Hot Daddy

Hot Daddy
S. 2. Eps 36 Emosi Aiden pada Rocky



Mobil yang ditumpangi Rei mulai memasuki halaman rumahnya yang luas. Rocky langsung mematikan mesin mobilnya sambil melepaskan sabuk kemudinya dengan benar. Sedangkan Rei dia langsung turun begitu saja tanpa mengucap sepatah kata pun. Rocky membuka pintu mobilnya dan menginjakkan kakinya di tanah halaman rumah Arsen. "Tuan muda, saya sudah menyuruh orang untuk mengantar motor anda kembali kesini.


Mungkin sebentar lagi orang orang itu akan tiba " ucap Rocky dengan bicara formal kepada Rei.


"Baiklah, terima kasih sudah mengantarku pulang. Tapi bukan berarti aku memaafkan apa yang kamu lakukan pada Adikku" Rei bersedekap dada sambil menatap Rocky dengan tatapan nya yang tegas dan tajam.


Rocky terkekeh sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Pada saat itu pandangan Rocky mengarah ke atas. Rocky menunduk sambil tersenyum ketika melihat Aiden yang memandang ke arahnya dari jendela kamarnya yang mengarah langsung pada Rocky. Aiden mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Niatnya untuk menutup jendela segera ia urungkan dan langsung memakai kaosnya dan turun ke bawah.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan muda. Ada hal yang harus saya lakukan sebelum saya kembali ke kantor" pamit Rocky pada Rei. Rei hanya mengangguk tanpa ekspresi, sebenarnya dia masih ingin membicarakan sesuatu pada Rocky tapi Rei pikir ini mungkin bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal itu. Rocky bersiap untuk membuka pintu mobilnya. Tapi sebuah tangan menghentikannya. "Jangan harap kamu bisa lepas dariku setelah apa yang kamu lakukan pada Alea"


Rei langsung membuka matanya dengan lebar ketika melihat Aiden datang dan langsung memberikan sinyal perang pada Rocky. Aiden langsung menarik kerah baju Rocky dan mecengkramnya dengan kuat. "Berani berani nya kamu menyentuh Alea. Aku yang selama ini menjaganya supaya dia tidak disentuh laki laki lain dan kamu malah menyentuhnya. Harga diriku sebagai seorang abang dan saudara kembarnya jatuh begitu aja. Dan ini semua gara gara kamu" Aiden terlihat menekan kata katanya sampai urat di lehernya terlihat. Rocky terdiam, dia hanya menerima luapan emosi Aiden dengan pasrah.


"Bisa kah Tuan muda lepasin saya? Saya akan menjelaskan semuanya pada Tuan Muda" ucap Rocky dengan tegas.


Aiden melepaskannya sambil memberinya sedikit dorongan pada Rocky. Rocky menghela nafasnya.


"Yang pertama, Tuan Muda harus tau ini. Saya menyukai Alea. Bahkan meskipun umur kita terpaut sangat jauh. Saya ingin memilikinya seutuhnya sebagai pasangan hidup saya yang akan menemani saya sampai akhir hayat nanti"


Pandangan Rocky tidak lepas dari Aiden. Rei hanya menyimak pembicaraan mereka dan tidak ikut campur lagi.


"Dan Kedua, Saya tahu mungkin Tuan Muda marah karena melihat Kissmark di leher Alea. Sama seperti Tuan Rei. Maafkan saya Tuan Muda. Saya memang benar melakukan itu, tapi.... "


Aiden tidak bisa menahan amarahnya lagi, tanpa aba aba dia langsung melayangkan pukulan bertubi tubi pada Rocky. Rei maju untuk menghentikan Aiden. "Udah Bang, Udah. Gak semuanya bisa diselesaikan dengan cara yang kasar"


Rei membantu Rocky yang tergeletak di tanah karena Aiden. Rocky bangun dengan tertatih tatih dengan bantuan Rei. Pukulan Aiden sangat kuat sampai dia langsung terjatuh ke tanah. Meskipun dari segi fisik Aiden masih lebih kecil darinya. Tapi kekuatan Aiden hampir sama dengan kekuatan orang dewasa.


