
Berita kematian Charles sudah tersebar luas, para wartawan berdatangan ke kantor Arsen hanya untuk menanyakan tentang penyebab kematian Charles pada Arsen. Arsen ditodong dengan berbagai pertanyaan oleh para wartawan. Arsen mengangkat tangannya, mengisyaratkan kepada Dani dan Doni untuk mengusir semua wartawan yang merusak pemandangan matanya itu. Arsen benci dengan wartawan, mereka memanfaatkan orang lain hanya untuk keuntungan mereka sendiri.
"Pak, tolong beri kami keterangan menyangkut kematian pak Charles" Dani dan Doni berusaha menyingkirkan semua wartawan agar Arsen bisa dengan mudahnya masuk ke dalam mobilnya. Arsen merapikan jasnya kemudian ia melangkah masuk ke dalam mobilnya. Hingga salah satu wartawan menghadang mobil Arsen, dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan keterangan yang asli. Puncak kemarahan Arsen sudah tinggi, Arsen menghidupkan mobilnya dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Wartawan itu segera menggulingkan tubuhnya. Hampir saja dia ditabrak oleh Arsen.
Charles ditemukan di halaman kantor yang di atasnya adalah ruangan Arsen, kepala Charles sudah pecah karena jatuh dari ketinggian. Dadanya penuh dengan sayatan, tapi semua orang berpikir itu adalah luka goresan yang tak disengaja. Polisi mengerubungi jenazah Charles, saat akan memindahkan jenazahnya polisi itu menemukan sebuah surat dari tangannya. "Maaf jika kematian saya sangat merepotkan kalian, saya tidak kuat dengan beban hidup saja jadi saya memutuskan untuk bunuh diri"
Polisi 1 dan polisi 2 saling bertatapan. "Sepertinya ini memang bunuh diri, Pak Arsen tidak mungkin membunuh saudaranya sendiri kan. Apalagi pak Charles adalah anak dari pamannya" polisi 2 mengangguk. "Sepertinya begitu, ayo kita bawa dia ke rumah sakit"
.
.
Karena keberhasilan rencana mereka, Arini mentraktir ketiga temannya di kantin. Mereka sangat heboh setelah Arini menceritakan semuanya. Terutama Shila dan Gabriel. Mereka semakin terkejut setelah mendengar kalau Arini menyukai Arsen. "Sekarang lo puas puasin makan, kalian mau makan apa lagi? Semuanya biar gue yang bayar" ucap Arini sambil tersenyum.
Via mengangguk dengan cepat, ia mengangkat tangannya dan memesan tiga mangkok bakso lagi. Via memang pecinta makanan bakso, jadi mumpung gratis Via akan memakan bakso sepuasnya. Lagi pula membelikannya beberapa mangkok bakso tidak akan membuat Arini bangkrut.
"Gue kenyang banget, pengan nambah tapi perut gue udah gak kuat." Gabriel mengelus perut ratanya yang sedikit mengembung karena kenyang. "Gue ke toilet dulu, mau buang air besar" pamit Shila. Via mendengus sambil menatap Shila. "Baru aja lo makan, sekarang malah mau dikeluarin lagi"
Shila menyengir lalu ia berlari ke toilet karena sudah tidak kuat menahan kotorannya
sendiri. Arini hanya menggelengkan kepalanya, hatinya sedang berbunga bunga karena Arsen kemarin. "Terus, Tante lampir itu gimana? Apa Om Arsen udah mutusin dia??" tanya Via sambil menuangkan sambal pada baksonya.
Gabriel juga menunggu jawaban Arini, kelihatan sekali kalau dia juga penasaran. "Belum tahu, tapi Daddy bilang dia hanya pura pura dekat aja." Via mengangguk lalu melahap baksonya bulat bulat.
.
.
Arini baru saja keluar dari kampusnya, matanya menatap kesana kemari mencari keberadaan Daddy nya yang tengah dikerubungi oleh semua wanita yang ada di kampusnya. Arini mendengus kesal ketika Arsen malah membuka kancing bagian atasnya, itu semakin membuat wanita berteriak histeris. Mereka mengagumi betapa indahnya ciptaan tuhan itu.
"Daddy" Arini langsung memanggil Arsen dari kejauhan, dengan segera ia berlari ke arah Arsen dan langsung mengusir semua wanita yang mendekati Daddy nya. "Jauh jauh sana, Daddy Gue gak suka sama kalian, hush hush"
"Huuuuuuuuuuuu" Arini menjulurkan lidahnya pada mereka. Setelah mereka pergi baru lah Arsen menyadari kalau pakaian Arini cukup ketat. Arsen menepuk boko** Arini. "Masih tetap nakal eh"
"Iya hehe, ayo kita pulang Dad." Arsen membukakan pintu mobil untuk Arini kemudian menyuruhnya masuk. Setelah itu ia berputar mengelilingi mobilnya dan masuk menempati kursi kemudinya.
