
Sejauh ini Ririn masih belum mendapatkan kabar dari pria itu. Dia sudah menunggunya selama dua hari tapi tetap saja tidak ada kabar atau pesan yang masuk di ponselnya. "Ahhh kalau gini ceritanya nyesel aku ngasih dia cd itu, padahal cd itu adalah satu satunya hal yang penting untuk menghancurkan keluarga mereka" Ririn mondar mandir di kamarnya dengan tak karuan. Tiba tiba ia dikagetkan dengan suara pecahan kaca di bawah. Dengan tergesa gesa Ririn langsung turun ke bawah untuk mengecek ada apa di sana. Setibanya di lantai bawah, Ririn melihat pecahan kaca dimana mana dan itu dari kaca yang memang sengaja dibuat untuk pencahayaan matahari tapi sekarang semuanya sudah pecah. Ririn menemukan sebuah batu besar dengan kertas yang tertempel di atasnya.
Dengan cepat Ririn langsung mengambil kertas itu kemudian membukanya dan membacanya. "Hilang kehormatan atau hilang nyawa" Ririn mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan maksud pesan itu. Padahal disitu sudah tertulis dengan jelas. "Ini pasti kerjaan orang iseng nih, tapi seiseng isengnya orang harusnya dia gak sampe mecahin kaca juga kali" sewot Ririn. Daripada dia memikirkan kertas yang tidak berguna itu lebih baik Ririn membersihkan pecahan kacanya itu. Sedangkan di dalam sebuah mobil, seorang pria misterius terlihat sedang menelfon seseorang. "Tuan, dia sudah membaca suratnya" ucapnya.
"Bagus, terus pantau dia. Jangan sampai dia lolos dari genggaman kita" jawab pria di balik telfon. "Baik tuan" jawabnya lagi. Setelah itu dia mematikan ponselnya dan sekali lagi melihat ke arah rumah Ririn, dia menyunggingkan senyum misteriusnya dan kembali menjalankan mobilnya. Sedangkan di tempat lain, Arsen memainkan puntung rokoknya di dalam ruangannya, dia baru saja selesai menelfon anak buahnya. Sudah lama sekali Arsen tidak menyentuh darah dan sekarang sepertinya ada yang rela memberinya darah secara gratis. Pintu ruangan Arsen diketuk dari luar, Arsen langsung membuang rokoknya dengan cepat kemudian dia mengambil sikap seperti sedang memeriksa berkas penting.
"Mas, aku masuk ya" ucap Arini di balik pintu. "Iya masuk aja" jawab Arsen. Setelah itu pintu pun terbuka dan memperlihatkan Arini yang sedang membawa sesuatu di tangannya. Arini berjalan menghampiri Arsen sambil tersenyum ke arahnya. "Kenapa senyum senyum?" tanya Arsen dengan bingung. Arini menggelengkan kepalanya kemudian dia memberikan sesuatu pada Arsen. "Apa ini?" Yang sekarang ada di tangan Arsen adalah sebuah pil kecil yang bentuknya agak bulat dan Arsen tidak tahu itu adalah pil apa dan kenapa Arini memberikan itu padanya. "Itu pil vitamin Mas, minum gih. Jangan pikir Mas bisa berbohong sama aku ya, aku tahu tadi mas ngerokok lagi"
"Jangan bergerak okeyy, mas mau melanjutkan pekerjaan dulu" Arini tidak mengangguk juga tidak menolak, dia membuka ponselnya sambil berbalas chat dengan teman temannya. Tapi yang aneh adalah, hari ini di grup chat tidak ada Via. Biasanya Via adalah orang yang paling rajin berbalas chat di grup mereka. Tapi sekarang Via malah terlihat seperti sudah hilang ditelan bumi. "Kemana sih nih anak, tumben tumbenan dia gak aktif di grup chat" guman Arini yang sempet didengar oleh Arsen juga. "Kenapa sayang?" tanya Arsen. "Ini loh Mas, biasanya kan Via itu paling aktif kalau di grup chat kita tapi sekarang dia gak ikut nimbrung sama sekali padahal biasanya Via gak pernah seperti ini" Arini terus menscroll layar ponselnya dan menunjukkannya pada Arsen
"Max pasti terlambat" batin Arsen. Tapi dia kembali fokus pada pekerjaannya kalau tidak Arini pasti akan semakin menyiksanya. Dari tadi junior nya sudah ingin bangkit tapi tertahan oleh benda empuk itu. "Keras banget sih Mas" ucap Arini dengan spontan. "Makanya diam dulu jangan gerak gerak, biarkan aku menyelesaikan pekerjaan dulu. Setelah ini kamu tidak bisa lepas dariku" Arini memutar bola matanya dengan malas. "Dasar mesum"