Hot Daddy

Hot Daddy
Gabriel



Hari pertama tanpa Arsen, Arini benar benar tidak bisa tidur nyenyak. Dia terus menyalakan ponselnya dan mengecek apakah ada kabar dari Arsen atau belum. Tapi sampai saat ini Arsen masih belum mengabarinya. Arini tidak bisa tidur, dia kemudian membuka whatsapp nya dan membuat panggilan Video dengan Gabriel. Lama sudah berdering akhirnya panggilannya diangkat juga. Layar ponselnya memperlihatkan wajah Gabriel yang sudah dioleskan masker wajah. "Ya ampun Gabriel, udah jam dua belas malam lo masih maskeran wajah?" heran Arini. Gabriel memperbaiki posisi ponselnya menjadi menghadap ke arahnya. "Gue lupa cuci muka tadi gara gara ketiduran, untung aja lo bangunin gue sekarang. And by the way ada apa lo nelfon malem malem gini? Tumben banget"


Arini mengerucutkan bibirnya ketika dia teringat kalau satu minggu ke depan dia tidak akan tidur bersama Arsen. "Suami gue lagi ke luar kota, gue kesepian banget disini. Ini pertama kalinya gue ditinggal jauh sama suami gue." Arini menyampaikan keluh kesahnya pada Gabriel. Dia tahu meskipun Gabriel tidak menatap layar ponselnya tapi Gabriel mendengarkannya. "Cuma seminggu doang kan? Itu kan gak lama Rin. Lo harus bisa sabar dikit dong. Lagian om Arsen pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan kan."


"Iya sih, tapi tetap aja Gab" Gabriel memutar bola matanya dengan malas. Lalu tiba tiba Gabriel seolah menemukan topik yang hangat untuk diobrolin mereka berdua. "Eh Rin, lo udah tau belom kalau Shila udah punya pacar" ucap Gabriel. Kali ini Gabriel benar benar melihat ke layar ponselnya. Arini sangat tertarik mendengar Gabriel mengatakan hal itu. "Gue udah tau, dia pacaran sama Dani kan? Anak buah suami gue itu" Gabriel mengacungkan jempolnya. "Eh tapi Rin, Kak Dani kan ganteng tuh? Apalagi kembarannya. Kenalin dong Rin biar sekali kali gitu" ucap Gabriel sambil menyengir dengan menunjukkan gigi gingsulnya.


Arini menggelengkan kepalanya tapi perkataan Gabriel membuat dia berpikir. Kalau seandainya Arini bisa membantunya pasti sahabat ngenesnya itu bisa dapat pacar juga. Kan lumayan di antara mereka tidak ada yang jomblo lagi. Memikirkan hal itu terasa sangat menyenangkan bagi Arini. "Gimana Rin? Boleh ya ya ya? Arini cintaku, sahabatku yang paling baik kesayangan Hot daddy nya emak emak"


"Heh? Enak aja hot Daddy kesayangan emak emak, Mas Arsen itu cuma milik gue doang. Dan gue gak mau berbagi sama siapapun. Apalagi buat kaum emak emak" Arini melototkan matanya pada Gabriel yang membuat Gabriel langsung tertawa. "Canda lah Rin, tapi plis ya bantuin gue buat deket sama kembarannya pacar Shila tuh." Arini tersenyum licik lalu dia mengangkat ponselnya dan memperlihatkan wajahnya secara jelas. "Oke, gue bakal bantu lo" Wajah Gabriel langsung berubah, dia semakin melebarkan senyumnya. "Tapi untuk hal ini gue harus minta izin Mas Arsen dulu, takutnya dia salah paham lagi"


Sedangkan di kamar Max, Max juga melakukan hal yang sama seperti yang Arini lakukan tadi. Dia melakukan panggilan video bersama kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Via. Tunangan sekaligus calon istrinya. Max sudah melamar Via kepada keluarganya, dan keluarga Via juga sangat menerima dirinya. Bahkan sekarang mereka sudah menganggap Max sebagai keluarga mereka sendiri. "Sayang, kok belum tidur?" tanya Max pada Via yang menumpu kepalanya di atas guling dengan wajah cemberutnya. "Belom ngantuk Mas, kamu sendiri kenapa belum tidur mas? besok kan kamu kerja, awas aja kalau besok sampai bangun kesiangan"


Max mengancingkan kembali baju tidurnya kemudian dia fokus melihat ke layar ponsel"


"Aku belum bisa tidur, ya udah sekarang kamu tidur gih udah malem juga." Via mengangguk kemudian dia memiringkan ponselnya dan mengambil posisi untuk tidur. Sudah menjadi kebiasaan baginya kalau tidur harus ditemani Max. Meskipun lewat video call tapi itu sudah cukup bagi Via. "Good night Mas" ucap Via.


"Good Night Dear"