
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya tibalah pesawat yang mereka tumpangi di bandara soekarno hatta indonesia. Mereka kembali merasakan udara hangat indonesia, tidak seperti jepang yang masih mengalami musim dingin. Max mengurus semuanya, dia mengambil koper dan mencari taksi untuk mereka pulang. "Masih dingin?" tanya Arsen pada arini ketika turun dari pesawat. Karena selama berada di atas pesawat arini banyak mengeluh kedinginan. Sepertinya tubuhnya mulai mengalami sensitif dengan hal yang dingin dingin. Arini menggelengkan kepala, dia merasa baik baik saja saat ini. Tubuhnya juga lumayan menghangat setelah turun dari pesawat itu.
"Aku baik baik saja, lebih baik kamu bantuin uncle Max saja Mas. Aku baik baik aja kok" ucap Arini. Sekarang arini membiasakan dirinya untuk memanggil Arsen dengan sebutan Mas juga. Itu juga karena Arsen yang menyuruhnya. Arsen tidak nyaman ia dipanggil Daddy sementara statusnya sekarang adalah suaminya Arini bukan ayahnya lagi. "Dia tidak perlu dibantu, lihatlah disana" Arsen menunjuk ke arah yang berbeda. Arini langsung mengikuti arah Arsen dan melihat ada beberapa wanita yang membantu Max menyeret beberapa koper, sedangkan Max santai saja sambil memegang ponselnya.
"Baik dibawa sampai sini saja, terima kasih untuk kalian" Max memberikan senyum terbaiknya kepada gadis gadis yang sudah membantunya tadi. Salah satu gadis itu maju melangkah dan memberikan ponselnya. "Oppa, bisakah aku mendapatkan nomor telfonmu? Daebakk, kamu benar benar mirip seperti Baekhyun Exo. Jadi bisakah aku tahu nomor ponsel milikmu? Setidaknya meski tidak bertemu dengan idola asliku tapi aku bertemu dengan versi kw nya" ucap Gadis itu dengan menggebu gebu.
Max mengeryitkan keningnya sebentar lalu menolehkan kepalanya pada Arini. Arini menatap tajam Max, kalau sampai dia berani memberikan nomor ponselnya kepada gadis itu maka siap siap saja. Arini tidak ingin Via merasa terkhianati oleh siapapun dan itu adalah tugasnya sekarang. "Gimana Oppa?" ucap gadis itu dengan suara yang diimut imutkan. Max meneguk ludahnya ketika melihat tiga orang gadis lainnya juga ikut memberikan ponselnya untuk meminta nomor ponselnya. Sekarang Max benar benar menyesal karena memanfaatkan wajah tampannya. "Maaf ya untuk kalian semua, sebenarnya saya sudah punya pacar. Jadi saya tidak bisa memberikan nomor ponsel kalian. Tapi gimana kalau kalian menggantinya dengan berfoto bersama saya? Saya siap untuk berfoto dengan kalian"
"Kyaaaaaaaaa" keempat gadis tersebut langsung berebut posisi di sebelah Max. Mereka bahkan saling menjambak rambut ketika tempat di samping Max sudah diisi oleh teman yang lainnya. Max ingin mendamaikan mereka tapi nanti ujung ujungnya malah tambah ribet. Max mendengar suara decakan dari seseorang, matanya melotot ketika melihat Arsen yang bersedekap dada sambil menatapnya dengan kasihan. "Ck kasian banget' gumamnya yang juga didengar oleh Max. "Kamu mengasihaniku?' tanya Max sambil menunjukkan tangannya pada dirinya sendiri. "Tidak, aku tidak pernah mengasihani dirimu. Aku hanya kasian pada mereka saja. Memperebutkan seorang pria yang baru saja muntah di pesawat" ledek Arsen sambil terkekeh pelan.
"Dih norak lo, lo gak bisa ngebedain mana cincin palsu dan mana cincin asli. Liat noh" setelah memamerkan cincin Via langsung mengusir mereka semua dari hadapannya dan sekarang Max berhadapan langsung dengan dia. Max langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika melihat Via yang sudah dalam mode on. "Sayang, maaf yah. Tadi mereka hanya niat membantu saja kok tidak lebih" ucap Max dengan tidak menceritakan semuanya.
"Sudah terlambat Mas, Arini sudah memberi tahu semuanya. Dasar playboy cap badak" Arini tertawa geli melihat mereka, dia memilih untuk menyadarkan dirinya di bahu suaminya saja. "Ayo Mas kita pulang, biarkan saja tom and jerry ini ribut disini"
"Ya udah ayo"