Hot Daddy

Hot Daddy
Gara gara diskon



Setelah sudah sampai di rumah, Arsen kembali menggendong Arini dan membawanya ke kamar. Dia tidak akan membiarkan arini melakukan hal kecil lagi karena sekarang semuanya akan diatur olehnya. Arini sudah sangat mengantuk, padahal hari masih siang tapi tumben saja dia ngantuk di siang hari .Karena biasanya Arini juga tidak pernah tidur malam. "Kamu tidur dulu sepertinya kamu sangat mengantuk, untuk baksonya biar aku yang akan membawakannya nanti" ucap Arsen setelah merebahkan Arini di atas kasur. Arini hanya menganggukkan kepalanya saja kemudian dia memejamkan mata secara perlahan. Setelah yakin kalau Arini tertidur, Arsen kembali mengeluarkan kunci mobilnya. Hanya demi sebuah bakso dia rela pergi ke luar lagi hanya untuk memenuhi keinginan istrinya yang menginginkan sebuah bakso.


Arini sebenarnya tidak mengantuk, dia hanya lemas saja, tenaganya sudah terkuras entah dari mana itu. Rasa kantuk tidak akan menang jika melawannya sekarang. Karena sebentar lagi negara api mulai menyerang, apalagi kalau bukan Virus covid 19. Dengan berhati hati Arini mengambil remote tv di balik bantal kemudian menyalakan televisinya, dia mencari penayangan berita terbaru.


Arini sangat bosan mendengar berita yang tiap harinya menjelaskan tentang Covid. "Seperti tidak ada berita yang lebih menarik saja, sudah tahu banyak yang dirawat disana dab membuat mereka jadi berkumpul. Seharusnya mereka  sadar dari awal kalau mereka juga bisa menjadi penyebab Virus semakin banyak" Arini menggelengkan kepalanya kemudian mengganti channel Tv nya. Meskipun begitu tetap saja dia masih mengantuk, matanya sedikit tertutup tapi suara klakson mobil menyadarkannya kembali. Seketika fikiran di otaknya langsung tercerna semua. Arini turun dari ranjang kemudian mengintip dari sana. "Siapa dia? Kenapa Nichole bisa membawa dia? Apa jangan jangan itu selingkuhan dia"


Yah yang Arini lihat adalah seorang Nichole pulang dengan membawa perempuan lain, "berani berani nya dia membawa perempuan lain ke dalam rumah ini, kalau Arsen sampai tahu habislah dia. Arini baru saja akan turun dari kamar tapi tiba tiba perutnya terasa melilit, Arini merasa kesakitan  kemudian duduk di atas kasur sambil menarik nafas yang dalam. Beberapa menit kemudian rasa sakit itu mulai mereda, Arini tidak akan keluar kamar dulu. Dia harus mengistirahatkan tubuhnya. "Aehhh sakit sekali, dedek bayi jangan nakal nakal ya di dalam nanti pasti keluar kok"


.


.


"Total belanjaanmu berapa yang?" tanya Nichole kemudian sambil duduk di sebelahnya. Sunshine menoleh kemudian mengambil lembaran kertas ysng bertuliskan total belanjaan Sunshine. "Gak banyak kok, cuma habis delapan juta saja. Tapi biasanya lebih dari ini kok" Nichole hanya menatap miris dengan keadaan kartunya, setiap minggunya digesekkan hanya untuk memuaskan nafsu belanja dari kekasihnya itu. Tapi meskipun begitu Nichole ikhlas, karena mau bagaimana pun uang nya tidak akan habis hanya karena delapan juta saja. Nichole berasal dari kalangan keluarga yang sangat kaya raya, dia merupakan putra mahkota dari keluarga AlVA yang terkenal paling kaya nomor 5 se indonesia.


"Kenapa? Kamu gak ikhlas belanjain aku gini? Bentar ya aku gantiin uangmu dulu. Aku transfer semuanya"


Saat Sunshine akan mengembalikan uangnya, Nichole malah mencegahnya. "Jangan dikembalikan, aku ikhlas kok. Lagian sebentar lagi kamu juga bakal jadi istri aku, jadi sebentar lagi kartu ini juga akan menjadi milikmu juga kan" Nichole benar benar mengatakannya dengan tulus, di tidak masalah jika kartunya dipakai oleh Sunshine. "Serius nih?" tanya Sunshine kurang yakin. "Iya sayang, apa sih yang enggak buat kamu" jawab Nichole yang berhasil membuat Sunshine tersipu malu.