
Dani sedang bersiul di halaman rumahnya sambil membersihkan mobil pribadinya. Hari ini Arsen memberikan libur untuk semua karyawannya. Tapi sayangnya Arsen hanya memberikan mereka libur satu hari. Karena dia tidak akan membiarkan karyawannya berlarut larut dalam liburan. Dani menggosok mobilnya dengan sabun yang biasa ia pakai untuk mencuci mobil. Suara siulan nya terdengar sampai ke dalam rumah sehingga ibu Dani sendiri sampai mendengarnya. Dengan perlahan lahan ibu Dani keluar menuju halaman rumah. "Tumben kamu mencuci mobil lagi Dan? Bukannya kemarin sudah dicuci kenapa kamu cuci lagi sekarang?" Tanya Ibu dari anak kembar itu. "Ibu seperti tidak tahu Dani saja, dia rajin mencuci mobil cuma biar keliatan rapi di mata tunangannya itu" Doni muncul dari dalam sambil membawa segelas teh manis untuk Rona, ibu dari Dani dan Doni.
Rona menerima teh itu dari tangan Doni kemudian menyuruh Doni untuk duduk di kursi sebelahnya. Rumah Dani dan Doni memang tidak terlalu besar. mereka membeli rumah itu dengan hasil gaji yang diberikan oleh Arsen. Belum lagi bonusnya. Di depan rumah mereka sengaja diberi meja dan kursi yang fungsinya untuk mereka ketika mau ngopi atau minum teh di luar ruangan. Dani mendongakkan kepalanya kemudian berhenti menggosok mobilnya dan menatap ke arah Doni. "Don, ayolah. Harusnya kamu tidak usah bicara seperti itu. Dan lebih baik lagi jika kamu memberikan status yang jelas untuk hubunganmu dengan Gabriel. Doni menghela nafasnya berulang kali. " Sudah berapa kali aku bilang sama kamu. Aku belum siap mendengar penolakan Gabriel. Aku rasa dia menyukai pria lain"
Rona menggelengkan kepalanya lalu dia menepuk bahu Doni. "Nak, mama tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi sebaiknya kamu harus mencoba terlebih dahulu. Kalau kamu sudah tahu hasilnya baru lah kamu bisa memutuskan itu benar atau tidak. Jangan mudah menyerah kalau kamu yakin bisa mendapatkan dia mama juga yakin kalau dia akan bisa bersama kamu" Doni tersenyum dengan tulus, sudah lama dia tidak mendengarkan nasehat ibunya dan, sekarang dia merasakannya lagi. "Tuh dengerin apa kata mama, kamu harus mencoba dulu" Doni mengangguk dan mulai hari ini dia akan berpikir untuk mencoba terlebih dahulu. Urusan diterima atau tidaknya itu adalah urusan belakang. "Yah aku akan mencobanya" Gumamnya pada dirinya sendiri.
.
.
Gabriel masuk kuliah dengan lemas, tidak ada lagi pancaran kebahagiaan di matanya sekarang. Kedua sahabatnya sudah memutuskan untuk menikah dan juga mengambil cuti kuliah sedangkan Shila, dia bahkan sering tidak masuk kuliah. "Sendirian aja nih?" Gabriel mengangkat alis nya dengan bingung ketika melihat Genita kakak tingkat yang selalu mencari masalah dengannya. "Katanya sahabat kok saling meninggalkan itu sahabat macam apa namanya" Gabriel masih tetap diam, tapi itu tidak membuat Genita menyerah dia terus mengucapkan kata kata kotor yang ditujukan pada ketiga sahabatnya. Karena telah menjadi berisik Gabriel langsung menyiapkan cabe yang sudah disediakan di depannya itu kemudian dia menyuapkannya pada Genita langsung.
Genita langsung membulatkan matanya ketika cabe itu masuk ke dalam mulutnya. Lidahnya terasa terbakar karena terlalu pedas. "Ini sudah ketiga kalinya kamu mencari gara gara dengan gue. Dengar nenek lampir walaupun mulut lo busuk tapi setidaknya lo juga harus punya otak biar bisa mikir" Setelah itu Gabriel meninggalkan Genita sendirian di kantin kampus, mood nya langsung rusak ketika ia dihampiri oleh Genita tadi.
.
.
Max memanjat pohon jambu dengan lihainya, Via bilang dia menginginkan jambu yang baru saja dipetik dari pohonnya. Dan oleh sebab itu sekarang dia merelakan dirinya berada di atas pohon selama satu jam. "Udah belum Mas? Aku habis ini mau buat jus jambu jadi tolong cepetan dikit dong" Max mengangguk lalu dia mulai memetik beberapa buah lagi tapi saat Max akan turun matanya menatap horor ke bawah. Max tidak menyadari kalau dirinya manjat terlalu tinggi. "Udah mas ayo turun, ngapain masih di atas pohon" Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tolong panggilkan Arsen dan bilang ada yang butuh bantuannya. " Bantuan apa mas? " Tanya Via dengan polosnya. "Udah panggilkan aja dulu"
"Tolongin mas Max dia nyangkut di pohon jambu dan sekarang gak bisa turun" Ucap Via dengan sekali tarikan nafas. Krik krik krik lama tidak ada suara lalu Via mendengar Arini dan Arsen yang tertawa bersama kemudian setelah itu baru lah Arsen berdiri dan hendak membantu Max. "Kamu tunggu disini dulu ya biarkan aku menyelamatkan monyet pohon jambu dulu" Via hanya berusaha menutupi wajahnya karena malu. Arsen langsung keluar ke halaman belakang rumahnya dan menemukan Max yang sibuk memakan jambu di atas pohon. Arsen hanya menggelengkan kepalanya. Lalu dia mengambilkan tangga untuk Arsen. "Nih tangga buat kamu turun, Via bilang ada monyet yang gak bisa turun kembali jadi gunakanlah tangga ini dengan sebaik mungkin"
Max hanya mendelik karena dirinya disebut monyet oleh Arsen. "Dasar kakak yang tidak berperikemonyetan" Ucapnya sambil menggigit jambu nya untuk terakhir kalinya.
Arsen kembali masuk ke dalam rumah lalu melihat ke arah Via. "Suamimu sudah aman sebentar lagi dia akan muncul" Benar saja apa yang dikatakan Arsen, Max benar benar muncul dengan tiba tiba. "Jambu nya mana? " Tanya Via. Max langsung memberinya satu bungkus plastik yang berisi jambu jambu. "Ini kebanyakan Mas"
"Buat simpanan aja"
"Tapi? "
"Mau aku ngantungin di pohonnya lagi? "
"Enggak"
"Bagus" Jawab Max.