
Pesawat Air garuda baru saja tiba di indonesia. setelah mendengar kabar Arini melahirkan Garda dan Mila memutuskan untuk langsung terbang ke indonesia. Mereka harus meninggalkan pekerjaannya untuk sementara waktu demi melihat cucu cucunya. Dengan dijemput oleh Supirnya Arsen, Garda dan Mila langsung dibawa ke rumah sakit. Arini memang masih berada di rumah sakit, Arsen tidak mengizinkan Arini pulang ke rumah sebelum keadaannya benar benar pulih. Sedangkan untuk pekerjaannya di kantor Arsen memang selalu membagi waktu agar bisa menemani Arini di rumah sakit. Arsen pulang pergi dari kantor langsung menuju ke rumah sakit. Seperti sekarang ini, Arsen masuk ke dalam ruangan Arini dengan penampilannya yang sudah acak acakan. Arsen langsung melepas dasi yang mencekiknya kemudian langsung mendekati Arini. "Anak anak sudah tidur?" tanya Arsen pada Arini dengan lembut.
"Sudah, cuma Alea yang belum tidur" jawab Arini sambil melihat Alea yang sekarang berada di dekapannya. Arsen menarik kursi kemudian duduk sambil melihat putri bungsunya. "Katanya Mama sama Papa sudah tiba di indonesia? Kamu gak mau jemput Mas?" tanya Arini sambil menatap ke arah suaminya itu. "Enggak, cuma supir yang jemput mereka. Selebihnya nanti Max yang menyambut mereka" jawab Arsen dengan singkat. Arini mengangguk lalu dia kembali melihat Alea. Arini mencium pipi gembul Alea dengan gemas. Demi apapun Alea sangat cantik. Kulitnya yang putih bersih dengan pipinya yang terlihat gembul. "Alea itu cantik sama seperti kamu tapi sepertinya Alea tidak akan mewarisi sifat kamu yang manja, nakal dan liar" ucap Arsen sambil terkekeh geli. "Aku berharap suatu saat Alea benar benar dijaga oleh Aiden dan Rei. Alea adalah anak perempuan kita satu satunya. Aku tidak ingin Alea dirusak oleh pria yang tidak bertanggung jawab. Aku tidak ingin Alea sepertiku" jawab Arini.
Arsen paham apa yang dimaksud Arini tapi dia hanya diam saja. Itu semua sudah masa lalu sekarang mereka sudah bahagia dengan masa depan yang sekarang. Mempunyai tiga anak kembar membuat mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia. "Oeekkk Oeekkk Oeeeekk" belum sempat mereka berbicara lagi, bayi kedua mereka bangun dan menangis. Arsen langsung mengambil Rei dari Box bayinya kemudian menggendongnya. "Jagoan Daddy kok nangis, jangan nangis dong" ucap Arsen sambil menimang Rei dengan pelan. Arini melihat itu semua dengan senyum yang terukir di wajahnya. "Eh sebentar kok tangan Daddy basah?" Arsen langsung mengecek kain yang dipakai Rei yang ternyata basah juga. "Rei kamu ngompolin Daddy?" Arsen menatap Rei dengan tidak percaya, yang benar saja Rei baru saja mengompol pada dirinya. Pantas saja sekarang Rei berhenti menangis ternyata dia menangis karena ngompol. Arini terkikik geli melihat reaksi Arsen pada Rei.
"Itu tandanya Rei sayang sama kamu Mas, masih untung dia gak pup di tangan Mas" setelah Arini mengatakan itu Rei yang berada di gendongan Arsen langsung tersenyum khas bayi. "Malah tertawa, liat nih gara gara kamu tangan Daddy basah" Rei semakin melebarkan senyumnya sambil matanya melihat ke wajah sang Daddy. "Alea anak kesayangan Mommy nanti kalau mau ngompol sama Daddy aja yah biar sekalian" Arini langsung tertawa geli melihat kedipan mata putrinya itu, dia seakan akan mengiyakan apa yang dikatakan Arini. "Jangan ngajarin Alea seperti itu sayang, ya sudah aku mau panggilin suster dulu buat gantiin kain bedongnya. Aku masih belum bisa membedong bayi" ucap Arsen lalu bergegas pergi keluar dengan membawa Rei bersamanya.
Tak lama setelah Arsen keluar, tiba tiba seseorang membuka pintu ruangannya lagi. Arini mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang datang. "Mama? Papa?" Arini tersenyum senang setelah tahu siapa yang datang. Garda dan Mila langsung menghampiri Arini. "Gimana kabar kamu sayang? Kamu baik baik saja kan. Maafkan mama sama papa karena tidak bisa datang di hari kamu melahirkan" ucap Mila. Arini tersenyum lalu mengangguk. "Tidak apa apa Ma, Arini ngerti kok" Garda memilih untuk melihat Aiden yang ternyata sudah bangun tidur. Meskipun begitu Aiden tidak pernah rewel seperti adik adiknya.
"Nama yang bagus, Mama boleh gendong Aiden?" tanya Mila pada Arini. Arini langsung mengangguk saja dan membiarkan Mila menggendong Aiden. "Duh cucu Oma ternyata ganteng sekali ya" ucap Mila. Tapi Aiden hanya menatap lurus padanya dan tidak terlalu merespon. Mila dan Garda saling berpandangan melihat reaksi Aiden tadi. "Benar benar duplikat Arsen waktu kecil" ucap Mila sambil memandangi Aiden. "Dulu suami kamu pas masih bayi juga sama seperti Aiden, dia tidak pernah merespon setiap kali mama becandain. Tatapannya begitu begitu saja"
"Aku juga menyadarinya Ma, Aiden memang yang paling berbeda dari adik adiknya. Dia tidak pernah rewel. Berbeda dengan Rei yang masih bisa rewel meskipun tidak serewel Alea"
"Dimana Arsen?" tanya Garda.
"Lagi keluar sebentar sama Rei pa sebentar lagi mungkin mereka akan balik" jawab Arini yang diangguki oleh Garda.