"Boleh, Daddy mau minta apa?" Arsen mengangkat tangan Arini dan mengecupnya. Selama beberapa menit ia mengecup tangan Arini. Membuat wajah Arini semakin panas dan merah. "Jangan dekat dekat dengan Rendi atau pun Langit. Daddy tidak suka berbagi"
Arini tersenyum lalu mengangguk. "Arini akan usahakan, tapi Daddy jangan berharap Arini menjauhi mereka. Mereka sudah seperti kakak bagi Arini, apalagi Langit, dia juga idola Arini." Arsen mengangguk, selama mereka tidak melewati batas Arsen akan membiarkannya. Ia tidak boleh egois, meskipun ingin.
Saat mobil Arsen masuk ke dalam halaman rumahnya, Arini mengangkat sebelah alisnya, ada satu mobil yang tidak dikenalinya dan motor yang sudah tidak asing baginya. Arini tahu motor itu milik Rendi, lalu milik siapa mobil itu? Apa ada tamu di rumahnya?' "Dad, Arini keluar duluan" Arini mencabut sabuk pengamannya dan berlari masuk ke dalam rumah.
.
.
"Aku Rendi, Calon suami dari Arini dan juga calon ayah buat anak anaknya" Rendi menatap Langit dengan sengit, hati Arini saja belum luluh dia malah mendapatkan saingan. "Santai Bro, Gue Langit, Idolanya wanita yang lo anggap calon istrimu itu" Rendi memutar bola matanya, dia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan pria menyebalkan di hadapannya ini. "Nih cowok sok banget, mentang mentang idolanya Arini dia bisa seenaknya datang kesini" batin Rendi.
"Cowok jelek kayak lo gak akan mungkin bisa dapatin Arini, mendingan Gue yang bersama dia. Gue ganteng, Arini cantik mungkin hasil produksi kita nanti akan lebih bagus" batin Langit. Rendi memutuskan tatapannya sambil bersedekap dada dan menatap ke arah lain.
Arini masuk ke dalam rumah, saat ia masuk kedua laki laki itu langsung menoleh padanya. Rendi dan Langit langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Arini. Rendi berada di sebelah kanannya dan langit berada di sebelah kirinya. Arini merasa Dejavu diapit oleh manusia tampan seperti mereka. Andai saja dia lupa jika dia menyukai Arsen, mungkin arini akan oleng pada salah satunya.
"Rin, gue-aku mau ngomong sesuatu sama lo-kamu" ucap
Rendi dan Langit bersamaan. Langit melotot pada Rendi. "Ngapain lo ngikutin gue? Gak kreatif banget sih" Rendi tak menggubrisnya, ia malah menatap Arini dengan terang terangan. "Plizz Rin"
"Gue juga mau ngomong sesuatu sama Lo Rin, gue mau ngajak lo buat nonton konser gue, seminggu lagi gue bakal ngadain konser dan gue mau lo yang pertama kali gue undang dan datang."
"Enggak Rin, kamu harus ikut aku. Aku akan membawamu jalan jalan bersamaku, kamu juga bisa merequest tempatnya. Pokoknya kita bisa bersenang senang selama seharian"
Arini bingung dia harus memilih siapa, Rendi sebagai temannya atau Langit sebagai idolanya. Arini benar benar dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
"Tidak ada yang bisa membawa Arini kemana mana, Arini harus pergi dengan saya minggu depan." Arsen sudah mendengar semuanya, kedua laki laki itu memperebutkan Arini. Dan pastinya ia merasa panas karena dengan semua itu. Arsen menarik Arini hingga terjatuh di pelukannya, kemudian ia menatap Rendi dan Langit satu persatu. "Arini adalah milik Saya, bukan milik kalian"
Rendi dan Langit tidak bisa berkata kata, Arsen benar benar mempunyai pesona karismatik yang kuat, bahkan sanggup membuat kedua laki laki itu tak berkutik. Arsen menunduk dan meletakkan tangannya di bawah lutut Arini, kemudian Arsen menggendong Arini dengan Bridal Style. Dengan sigap Arini mengalungkan tangannya di leher Arsen. Ia takut terjatuh.
"Pergilah"
Arsen mengecup bibir Arini di depan mereka, Arini sangat terkejut apalagi kedua laki laki itu. Mereka membuka mulutnya dengan lebar. Seorang ayah mencium bibir putrinya sendiri? Itu adalah hal yang sangat mustahil bagi mereka? dan sekarang mereka malah melihatnya secara Live.