
Setelah mendapat informasi kalau Arini baik baik saja, Arsen langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Arini bahkan ia juga tidak menatap Angel sedikit pun. Angel hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah, kesalahan terbesarnya dulu adalah meninggalkan Arsen disaat Arsen benar benar membutuhkannya. Jika kalian berpikir Arsen mencintai Angel, maka hapus saja pemikiran itu. Arsen sama sekali tidak mencintai Angel, dia hanya dendam saja karena dulu Arsen tidak punya siapa siapa lagi selain Angel dan pak Robert. Sedangkan dulu, ia masih belum dekat dengan kedua orang tuanya.
Arsen berjalan menghampiri Arini yang masih belum sadarkan diri, seharusnya Arsen yang berada di posisi itu. Tapi sayangnya Arini menyelamatkan nyawanya. Arsen merasa dirinya menjadi orang yang paling brengsek. "Maafkan Daddy sayang, gara gara masalah Daddy kamu yang terkena imbasnya" Tangannya mengelus kening Arini. Tiba tiba ponselnya berdering dengan nyaringnya, Arsen sedikit menjauh dari Arini lalu mengangkat telfonnya. "Ya?" ucapnya dengan datar. Kali ini bukan sosok Arsen yang terlihat di wajahnya, tapi Aerio.
"Maaf Tuan, sepertinya kita kalah cepat. Klan Vercigo sudah mengetahui rencana kita untuk menyerang mereka. Dan sekarang mereka berpindah posisi. Kami sudah berusaha melacaknya tapi tidak dapat menemukan satu petunjuk pun" ucap suara dari sebrang sana. Arsen mengeraskan rahangnya dengan erat, tidak tahu saja dia bahwa Arini sudah mulai membuka matanya ketika dia menerima telfon. "Kumpulkan semua anak buah di ruang bawah tanah dan siapkan senjata kesayangan saya. Sebentar lagi saya akan kesana" Arsen langsung menutup telfonnya dalam suasana hati yang sedang marah.
Saat Arsen berbalik Arini menutup matanya kembali, meskipun ia sedikit bingung dengan siapa Daddy nya menelfon karena tampak Arsen sangat marah sekali. "Sayang, kamu istirahat ya, Daddy ada pekerjaan kantor sebentar" Arsen mengecup kening Arini dengan cepat lalu bergegas meninggalkan kamar inap itu. Setelah dirasa Arsen sudah pergi Arini mulai membuka matanya, matanya melirik ke arah pintu dimana Arsen baru saja keluar tadi. "Siapa yang menelfon Daddy? Dan kenapa dia harus marah marah seperti itu?" batinnya. Arini benar benar penasaran, ia sebenarnya ingin mengikuti Arsen tapi tubuhnya masih lemah, Arini tidak bisa kemana mana.
.
Arsen menempatkan mobilnya di tempat yang aman, ia mengambil topeng yang biasa ia pakai dan memakainya seperti biasa. Setelah selesai Arsen langsung turun dari mobilnya. Arsen menoleh kesana kemari untuk memastikan bahwa tempatnya aman baru setelah itu ia mulai menekan beberapa tombol rahasia sehingga pintu di depannya terbuka. "Mata mata" Gumam Arsen yang sekarang berubah lagi menjadi Aerio. Suara grasak grusuk berbunyi dengan keras saat Arsen datang, mereka semua langsung membentuk barisan dengan rapi karena Arsen akan mendatangi mereka. Tubuh mereka terus bergetar ketakutan karena takut akan kemarahan Arsen.
Dengan mengumpulkan keberanian mereka mengangkat kepalanya dan menatap wajah Arsen atau lebih tepatnya topeng. Karena Arsen memang tidak pernah membuka topengnya sama sekali. "Jelaskan semuanya secara jelas, jangan ada yang dipotong" ucap Arsen. Salah satu dari mereka mulai menjelaskan semuanya, tentang Vercigo yang sudah melarikan diri dan berpindah posisi. Vercigo memang bukan kelompok yang kuat tapi tetap saja keberadaannya sangat mengancam bagi para mafia lain. "Sekarang saya tanya, kenapa mereka bisa tahu kalau kita akan menyerangnya?"
Mereka saling menatap satu sama lain, dengan artian mereka juga tidak tahu alasan yang menyebab Vercigo mengetahui rencana mereka. "Buka semua kaos kalian!" perintah Arsen dengan tegas. Kali ini kemarahannya sudah tidak dapat ia tahan lagi, tangannya yang memegang pistol tidak sabar untuk membunuh lawannya tersebut. Arsen tidak bodoh, sejak awal anak buahnya menelfon ia sudah tahu kalau ada mata mata diantara mereka. Dan mata mata itu sekarang sedang bersama mereka, menyembunyikan diri dengan identitas barunya. "Saya hitung sampai tiga, jika kalian masih tidak membuka baju kalian maka peluru pistol ini akan melubangi kepala kalian"
Mereka semua bergidik ngeri, tanpa pikir panjang lagi mereka langsung membuka bajunya tanpa terkecuali, tidak ada yang tersisa. Kini semuanya sudah bertelanjang dada. Arsen segera berdiri dan berjalan mereka. Ia berjalan mengelilingi mereka dengan mata elangnya yang tajam itu. Tidak sedikit pun anak buahnya yang ia lewati, semuanya benar benar ia cek. Sampai akhirnya Arsen tersenyum smirk ketika melihat seseorang yang dicarinya. "Mangsa mencoba mencari mangsa" batinnya. Tangannya mengepal dengan kuat dan tanpa menunggu lebih lama lagi Arsen lagsung menyeret orang itu dan melemparnya ke lantai hingga orang itu tepat berada di bawahnya dan mencium kakinya.
"Saya tahu kalian bodoh tapi saya tidak tahu jika kalian sebodoh ini dan tidak mengenali musuh kalian sendiri. Lihatlah orang ini, dia adalah mata mata dari Klan Vercigo dan kalian masih tidak menyadarinya"
"Sekarang, bawa orang ini ke ruang mayat" perintahnya dengan tegas. Mereka semua mengangguk lalu menyeret orang yang menjadi mata mata dengan kejamnya. Mereka mengikat tangan dan kakinya kemudian menarik kepalanya untuk diseret ke ruang mayat. "Vercigo sampah" gumam Arsen.