Hot Daddy

Hot Daddy
Aiden dan Rei



Arini kembali ke ruangan Arsen dengan pikiran yang masih tertuju pada Shena. Ternyata dia berpikiran salah tentang Shena. Shena bukan tipe tipe wanita pelakor. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Shena dan Arsen sehingga Arsen harus menggantikan ponsel Shena dengan uang. Arini menggelengkan kepalanya, dia tidak mau berpikiran negatif pada Arsen. Dia harus percaya. Arini membuka kembali pintu ruangan Arsen dan sekarang dia melihat Arsen yang sedang menggendong Alea sambil menandatangani berkas. Arsen sambil menggoyangkan kursinya agar Alea yang ada di dekapannya merasa nyaman. "Alea aku aja yang gendong Mas kamu lanjutin aja pekerjaannya" ucap Arini. Arsen mendongakkan kepalanya kemudian melihat wajah Arini. "Biarkan Alea bersamaku, kamu beri Aiden dan Rei Asi. Jangan nunggu mereka kehausan dulu baru kamu kasih asi" jawab Arsen. Arini mengangguk kemudian dia mengunci pintu ruangan Arsen dengan remot yang biasa Arsen gunakan. Arini mengambil Rei terlebih dahulu. Entah kenapa dari dua saudaranya itu Rei jarang menonjolkan dirinya sendiri. Dia terlalu anteng. Arini juga tidak bisa menebak sifat Rei ketika dewasa nanti. "Rei sama Mommy dulu ya, minum dulu sayang" Arini memberikan dadanya pada Rei yang langsung diterima dengan baik.


Rei meminum Asi Arini sambil terus melihat wajah Arini. Bahkan ketika Arini tidak melihatnya dia terus melihat wajah sang Mommy. Aiden menoleh pada Rei. Tangan Aiden menyentuh kasur empuk dalam Box nya.  


Aiden membuka tangannya kemudian menutupnya kembali. Dia melakukannya selama beberapa kali. Hingga akhirnya perhatian Arini langsung mengarah pada Aiden. "Aiden kenapa? Mau minum juga? Bentar ya gantian sama Rei dulu" Rei semakin mempercepat minum Asi nya. Dia seolah olah tidak ingin berbagi Arini dengan Aiden. Terlihat sekali disini kalau Rei sepertinya akan dekat dengan Arini dibandingkan Arsen sebagai ayahnya. "Aduh pelan pelan sayang" Ringis Arini ketika Rei terus mengeny** dengan cepat.    


Lain halnya dengan Aiden dan Rei, Alea masih tenang dalam dekapan Arsen. Dia tidak bergerak sama sekali. Alea hanya diam sambil matanya memandangi semua ruangan. Arsen sesekali mencium pipi gembul Alea. Pekerjaannya semakin ringan ketika dia bersama Alea. Karena ketika Arsen lelah dia cukup melihat wajah cantik putrinya. "Alea belum tidur Mas?" tanya Arini pada Arsen. "Belum, Aiden sama Rei gimana?" Arsen menyelesaikan tanda tangan terakhirnya kemudian merapikan semuanya dengan tangan kirinya. Arsen memutar kursinya hingga berhadapan dengan Arini yang duduk di sofa bersama Rei. Sedangkan Aiden dia masih di Box bayi. "Rei masih belum mau berhenti sedangkan Aiden dia sepertinya sudah haus sekali"


"Iya Mas benar, kadang kalau Mas ke kantor aku kan gak bisa menangani semuanya mungkin itu bukan ide yang buruk"


"Ya sudah sebaiknya kita makan siang dulu. Aku pesan makanan dulu kamu tunggu disini sebentar" Arsen membuka pintu kembali dengan remotnya kemudian keluar bersama Alea. Hal pertama yang Arsen cari adalah Rocky. Karena sepertinya dia ingin memberikan tugas lagi untuk Rocky. Rocky melihat Arsen dari kejauhan dia langsung menghampiri Arsen kemudian menundukkan kepalanya saat sudah di depan Arsen. "Bapak mencari saya?" tanya Rocky. Arsen langsung memandang Rocky kemudian dia mengambil dompetnya.


Arsen mengambil satu kartu kreditnya kemudian memberikannya pada Rocky."Tolong kamu belikan makanan di restoran biasa tempat kita ketemu Klien dulu. Saya tunggu dalam waktu dua puluh menit" Arsen memberukan kartunya kemudian menepuk bahu Rocky dan kembali lagi ke dalam ruangannya. Rocky hanya tercengang di tempat bagaimana bisa dia menempuh perjalanan yang harusnya empat puluh lima menit dalam waktu dua puluh menit. Arsen benar benar mengujinya. Dengan cepat Rocky langsung mengambil kunci mobilnya. Kemudian melenggeng pergi untuk menjalankan tugas dari Arsen.