalkan kantor" ucap Arini sambil memandang wajah Arsen.  "Kantor tidak lebih penting daripada kamu dan anak anak. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri" Arsen terus menyuapkan makanan ke dalam mulut Arini hingga akhirnya Arsen mendapatkan satu pesan lagi. Kali ini dia mendapatkannya dari nomor tidak dikenal. Arsen hanya meliriknya sebentar dia berpikir kalau itu hanya lah nomor iseng. Tapi setelah beberapa kali berbunyi membuat Arsen jadi penasaran. "Aku buka ponsel dulu sebentar, kamu lanjut makan dulu ya" ucap Arsen sambil mengelus puncak kepala Arini dan menciumnya dengan lembut.


Arsen agak sedikit menjauh dari Arini kemudian membuka ponselnya. Arsen mendapatkan banyak sekali pesan yang berupa foto foto. Arsen mengeceknya satu persatu. Tangannya mengepal dengan kuat ketika melihat foto foto itu. Dia seharusnya tidak boleh membiarkan ini terjadi. Arsen sudah terlalu marah dia tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Dia benar benar akan menghadapi orang itu sendirian. Tanpa harus menggunakan anak buah dalam dunia gelapnya dulu. "Mas" panggil Arini. Arsen menenangkan dirinya dulu sebelum menoleh pada Arini dan tersenyum kembali. "Ada apa?" tanya Arini lagi. Arini merasa ada yang mencurigakan dari Arsen tapi dia sendiri pun tidak tahu. Dalam hal apa dia harus curiga pada Arsen.


"Hanya ada sedikit masalah di kantor" ucap Arsen kemudian dia kembali duduk di sofa. Arini sudah menghabiskan makanannya. Saat ini mereka duduk saling berhadapan. Hingga entah siapa yang memulai tiba tiba saja bibir mereka sudah saling menempel. Arini membelai rahang kokoh Arsen dengan tangannya yang lembut. Membuat kemarahan Arsen yang berapi api tadi langsung hilang dan berganti dengan gairahnya pada Arini. Untung saja si kembar sudah dia titipkan pada Max dan Via. Jadi mereka tidak perlu sungkan untuk melakukan hal itu. Arsen mengangkat boko** Arini dan mendudukkannya di pahanya.   Kemudian Arsen langsung menggendong Arini dalam keadaan paha Arini yang melingkar di pinggang bawahnya. Hingga keberadaannya pas di bagian junior Arsen. Arsen menuju ke lift  dia tidak mau berlama lama dengan menaiki tangga. Di dalam lift pun Arsen masih sempat menggerayangi leher Arini. Dia memberikan beberapa kecupan hingga membuat sedikit warna merah di leher Arini. "Sshhhhh Mas" ucap Arini ketika Arsen menggigit kecil lehernya dan menjilatnya dengan sensual.


Ting


Arini meremas selimut kasur dengan kuat, dia tidak bisa menahan gelombang kenikmatan yang diberikan Arsen. Mereka sudah jarang melakukan hal ini lagi tapi sekalinya melakukan nikmatnya luar biasa. "Lanjut Mas" ucap Arini sambil mendesah. Arsen mengerti dengan apa yang dimaksud Arini.


Dengan segera dia melucuti celana pendek Arini sehingga kini tubuh Arini tidak tertutupi oleh apapun. Arsen juga melakukan hal yang sama pada dirinya. Dia sekarang sudah dalam keadaan tidak berpakaian dengan junior yang mengacung dengan tegak, siap tempur ke dalam lubang kenikmatan. Arsen menggesekkan juniornya pada milik Arini. Dia memandang Arini sebelum Arsen benar benar memasukinya. Arini menganggu tanda bahwa dia sudah siap. Dengan segera Arsen langsung menekan pinggulnya sehingga kini tubuh mereka sudah bersatu. Arsen memompanya dengan kuat sehingga gunung kembar Arini bergoncang dengan hebat. "Emmmhhh sshhhhhhh" Arini menggigit bibirnya sendiri sambil melihat wajah Arsen dengan sayu. Arsen semakin bersemangat menggerakkan dirinya ketika melihat Arini yang menggodanya dengan dadanya. "Nikmatilah waktu dua jam kita hari ini, hilangkan pikiran negatifmu" ucap Arsen sambil terus memasuki Arini.