Nafas Aiden terengah engah karena emosinya. "KALAU KAMU SAYANG PADA ALEA SEHARUSNYA KAMU MENJAGANYA, DIA MASIH TERLALU KECIL UNTUK KAMU PERLAKUKAN SEPERTI ITU. APA BEGINI CARA KAMU MEMPERLAKUKAN SESEORANG YANG KAMU CINTAI? DENGAN CARA MELECEHKANNYA? "


"ORANG ORANG BERPIKIR MUNGKIN AKU BERSIKAP BERLEBIHAN PADA ADIKKU SENDIRI. TAPI MEREKA SEMUA SALAH. AKU HANYA TERLALU TAKUT KEHILANGAN ALEA. JIKA ADA YANG BERPIKIR AKU MENYUKAI ADIKKU SENDIRI? ITU JUGA SALAH. AKU HANYA GAK MAU KEHILANGAN ALEA SAMA SEPERTI AUNTY VIA KEHILANGAN PUTRINYA OLIV. AKU SELALU PROTEKTIF PADA ALEA KARENA AKU SELALU TAKUT ALEA Diperk*s* SEPERTI TEMANKU DULU"


(Flasback)


Dua tahun lalu,


Hari itu Ada lah Hari kelulusan mereka di sekolah SMP. Semua Siswa SMP merayakannya dengan mengadakan prom night atau pesta kelulusan di malam Hari. Pada saat itu Aiden memang tidak bersama Rei dan Alea. Aiden yang selaku Ketua pelaksana mengelilingi sekolah untuk memastikan acaranya berjalan dengan lancar.


"Den, Gue minta tolong lo taruh kardus itu di gudang. Perut gue sakit banget gue harus ke kamar Mandi" ucap salah satu temen kelas Aiden.


"Makasih Den"


Aiden langsung mengangkat kardus itu dan berjalan ke arah gudang. Gudang sekolah ada di paling pojok, hampir tidak ada yang pernah kesana.


Tapi kali ini Aiden akan kesana untuk menaruh kardus itu. Pada saat Aiden tiba di depan pintu gudang, Aiden mendengar suara wanita sedang merintih kesakitan dan seorang pria yang tertawa. Suara itu berasal dari dalam gudang. Aiden langsung menjatuhkan kardus itu dan mendobrak pintu gudang itu.


Betapa kagetnya Aiden ketika melihat seorang siswi dengan keadaan tidak berbusana sedang digagahi oleh pria tua yang notabene Adalah kepala sekolah mereka. Keadaan siswi itu sangat menyedihkan, darah di pahanya yang terus mengalir karena perbuatan pria tua itu "Dasar bajing**"


Segala umpatan Aiden keluarkan dari mulutnya sambil menghajar kepala sekolahnya itu. "Dasar kepala sekolah sampah, berani berani nya kau memperk*s* muridmu sendiri"


Kepala sekolah itu masih sempat tertawa. "Aku tidak peduli yang penting Aku sudah mendapat keperawanannya"


"Hiks.... Hiks.... " Mendengar suara itu Aiden langsung menoleh. Dan dia lebih terkejut ketika mengetahui siapa siswi itu.


"Aiden"


"Nana? "


"Tolong aku Den, sakitttttt"


Aiden langsung mengambil tongkat bisboll dan memukulkannya pada kepala Kepala sekolahnya sehingga mengeluarkan darah yang sangat banyak"


Aiden langsung membuka seragamnyadan menutupi tubuh Nana dengan itu. Dia juga mengambil Gorden yang ada dalam gudang itu untuk membawa Nana keluar.


"Aku pastikan kau akan membusuk di penjara" ucap Aiden pada pria tua itu sebelum keluar dari Gudang.


(Flasback Off)


Aiden meneteskan air matanya, mata yang biasanya terlihat tangguh sekarang tidak lagi. "Aku... Aku belum siap melihat Alea bersama orang lain. Aku tidak mau kejadian yang menimpa Nana harus terjadi pada Alea"


Dari kejauhan dua orang saling memeluk Satu sama lain. Arini memeluk Alea dengan erat. Seandainya mereka tidak keluar mungkin mereka tidak akan pernah tahu cerita Aiden selama ini.


"Alea sangat merasa bersalah Mom sama Abang"


Arini tersenyum sambil mengelus rambut Alea. "Tenyata ini yang selalu kau pikirkan nak"