
Beruntung saja Via dan yang lainnya keburu menyusulnya, setidaknya Arini tidak perlu mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Rendi. "Maaf Ren, mereka sudah menungguku. Aku pergi duluan" setelah mengambil kartu kreditnya kembali dengan tergesa gesa Arini berjalan meninggalkan Rendi dan Langit kemudian menghampiri teman temannya. "Lo kenapa sih? Jalannya buru buru amat kayak mau dikejar setan aja" heran Gabriel ketika Arini langsung menarik lengan mereka keluar dari cafe itu. "Bukan setan, ini malah lebih menyeramkan dari setan" jawab Arini kemudian kepalanya menoleh ke belakang dan memastikan Rendi dan Langit tidak mengikutinya.
"Apa sih, perasaan gue liat cuma ada Kak Rendi sama Langit doang. Kalau mereka lo bilang menyeramkan berarti mata lo katarak" sahut Shila sambil membuang permen karetnya yang sudah hilang rasa manisnya. Via menatap Arini dengan tatapan menyelidik, sepertinya Arini tengah menyembunyikan sesuatu dari mereka. Memang diantara teman teman lainnya Via lah yang paling peka jika Arini dalam masalah. "Stop stop dulu, sekarang lo cerita sama kita. Lo tadi jalan buru buru kesannya menghindar kak Rendi sama Langit, kenapa emang?"
Arini berhenti berjalan lalu menatap wajah Via, sudah ia duga kalau Via akan peka secepat ini. "Ayo masuk mobil gue dulu nanti gue ceritain di dalam. Gue gak mau kalau mereka sampe denger apa yang diomongin gue" Shila dan Gabriel mengangguk setuju, mereka langsung masuk ke dalam mobil Arini. Setelah itu disusul oleh Arini. "Nah sekarang sudah ada di dalam mobil, ayo cepat cerita" desak Shila pada Arini dengan penasaran. Arini mengangguk lalu mulai menceritakan semuanya mulai dari keanehan yang ia pikir karena Rendi dan Langit tiba tiba saja menjadi teman dekat sedangkan Arini tahu kalau Rendi tidak menyukai langit.
Dan keanehan kedua yang ia rasakan adalah mereka mengajak Arini ke suatu tempat secara bersamaan, Arini curiga pada keduanya. Tidak mungkin mereka tiba tiba akur begini, pasti ada alasannya. "Jadi begitu, Gue gak mau dibodoh bodohi mereka dulu. Gue liat tatapan Rendi udah beda dari yang dulu. Kalau dulu dia biasa saja sekarang di matanya itu kek menunjukkan kalau dia punya ambisi gitu. Maka dari itu gue beruntung karena lo semua keburu menyusul gue sehingga gue gak perlu lagi mencari alasan untuk menghindari mereka"
"Tapi lo ada benarnya juga sih Rin, belakangan ini kan Kak Rendi udah mulai menjauh dari lo tapi kenapa sekarang dia deketin lo lagi? Bukannya itu aneh namanya" ucap Gabriel pada Arini. "Iya juga ya, kok gue baru ngeh sekarang sih kalau Kak Rendi jauhin Arini" sahut Shila. Arini masih pusing dengan masalah Angel sekarang ditambah lagi dengan Rendi. Untung saja kepalanya tidak meledak. "Bodo ah, yok cabut. Katanya mau shoping."
"Kuy"
"Baiklah, saya akan menyediakan tempat baru untuk itu. Tetap jaga keamanan jangan sampai lengah. Apa selama saya tidak ada disini Klan ada masalah?" tanya Arsen pada mereka. Mereka semua saling berpandangan satu sama lain sepertinya menunggu persetujuan untuk membicarakannya dengan Arsen. "Maaf tuan, Klan kita masih aman tapi itu tidak menghentikan kalau Klan Vercigo tidak akan menyerang kita. Dua hari yang lalu Anak buah Dari Klan Vercigo datang dan seperti memberi peringatan kepada tuan. Tuan bisa lihat sendiri" Orang itu bertepuk tangannya tiga kali sehingga ada seseorang yang membawa sesuatu untuknya. Willy mengambil kotak misterius itu dan memberikannya pada Arsen. "Ini tuan"
Dengan cepat Arsen langsung membuka kotakĀ itu, di dalamnya terdapat sebuah pisau berwarna darah, bahkan darahnya pun terlihat masih sangat segar. Dalam dunia hitam warna merah melambangkan kematian. "Darah? Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaanku waktu itu?" batin Arsen. Arsen mengangkat pisau itu dan menemukan sesuatu lagi, Tanduk sapi ya Arsen yakin itu adalah tanduk sapi. Tangannya mengepal dengan kuat, ia yakin orang yang mengirim kotak ini adalah orang yang sama dengan pelaku penyebab ia kecelakaan mobil. "Sekarang juga kalian umumkan pada yang lain, tiga hari lagi kita akan melakukan penyerangan. Siapkan semua senjata yang diperlukan. Dan kamu Vernon, kali ini saya berharap kamu memberikan strategi yang terbaik"
"Tentu tuan, saya pasti akan melakukannya dengan baik. Saya tidak akan menghancurkan kepercayaan tuan" jawan Vernon sambil menunduk dengan hormat. Arsen mengangguk. Lalu ia kembali melihat dua benda di tangannya itu. Pisau berlumuran darah dengan tanduk sapi. "Dia tidak tahu saja berhadapan dengan siapa, berani beraninya mengirim barang sampah seperti ini"
Bagi Arsen kedua benda itu tidak ada apa apanya, justru itu adalah sebuah penghinaan bagi seorang Mafia. Kalau lawannya mengirim satu kali serangan maka Aerio atau Arsen akan membalasnya dengan seribu serangan. Arsen tersenyum smirk di balik topeng khasnya itu, cepat atau lambat ia pasti akan menyerang Klan sampah itu. Arsen tidak suka diusik, ia lebih suka mengusik. Dan barang siapa yang mengusik Arsen maka sepertinya dia hilang akal. Karena Arsen tidak akan memberi ampunan kepada orang itu.